Feeds:
Artikel
Komentar

Archive for Maret, 2011

K ehebatan “detik.com” adalah mereka membuat “self-correction” seenaknya.

Kalau dalam dunia publikasi ilmiah, jika ada error dalam sebuah jurnal, maka ada “errata” yg berfungsi memberikan informasi yang menunjukkan error dalam jurnal yang telah dipublish. Namun, error itu sendiri tetap tidak dihapus, agar audiens tetap dapat melihatnya.

Yang dilakukan oleh “detik.com” adalah, mereka tidak membuat “errata”, tapi mengedit situs itu sendiri, sehingga yang terjadi adalah isu tetap berkembang liar di masyarakat, sedangkan mereka yang jeli merasa tertipu, karena kita
menyaksikan versi beritanya berubah SECARA DIAM-DIAM, tanpa ada notifikasi!

Jadi, yang mereka lakukan adalah dosa double:

1. Memberikan berita yang tidak akurat.
2. Melakukan penipuan jurnalistik.

Berikut contohnya:

1. Pemberitaan sekitar Reaktor di Fukushima. Berita ala detik.com adalah seperti berikut:

http://us.detiknews.com/read/2011/03/16/181028/1593547/10/kebocoran-radiasi-nuklir-jepang-luar-biasa-besar?9911022

Berdasarkan data yang direlease oleh MEXT sebagaimana berikut:


http://eq.wide.ad.jp/files_en/110315fukushima_2030rev2_en.pdf

Rasanya terlalu gegabah “detik.com” menuliskan kalimat:

1. “Kebocoran Radiasi Nuklir Jepang Luar Biasa Besar”

2. “Rusaknya reaktor nuklir di Fukushima Jepang pasca gempa dan tsunami, sudah sangat mengkhawatirkan. Ancaman radiasi sudah dalam tingkat yang sangat berbahaya, apalagi jika reaktor meledak.”

3. “Dia mengatakan equivalen panas yang dihasilkan sangat tergantung dengan sisa bahan bakar yang masih ada di reaktor. Kondisi paparan radiasi di Tokyo telah mencapai 0,46 mili sieverts. Sementara dalam keadaan normal hanya sekitar 0,16 mili sieverts.”

Tidak sulit membaca data MEXT tersebut untuk memahami bahwa radiasi nuklir tidak se-ekstrim yang mereka gambarkan. Memang pernah terjadi lonjakan sedikit radiasi, yang tidak berbahaya bagi kehidupan, tapi sekarang ini radiasi di Tokyo sudah kembali ke kisaran normal.

Yang perlu kita sedihkan adalah kelas detik.com, metrotv , tvone dst yg. agaknya belum naik kelas sejak jaman reformasi 1998, yaitu media2x yg mengedepankan sensasi, mengumbar agitasi dan provokasi, untuk mengejar oplah; seolah mereka telah berajojing ria di atas kegelisahan dan keresahan para pekerja dan pelajar di Jepang.

Coba bandingkan dengan New York Times atau Nature, sebagaimana terdapat di link berikut:

http://www.nytimes.com/interactive/2011/03/12/world/asia/the-explosion-at-the-japanese-reactor.html?ref=asia


http://blogs.nature.com/cgi-bin/mt/mt-search.cgi?Template=nautilus&IncludeBlogs=32&search=fukushima

2. Pemberitaan sekitar “mati listrik” di Jepang. Saya hanya meng-copy-paste paragraf awal disini:


http://us.detiknews.com/read/2011/03/17/083122/1593828/10/jepang-berusaha-hidupkan-kembali-listrik-pltn-fukushima?9911012

“Pasca gempa dan tsunami, listrik di Jepang mati akibat sejumlah pembangkit nuklir rusak. Saat ini sejumlah pekerja diturunkan untuk mengembalikan pasokan listrik.”

Silahkan rekan2x nilai sendiri kualitas jurnalistik “detik.com” secara khusus dan media di Indonesia secara umum. Yang jelas saya menyaksikan sendiri, orang di Tokyo masih sempat ngopi dengan santai di kafe2x; sekalipun memang dibatasi. Foto ini diambil di Starbucks, Jiyugaoka sesaat berita itu muncul:

Kebetulan saya termasuk yang beruntung karena memiliki akses internet yg mudah dan karib kerabat yang cukup banyak di Jepang; yang tersiksa adalah rekan2x dan saudara2x kita yg kesulitan memiliki akses komunikasi kepada karib-kerabat di Indonesia.

Kalau modus ini dilakukan kepada berita sekelas video porno “pria berkumis tidak
mirip anis matta
“, atau gosip “pria menawan bernama Raul Lemos di mata KD“, itu tidak masalah … tapi ini menyangkut nyawa orang di Jepang dan keresahan para karib-kerabat mereka di Indonesia!

Read Full Post »