Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Mei, 2009

Banyak orang yang menyerang kebijakan politik PKS. 

Tapi, mari kita mencoba melihat dari kaca mata yang lain.

Salah satu berkah koalisi PD-PKS-PAN-PKB adalah anggapan PKS merupakan ancaman bagi NU dan muhammadiyah, sebagaimana disebutkan di buku “Ilusi Negara Islam”[1] menjadi basi. Tidak benar PKS-PAN-PKB saling menjatuhkan : buktinya mereka saling bergotong royong untuk mendukung SBY-Boediyono menjadi capres.

Berkah lain adalah isyu liberal/neoliberal menjadi naik ke permukaan.

Sebelumnya, liberal/neoliberal bukanlah istilah yang berupa aib. Kini, menjadi liberal/neoliberal adalah aib: coba kita perhatikan, ramai2x mulai dari Sri Mulyani, Miranda Goeltom s/d Boediyono ramai2x menyatakan anti neolib dan
liberal[2]. Ekonom2x yang biasanya menggadang2x-kan isu liberalisme, bahkan tidak hanya ekonom, agamawan juga ada yang merasa terhormat dengan title liberal, lihat saja (Jaringan Islam Liberal), kini seolah ramai2x menanggalkan kata liberal.

Yang populer sekarang ini adalah istilah RAKYAT: semua berlomba2x mengklaim paling me-RAKYAT, paling ber-ekonomi ke-RAKYAT-an dsb.

Selain itu, isu yang naik ke permukaan adalah RELIGIUS. Semua capres ramai2x menonjolkan religiusitasnya. JK-Win menjual jilbab, SBY-Boediyono menjual kefasihan bahasa arab, dan Prabowo menjual peci.

Kembali mengenai kebijakan PKS yang kontroversial, ternyata dibalik ini semua ada berkahnya.

Insya Allah musyarokah tersebut tetap berkah, karena didasarkan syuro, bukan
nafsu pribadi.

Referensi:

[1]. http://www.bhinnekatunggalika.org/downloads/ilusi-negara-islam.pdf
[2]. http://www.tempointeractive.com/hg/nasional/2009/05/29/brk,20090529-178817,uk.html

Read Full Post »

Jilbab Politik?!

Urusan jilbab masuk ke politik adalah keniscayaan akhir2x ini, tidak dapat disalahkan PKS semata wayang. Sejak JK-Wiranto bergabung, entah kebetulan atau memang ada konsfirasi, keduanya memiliki jualan yang sangat jitu : menjual simbol agama, yaitu jilbab, kepada masyarakat Indonesia.

Kalau di satu sisi PKS diejek-ejek oleh masyarakat nasional-sekuler sebagai partai yang inkonsisten dan hanya mencari jabatan, maka di sisi lain, PKS diejek-ejek oleh masyarakat nasionalis-religius sudah tidak menjadi partai islam ketika mendukung SBY-Boediyono yang masing2x memiliki istri tanpa jilbab. Golongan ini juga tidak terlalu peduli dengan track record JK-Win: yang penting berjilbab! Oleh karenanya, PKS seperti dikutuk oleh mereka agar ikutan PBB, agar kelak keluar dari gelanggang politik pada 2014, karena sudah tidak lagi menjadi representasi umat.

Sehingga, apa yang dikatakan jubir PKS akhir2x ini, bukanlah tanpa alasan: jika istri Pak SBY dan Boediyono menggunakan jilbab, memang akan menarik simpati masyarakat nasionalis-religius, yang kini terkesima oleh JK-Win.

Kalau saya melihat hikmahnya saja: bisa jadi ini saatnya keluarga SBY-Boediyono menjadi keluarga yang lebih relijius. SBY-Boediyono dihari-hari ini akan dituntut bicara banyak tentang ekonomi kerakyatan dan banyak2x menyitir ayat2x Al-Qur`an untuk membuktikan bahwa mereka bukanlah Neoliberalis dan bagian dari umat. Mungkin Ibu SBY dan Ibu Boediyono akan terbawa-bawa, ketika dibanding2xkan dengan Ibu JK dan Ibu Winarto.

