Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Januari, 2008

{Silakan cek juga: http://trisetyarso.wordpress.com/2008/02/02/belajar-beneran-ala-jepang/}

Ketika pertama kali menyaksikan video ini, saya sampai dibuat mengeluarkan air mata …

Ayo kawan, bertahanlah … pasti engkau kuat untuk menahan …

(Mode ON: BECANDA …)

Read Full Post »

Bagi saya, salah satu speaker yang sangat dahsyat di TQC 2008 adalah Prof. Cirac dari Max Planck

Papernya berjudul: “Topology in Quantum States PEPS and Beyond

Read Full Post »

Video Penghilang Penat

Read Full Post »

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيۡهِ رَٲجِعُونَ

Innalillahi wa inna ilaihi rajiuun … telah berpulang ke rahmatullah Bapak Presiden Soeharto.

Semoga arwahnya diterima disisi-Nya.

Sampai detik ini dan dikemudian hari, pasti bangsa ini tak akan selesai berhenti berdebat; apakah Soeharto pecundang atau pahlawan? Masuk neraka atau surga? Mana yang benar: Bung Karno atau Pak Harto?

Sebagai alternatif, saya mengajak kita semua sedikit belajar ke episode terakhir dari “STAR WARS”; ternyata baik Ben Kenobi dan Anakin Skywalker keduanya “masuk surga” ketika Luke Skywalker melihat penampakan keduanya dengan tersenyum gembira.

Ya!

Untuk kasus di Indonesia, Bung Karno adalah ibarat Ben Kenobi, yang memiliki murid baik yaitu Suharto ibarat Anakin Skywalker.

Suharto adalah murid yang baik hati dan sangat pintar … tapi akhirnya terjerumus dalam jebakan “Darkside”.

Pertanyaan selanjutnya:

Siapakah “Darkside” atau Sith Lord dalam kehidupan riil?

Siapakah kelompok yang berambisi ingin menguasai dunia ini?

Tidak lain, tidak bukan adalah gerakan freemason, yang salah satu tangannya adalah IMF, Bank Dunia dkk.

Merekalah Sith Lord dalam kehidupan nyata.

Merekalah dibalik kejahatan seorang Suharto dkk; Suharto dkk dapat dipandang hanya sebagai korban dari jebakan “Sith Lord”, yaitu IMF dkk. Mereka inilah kelompok sebenar-benarnya yang ingin melihat Indonesia hancur.

(Ketika Pak Harto tertunduk kalah melawan IMF, itu ibarat puncak eksploitasi Sith Lord terhadap Darth Vader …)

Mereka inilah dibalik penghancuran Indonesia: kemiskinan, pengangguran, pembodohan … bahkan sampai dengan krisis kedele …

Tidak percaya?

Silakan simak video-video berikut:

Sumber: http://www.youtube.com/user/dimazbaim

Ratusan tahun lamanya, Indonesia dihisap oleh negara-negara utara; tidak hanya Indonesia, semua negara-negara kulit berwarna, sehingga barat menjadi kuat, menjadi makmur, menguasai keuangan dan perdagangan sampai sekarang. Sekarang didikte oleh IMF, oleh Bank Dunia. Negeri yang begini kaya dirubah menjadi negara pengemis, sekarang. Karena tidak adanya karakter pada elit …(Pramoedya Ananta Toer)

Globalisasi menimbulkan hutang dan hutang melahirkan kesengsaraan, pengangguran, krisis, privatisasi (banyak perusahaan negara diprivatisasi), akibatnya rakyat harus membayar mahal untuk kesehatan dan pendidikan.

Semua ini tidak terjadi begitu saja. Semua ini diciptakan …

Pemerintah sebagaimana disarankan oleh IMF telah mulai mencabut banyak subsidi bukan saja terhadap minyak dan listrik, tapi juga air, pendidikan serta pertanian … (Dita Sari)

Read Full Post »

Sejarah mencatat, Jerusalem beralih ke tangan kepada kepemimpinan Islam tanpa pertumpahan darah, sebagaimana dituliskan di wikipedia:

http://en.wikipedia.org/wiki/Umar_ibn_al-Khattab

In 637, after a prolonged siege of Jerusalem, the Muslims finally entered the city peacefully following the signing of a treaty by the Patraich of Elya Al-Quds (i.e. Jerusalem) and Umar himself. Several years earlier, the Patriach had announced that he would not sign a treaty with anyone other than the Caliph himself. For this reason, `Umar personally came to Jerusalem after Muslims had established control of all the surrounding territory. According to both Muslim and Christian accounts, `Umar entered the city humbly, walking beside a donkey upon which his servant was sitting. He is said to have been given the keys to the city by the Orthodox Christian Patriarch Sophronius, after conducting the peace treaty known as the Treaty of Umar, the English translation of which is provided below:

In the name of Allah, the Most Merciful, the Beneficent.This is what the slave of Allah, Umar b.Al-Khattab, the Amir of the believers, has offered the people of Illyaa’[1] of security granting them Amaan (protection) for their selves, their money, their churches, their children, their lowly and their innocent, and the remainder of their people.Their churches are not to be taken, nor are they to be destroyed, nor are they to be degraded or belittled, neither are their crosses or their money, and they are not to be forced to change their religion, nor is any one of them to be harmed.