Hendaknya berpaham ekonomi kerakyatan dan menjadi religius tidak hanya ketika kampanye saja … tetapi sekalian diteruskan dalam kehidupan selanjutnya. Belum telat rasanya untuk menjadi full ekonomi kerakyatan dan full agamis, dan tidak ada salahnya mengawali ketika kampanye pilpres kali ini.

Kalau orang seperti Mas Tsani mengatakan itu adalah harom mengingat itu adalah riya bahkan syirik, menurut saya itu lebih baik daripada tidak sama sekali. Terlambat lebih baik daripada tidak sama sekali.

Salah satu hikmah dari peristiwa pilpres kali ini adalah masyarakat kita harus sering-sering berkomunikasi dan memahami satu sama lain. Baik kalangan ekonomi kerakyatan dan ekonomi neoliberal harus banyak2x diskusi, saling memahami dan saling menerima. Begitu juga antara masyarakat nasionalis-religius dan nasionalis-sekuler.

Untung saja kita sekarang ini punya PKS yang menjadi perekat (baca: penengah dan wasit. Edy Marwanta, 2009) kedua kalangan tersebut, yaitu antara supporter ekonomi kerakyatan dan liberal, begitu juga antara religius dan nasionalis.

Dan memang untuk menjadi wasit atau penengah itu tidak mudah … lihat aja wasit di sepakbola … selalu menjadi bulan2xan penonton dan pemain … kalau di Indonesia malah wasit bisa2x jadi korban bogem dan lemparan botol …

Salam,

Agung

Read Full Post »

{Tanggapan untuk http://chappyhakim.kompasiana.com/2009/05/16/pupus-sudah-harapan/}

Ya bedalah antara Obama dan orang PKS. Kalau Obama, dia itu sudah meneruskan
program perang Bush untuk membantai orang2x Afghanistan dan Irak. Dan kalau
dibilang Obama tidak menipu rakyat AS, perlu dievaluasi juga … coba lihat
video ini deh :

http://video.google.com/googleplayer.swf?docid=6223232123104914517&hl=en&fs=true” 

(Cari Obama Deception di google …)

Sedangkan orang2x PKS tidak separah itu …

Keberpihakan PKS ke SBY juga tidak dapat dikatakan melupakan rakyat kecil. Pak
SBY dan Boediyono perlu diakui hidup cukup sederhana … mungkin harus dibuat
pertandingan siapa yang paling sederhana diantara capres2x tersebut …

Dan juga perlu diakui SBY cukup berprestasi sehingga TIME memasukkan yang
bersangkutan dalam TIME 100.

Bicara politik, ya pastilah akan ada kompromi. Kalau tidak memilih jalan
kompromi, itu justru berbahayua … bayangkan kalau para politisi lebih memilih
peluru, bedil dan bom daripada berkompromi … itu lebih bahaya lagi.

Jadi berkompromi itu hal yang wajar, malah adalah keniscayaan.

Justru rakyat harus belajar kepada para politisi tersebut; karena mampu
melakukan kompromi-kompromi politik.

Jika kita mampu meneledani mereka, maka kita tak perlu lagi saling berkelahi
secara fisik dalam memecahkan suatu masalah.

Read Full Post »

Menurut hemat saya, memang PKS dibutuhkan di dua sisi, baik sebagai pendukung
pemerintahan dan pengkritiknya secara sekaligus. Kalau ingin populis dan
memikirkan popularitas diri sendiri, lebih baik memang PKS hanya menjadi oposisi
penuh. Bagaimana pun cuap-cuap diluar sistem lebih enak dan puass (apalagi
dengan sambil minum kopi panas)

Tapi, ternyata PKS juga dibutuhkan di dalam sistem: banyak kader dan
infrastruktur PKS yang tetap dibutuhkan oleh SBY. Bagaimanapun, SBY dan PD tetap
membutuhkan PKS, setelah GOLKAR hengkang dari koalisi.

Menjadi pengkritik dan pendukung sekaligus memang agak sulit dipahami dalam
kerangka politik yang dipahami kebanyakan manusia; jika menganggap politik
adalah sebatas kekuasaan. Tapi, jika kita menginginkan sistem politik yang
sehat, menurut saya, bisa2x saja itu dilakukan. Karena, kritik yang diberikan
adalah untuk membangun bukan untuk menghancurkan; sebaliknya kerja kabinet juga
membutuhkan feedback dari oposisi.

Jika ada yang berpendapat, “koq PKS gampang bener dikadalin oleh PD; kalo
ngambek dikit, tinggal buat pertemuan dengan SBY, entar juga ngambeknya ilang
…”

Kemungkinan pertama, PKS memang bener-bener lugu alias luar biasa guoblok.

Kemungkinan lain, PKS terlalu ikhlash, sehingga lebih banyak berkorbannya, demi
menjaga kelanggengan SBY dan Boediyono.

Dan yang pasti PKS bukan kumpulan orang luar biasa guoblok …

Kemudian tentang jargon nasionalis-islam, jawa-nonjawa, neoliberalism dsb …
perlu diketahui bahwa jargon tersebut bukanlah monopoli PKS. Nanti orang seperti
Andri Hokkaido bisa2x tersungging … atau ekonom2x yang anti neoliberalism bisa
ngamuk2x jika dikatakan jargon2x itu semua dari PKS. Jargon2x tersebut adalah
asfirasi sebagian anak2x bangsa juga. Rasanya wajar2x saja memetakan orang dalam
kelompok A, B, C dsb … itu konsekuensi dari pemikiran, kebijakan dsb yang
diambil oleh yang bersangkutan.

Dan hebatnya, Boediyono juga gak ngamuk, koq; beliau katakan itu menunjukkan
demokrasi yang sehat.

Jadi hikmah dari perang opini di media adalah masing2x dapat banyak belajar:
Boediyono setidaknya menjadi hati2x dengan kebijakan2x-nya; karena jika salah
ambil, dapat membenarkan anggapan dia adalah pro imf, neoliberal dsb. Dan juga
beliau akan lebih sering2x ibadah dengan benar agar dapat menunjukkan bahwa
beliau adalah bagian dari umat.

Read Full Post »

Saya dan Polisi

Saya bukanlah pembenci polisi.

Kalaupun ada beberapa kritik yang saya tuliskan kepada polisi, itu hanyalah bentuk cinta saya kepada lembaga tersebut.

Kakek saya adalah seorang petinggi polisi yang sangat jujur; beliau termasuk pejuang kemerdekaan.

Karena terlampau jujurnya, beliau tidak kaya.

Bagaimanapun, sebagai seseorang yang dibesarkan di Jakarta, saya menyaksikan banyak oknum polisi yang tidak berada di jalan yang benar; mulai dari akhlak polisi di jalanan (yang sering main tilang-menilang untuk kepentingan pribadi) s/d oknum polisi yang menjadi pelindung bandar narkoba.

Sekarang ini polisi tengah mempertaruhkan harga dirinya dengan menangani kasus Antasari; apakah polisi akan menjadi penegak hukum ataukah akan memilih menjadi pelaksana agenda-agenda konspirasi yang dititipkan pihak2x tertentu.

Kalau memilih yang kedua tentu sangat disayangkan … mengingat masyarakat kini sudah cerdas; informasi dengan mudah dapat diperoleh dari media dan internet dengan bebas. Konsekuensinya, lembaga kepolisian bisa jadi akan terjun bebas harga dirinya di mata masyarakat …

Semoga kepolisian dapat menjadi lebih baik … karena kasihan masyarakat yang sudah terlampau berat beban hidupnya …

Read Full Post »

Keterangan pengacara WW tersebut jelas sekali inkonsisten dengan

1. Kesaksian para eksekutor lapangan yang dinyatakan oleh pengacara mereka,
sebagaimana dinyatakan disini:

http://www.tempo.co.id/hg/hukum/2009/05/04/brk,20090504-174296,uk.html

“A legal representattives of the four suspects of the murder of Nasrudin
Zulkarnaen claimed the plan to slain the state company executive was prepared at
the National Police Headquarters in Jakarta.