No Jews are to live with them in Illyaa’ and it is required of the people of Illyaa’ to pay the Jizya, like the people of the cities. It is also required of them to remove the Romans from the land; and whoever amongst the people of Illyaa’ that wishes to depart with their money together with the Romans, leaving their trading goods and children behind, then they selves, their trading goods and their children are secure until they reach their destination.

Upon what is in this book is the word of Allah, the covenant of His Messenger, of the Khulafaa’ and of the believers if they (the people of Illyaa’) gave what was required of them of Jizya.

The witnesses upon this were Khalid ibn Al-Walid, ‘Amr ibn al-‘As, Abdur Rahman bin Awf and Muawiyah ibn Abi Sufyan. Written and passed on the 15th year (after Hijrah)

Then Umar asked the Patriach to lead him to the place of the old Jewish Temple. Umar was shocked to find the site covered in rubbish, as the Romans had initiated the custom of using it as a dung heap. `Umar imemdiately knelt down immediately, and began to clear the area with his hands. When the Muslims saw what he was doing, they followed his example, and soon the entire area of al-Aqsa, approximately 35 acres, was cleaned up. Thereafter, commissioned the construction of a wooden mosque on the southern end of the site, exactly where the present-day mosque of Al-Aqsa stands. `Umar was then led to the sites of the Foundation Stone by a rabbi, Ka’ab al-Ahbar, who had converted to Islam. The rock was surrounded it by a fence, and several years later an Umayyad Khalif built the Dome of the Rock over the site.

Upon taking Jerusalem, `Umar demonstrated the utmost respect for members of the other faiths living in the city. For the first time in 500 years since their expulsion from the Holy Land, Jews were allowed to practice their religion freely and live in the vicinity of Jerusalem. According to the Encyclopedia Judaica, seventy Jewish families took up residence in the city. `Umar also agreed to several pacts, called the Umariyya Covenant, with the local Christian population, determining their rights and obligations under Muslim rule.

As a conqueror, `Umar undertook many administrative reforms and closely oversaw public policy. He established an advanced administration for the newly conquered lands, including several new ministries and bureaucracies, and ordered a census of all the Muslim territories. During his rule, the garrison cities (amsar) of Basra and Kufa were founded or expanded. In 638, he extended and renovated the Grand Mosque in Mecca and the Mosque of the Prophet in Medina. He also began the process of codifying Islamic law. At the same time, `Umar also ordered the expulsion of the Christian and Jewish communities of Najran and Khaibar and forbade non-Muslims to reside in the Hijaz for longer than three days. (G. Levi DellaVida and M. Bonner, Encyclopedia of Islam, and Madelung, The Succession to Prophet Muhammad (Peace Be Upon Him), p. 74)

As a leader, `Umar was known for his simple, austere lifestyle. Rather than adopt the pomp and display affected by the rulers of the time, he continued to live much as he had when Muslims were poor and persecuted. In 639, his fourth year as caliph and the seventeenth year 17 since the Hijra, he decreed that the years of the Islamic era should be counted from the year of the Hijra.

Read Full Post »

Read Full Post »

Video Bagus Banget

Read Full Post »

Ngantuk nih yee …

Clinton ngantuk ketika denger ceramah …

Read Full Post »

Rekan-Rekan yth.,

Diantara berita sedih dari bursa, dari RSPP dsb … ternyata ada juga berita gembira …

http://tinyurl.com/2n79xa

Read Full Post »

Kartel di Bisnis Tempe

Rekan-Rekan yth.,

Saya bukan sarjana politik, engineering pertanian dsb … tapi agak prihatin dengan perkembangan kasus kedele.

Menurut saya, kesalahan terbesar adalah pada kebijakan impor kedele yang dibuat oleh IMF pada tahun 1998, sehingga menyebabkan petani-petani kedele lokal tersingkir dari tanah air kita sendiri.

Terdapat 4 importir besar yang memainkan harga: yaitu Cargill Indonesia, Teluk Intan, Gunung Sewu, dan Liong Seng.

Sejak Indonesia sudah menjadi net importir dalam masalah kedele, maka keempat kelompok inilah yang bermain-main dengan harga kedele; sehingga produksi petani lokal menjadi sia-sia belaka mengingat tak adanya proteksi.