Petrus Balla Pattyona lawyer for Fransiscus Tanu Kerans, Daniel, Heri Santoso
and, the still at at large, Sei said he learned the information from the
families of the suspects. Daniel, one of the suspects, according to Petrus
admitted he was always at the National Police Headquarters when contacted by his
family. …”

2. Inkonsisten dengan keterangan resmi orang2x Polda, sebagaimana dinyatakan
disini:

http://www.surya.co.id/2009/05/05/antasari-terancam-tembak-mati-huni-sel-narkoba-dijerat-pasal-340.html

” … Sedangkan tersangka keenam, Eduardus Ndopo Mbete alias Edo (EM) yang
memberikan order kepada Hendrikus. Edo mengaku mendapat perintah membunuh korban
itu dari tersangka Williardi Wizard (WW, Kombes Pol).”

” … Dari hasil pemeriksaan Williardi dan Sigid diperoleh keterangan bahwa yang
mempunyai keinginan untuk menghilangkan nyawa Nasrudin adalah Antasari Azhar.”

===

Kesimpulannya, WW-lah yang memerintahkan ke para eksekutor secara langsung dan
itu dilakukan di Mabes Polri. WW juga yang menyebut AA yang terlibat, karena di
tempat lain Sigid membantah terlibat di kasus ini. Ia membayar 500 juta untuk
bayar utang.

http://www.detiknews.com/read/2009/05/05/230730/1126823/10/sigid-haryo-mengaku-tak-kenal-nasrudin

Salam,

Agung

[Tanggapan dari:
http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/05/08/04195686/kombes.wiliardi.merasa.dijebak]

Read Full Post »

Akhir-akhir ini kita dapat menyaksikan wajah asli hukum di Indonesia:

“Hukum tidak pandang bulu, semua sama di mata hukum: baik penegak hukum, pelanggar hukum ataupun orang yang taat hukum semuanya layak dipenjara.”

Manusia yang melanggar hukum, banyak yang dipenjara; itu bukan perkara aneh.

Tapi kini kita memasuki fase baru: penegak hukum yang sangat loyal kepada hukum dan sangat taat hukum, kini juga layak dipenjara, disebabkan oleh hukum Indonesia.

Manusia jenis pertama, yaitu pelanggar hukum, dipenjara karena benar-benar melanggar hukum; terlalu banyak pasal yang dapat menjerat manusia jenis pertama.

Tapi, ternyata hukum Indonesia membuka peluang lebar bagi penegak hukum yang taat untuk masuk penjara: penegak hukum dapat dipenjara akibat konspirasi penegak hukum yang lain yang merasa terusik oleh penegak hukum yang sangat taat hukum tersebut.

Seorang AA adalah seorang yang sangat cinta dan taat hukum; kita perlu akui beberapa prestasi yang bersangkutan, dan kita saksikan sendiri bagaimana yang bersangkutan berkali-kali mengatakan bahwa ia adalah penegak hukum yang siap mengikuti aturan hukum yang berlaku.

Nyatanya, AA, manusia yang taat hukum menjadi bulan-bulanan bagi penegak hukum lain yang terusik oleh si AA ini.

Jika benar si AA ini masuk bui, maka konsekuensi seriusnya adalah semakin besar gelombang ketidakpercayaan masyarakat terhadap hukum dan penegak hukum di Indonesia. Untuk apa taat hukum jika ujung-ujungnya akan bernasib seperti AA. 

{Oleh karena itu jangan salahkan pula kelompok seperti FPI yang sudah putus asa dengan hukum Indonesia dan memilih jalannya sendiri … }

Terkecuali, ini adalah saat dimana penegak hukum yang senang dengan mempermainkan hukum akan tersandung … dan hukum Indonesia akan memasuki fase baru yang lebih baik … amiin !!!

Read Full Post »

Older Posts »