Berikut berita terkait:

Edisi. 47/XXXVI/21 – 27 Januari 2008
Ekonomi dan Bisnis
Ada Kartel di Kedelai? Harga kedelai naik lebih dari 100 persen. Importir besar
diduga turut bermain di balik kelangkaan kedelai ini.
Sepanjang Desember menjadi hari-hari yang mencekam bagi Handoko. Jantung
produsen kecil tahu di Kalideres, Jakarta Barat, ini berdetak kencang setiap
kali ia datang ke pedagang kedelai. Hampir setiap hari, harga kedelai makin
mahal, dan terakhir sempat menyentuh Rp 8.000 per kilogram. Selama 2007,
harganya telah naik lebih dari 100 persen.

Handoko tentu saja gerah. Untungnya, pengurus Primer Koperasi Produsen Tahu
Tempe Indonesia (Primkopti) itu tak sendiri. Ribuan rekan sesama profesi,
pengusaha tempe dan tahu, merasakan kegetiran serupa. Serentak, mereka lantas
bergerak. Para pengurus cabang saling kontak. Pertemuan beberapa kali digelar.
Agenda aksi disusun.

Hasilnya, Senin pekan lalu, mereka mengguncang Istana Negara, Jakarta. Lima
ribuan produsen berunjuk rasa. Mereka mogok berproduksi. Tahu tempe, makanan
yang digandrungi jutaan warga negeri ini, tiba-tiba menghilang. Luar biasa,
untuk pertama kalinya dalam sejarah Indonesia, tahu tempe lenyap dari Ibu Kota
dan sekitarnya.

Tak pelak, upaya mereka rupanya jitu membetot perhatian. Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono turun gunung. Esoknya, rapat kabinet terbatas mendadak sontak digelar
di Departemen Pertanian, Jakarta. Hasilnya, sejumlah solusi jangka pendek
ditetapkan: bea masuk diturunkan dari 10 persen menjadi nol persen, negara
tempat impor kedelai diperluas, dan importir diperbanyak, termasuk mengerahkan
Bulog.

Gonjang-ganjing kelangkaan kedelai sesungguhnya sudah lama diprediksi. Bahkan
empat tahun lalu, Jim Rogers, pialang legendaris di bursa Wall Street, New York,
sudah meramalkannya. Dalam bukunya berjudul Hot Commodities, pendiri Quantum
Fund itu meyakini pasar komoditas akan memanas. Barang komoditas bakal diburu,
tak terkecuali kedelai.

Ramalan itu tak meleset. Sejak pertengahan tahun lalu, harga kedelai di pasar
internasional merangkak naik. Di bursa komoditas Chicago, Amerika Serikat, harga
kedelai mencapai rekor tertinggi dalam tiga dekade pada 11 Januari lalu. Saat
itu, harga kedelai sempat mencapai US$ 13,1 per gantang atau US$ 481,3 per ton.
Tahun lalu, bursa komoditas kedelai juga mengantongi gain 78 persen.

Tentu saja ada alasan di balik kelangkaan kedelai. Merosotnya pasokan kedelai
0,6 persen menjadi 220 juta ton pada tahun lalu dituding sebagai biang lonjakan
harga. Apalagi tahun ini pasokan akan anjlok lagi 6,5 persen. Penyebabnya,
petani di Amerika berbondong-bondong meninggalkan kedelai dan beralih ke jagung
karena menganggapnya lebih menguntungkan. Ini menyusul kebijakan AS akan
menggalakkan produksi etanol dari jagung.

Sebaliknya, permintaan kedelai terus meningkat karena makin jadi rebutan. Tidak
hanya untuk pangan manusia, tapi juga buat pakan ternak dan sumber energi
seperti bahan baku biodiesel. Tengok saja Uni Eropa yang getol menggeber
penggunaan biodiesel hingga 5,75 persen pada 2010. Di Cina, makin makmurnya
penduduk lebih menyukai minyak goreng kedelai. Konsumsi daging di sana juga
melonjak sehingga kebutuhan bahan baku pakan ternak pun meningkat.

Nah, gonjang-ganjing kedelai itu sampai juga ke Tanah Air. Indonesia, yang
menggantungkan 60 persen permintaannya pada kedelai impor, pun belingsatan.
Produsen dan pedagang tahu tempe, pejabat pemerintah, serta masyarakat tiba-tiba
dikejutkan oleh harga kedelai yang naik seolah tanpa kendali. ”Pemerintah tak
punya kemampuan mengendalikan harganya,” ujar ekonom Didik J. Rachbini.

Ketidakberdayaan pemerintah menjaga harga kedelai sesungguhnya tidak lepas dari
sejarah. Dulu, pada 1990-an, menurut Direktur Jenderal Tanaman Pangan Departemen
Pertanian Sutarto, Indonesia bisa memproduksi kedelai hingga 1,2-1,8 juta ton.
Bulog, yang berperan mengendalikan harga pangan, hanya sedikit mengimpor. ”Saat
itu, petani untung menanam kedelai.”

Namun situasi berubah setelah krisis ekonomi dan Dana Moneter Internasional
(IMF) datang ke Indonesia pada 1998. Ketika itu, pemerintah menetapkan bea masuk
impor kedelai nol persen. Kedelai impor yang murah membanjiri pasar Indonesia.
Setiap tahun, lebih dari 1,2 juta ton diimpor dari total kebutuhan 2 juta ton
per tahun.

Sedangkan kedelai lokal makin jauh terpinggirkan. Mereka kalah bersaing lantaran
harganya lebih mahal ketimbang barang impor. Tak pelak, produksi kedelai
domestik terus merosot sejak 1998. Sepuluh tahun silam, petani masih bisa panen
1,3 juta ton. Tapi, tahun lalu, produksinya tinggal 750 ribu ton. ”Ini dampak
dari liberalisasi produk pertanian,” kata Sekretaris Jenderal Himpunan Kerukunan
Tani Indonesia Rachmat Pambudy.

Sejak itu, Indonesia bergantung pada kedelai impor. Lebih dari separuhnya malah
diimpor dari Amerika Serikat, produsen kedelai terbesar dunia. Dominasi AS ini
tak lepas dari sokongan mereka kepada para importir di Indonesia. Selain harga
murah, importir mendapatkan kredit ekspor GSM-102 yang memberikan keleluasaan
pembayaran hingga dua-tiga tahun.

Selama bertahun-tahun, empat importir besar kedelai menjadi pemain penentu di
Indonesia. Mereka adalah Cargill Indonesia, Teluk Intan, Gunung Sewu, dan Liong
Seng. Cargill sudah jelas produsen top produk pertanian asal Amerika Serikat.
Sedangkan Gunung Sewu kepunyaan keluarga Angkosubroto, pemilik Chase Plaza,
Jakarta.

Persoalannya, dominasi importir itu menimbulkan spekulasi bahwa mereka diduga
turut berperan di balik melejitnya harga kedelai. Bahkan sejumlah kalangan
mensinyalir ada kartel atau penentuan harga secara bersama-sama oleh pemasok.
Indikasinya, menurut Didik, saat harga naik, pemerintah tak bisa mengendalikan.

Sejumlah pengusaha tahu tempe tak kalah curiga. Mereka malah membeberkan
sejumlah fakta. Dengar saja pengakuan Handoko. Ia heran dengan kenaikan harga
setiap hari di Indonesia, meski di luar negeri berfluktuasi. Bahkan, ketika ia
mengecek ke rekan-rekan sesama pengusaha tahu tempe di daerah lain, harganya
juga sama.

Anehnya lagi, pedagang tetap menaikkan harga meski stok di gudang-gudang mereka
cukup melimpah. Di Banyuwangi malah ada penggerebekan gudang kedelai oleh
polisi. Mestinya, Handoko beralasan, jika stok cukup banyak, harga kedelai tak
perlu naik sedemikian besar. Apalagi Departemen Pertanian menyebutkan importir
masih menyimpan 250-300 ribu ton. Itu cukup untuk dua bulan.

Yang lebih mengejutkan adalah kejadian menjelang aksi unjuk rasa ribuan
pengusaha tahu tempe pada 14 Januari. Pada 5-14 Januari, harga kedelai mendadak
stabil. Sama sekali tak ada kenaikan, meski harga di luar negeri bergejolak.
”Bukankah ini seolah ada yang mengendalikan,” kata aktivis Kopti tersebut.

Pemerintah kabarnya sedang menyelidiki dugaan adanya permainan harga oleh para
importir besar. Ketua Komisi Perdagangan DPR Didik Rachbini malah mendesak
Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) ikut terjun mengusut sinyalemen ini.
”Kami sedang mengumpulkan informasi,” kata Ketua KPPU M. Iqbal.

Namun, dugaan itu dibantah oleh importir besar. Juru bicara Cargill Indonesia,
Susi Hutapea, meyakinkan bahwa institusinya bukan menjadi penentu harga kedelai
di pasar. ”Tudingan itu tidak benar,” katanya akhir pekan lalu.

Belum jelas memang siapa yang benar. Yang pasti, harga kedelai kini memasuki
keseimbangan baru. Produsen tahu tempe sudah berproduksi lagi meski harus
mendongkrak harga atau menyusutkan ukuran. Konsumen sepertinya tak lagi mengeluh
setelah tahu tempe mudah didapat. Giliran petani yang perlu menanam kedelai
kembali karena harganya sudah tinggi. ”Kelak, jika harga impor turun lagi, tugas
pemerintah menaikkan lagi bea masuk,” kata Didik.

Heri Susanto, Bloomberg

Read Full Post »

Older Posts »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 5.235 pengikut lainnya.