Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Oktober, 2009

PrintedPresentationOct2009.001

Handoutnya ada disini : https://trisetyarso.files.wordpress.com/2009/10/handoutoct2009.pdf

[Updated]

Alhamdulillah sudah diupload di youtube:

Iklan

Read Full Post »

Asing

Dahulu kala, 20-30 tahun yang lalu, bangsa kita masih melihat bangsa asing sebagai sesuatu yang tinggi. Lulusan universitas asing dianggap/menganggap dirinya manusia setengah dewa. Perusahaan-perusahaan asing dianggap lambang kemakmuran dan kesejahteraan.

Kini bisa jadi anggapan tersebut tidak terlalu berlaku lagi.

Superioritas kemakmuran?

Kini kemakmuran tidak identik dengan perusahaan asing/ lulusan universitas asing. Terlalu banyak contoh di negeri kita, manusia yang tidak lulusan universitas asing, bahkan banyak juga yang tidak menempuh pendidikan formal, dapat lebih makmur daripada yang lulusan universitas asing dan pekerja di perusahaan asing.

Yang terkenal contohnya : Aa Gym, KH. Zainuddin MZ., Yusuf Mansyur, Arifin Ilham, … dst … anggota DPR, anggota DPRD, … dst, … pengusaha2x otodidak yang sulit disebutkan satu persatu nama2x mereka.

Saya punya seorang paman; yang “cuma” lulusan STM. Tapi, kekayaan hartanya tidak kalah dengan seorang direktur perusahaan asing. (alhamdulillah beliau juga kaya hati)

Setiap ada acara keluarga, beliau selalu berpesan:

” … Gung, yang paling penting itu adalah `ilmu hidup`; ilmu kamu di kuliah itu paling cuma 5 persen berpengaruh di hidup kamu …”

Nasihatnya yang lain, disampaikan ketika kami olahraga pagi:

” … prinsip saya adalah membantu orang lain; kalau tidak bisa dengan uang, dengan tenaga. Kalau tidak bisa tenaga, dengan doa … ”

Sulit mengatakan beliau sedang asal bunyi, mengingat beliau memang seorang yang sudah sangat berhasil dalam hal harta. (dan alhamdulillah juga kaya hati.)

Dan kita bersyukur, beberapa dekade terakhir ini manusia2x mulia seperti itu semakin banyak saja di negeri kita.

Superioritas keilmuan?

Selain masalah kemakmuran, lulusan universitas asing/ orang asing seolah juga identik dengan superioritas keilmuan. Sekali lagi, 20-30 tahun lalu, jika ada Ph.D dari universitas asing, identik dengan seseorang yang memiliki superioritas dibidang keilmuan.

Kini terlihat, hal itu sama sekali tidak menjamin.

Mari kita coba mulai dari kasus para sarjana yang dikirim ke universitas-universitas ternama dalam hal agama.

(Sebetulnya ini paradoks tersendiri : seseorang belajar agama kepada bukan ahli agama)

Ada seseorang (inisial : NM) belajar sampai Ph.D pemikiran Ibnu Taimiyyah, tapi dalam realitanya ia adalah penentang pemikiran Ibnu Taimiyyah. Begitu juga ada yang mempelajari Ikhwanul Muslimin (inisial : AR), tapi nilai2x Ikhwanul Muslimin gagal mengkristal dalam dirinya. Adapula yang belajar sejarah Indonesia untuk menjadi ahli sejarah Indonesia, tapi justru ketika pulang menjadi seseorang yang kelak mendistorsi sejarah Indonesia itu sendiri.

Justru, begitu banyak manusia2x mulia di negeri kita yang belajar Islam dan ilmu-ilmu sosial lain secara otodidak, akan tetapi menjadi ahli-ahli fiqh, politik islam, dan ahli sosial yang lebih fasih daripada mereka yang lama di luar negeri tapi pulang tidak lebih sebatas penyambung lidah para pemberi beasiswa.

Dalam hal sains juga serupa. Seorang Ph.D dalam hal fisika tidak menjamin ia memahami fisika. Ini dapat terlihat ketika begitu banyak Ph.D yang terkelabui dan bungkam seribu bahasa pada peristiwa runtuhnya 3 gedung WTC yang ditubruk oleh 2 pesawat di 11 September 2001.

Sementara para Ph.D bungkam seribu bahasa, begitu banyak mereka yang belajar fisika secara otodidak tetapi dapat memahami Hukum Fisika dibalik peristiwa 11 September 2001 tersebut.

————

Ironis memang, tidak sedikit para lulusan asing, tidak sedikit pula yang berasal dari universitas2x terbaik di dunia, yang justru tidak hanya membebani negara, tapi juga membebani keluarga. Pendidikan di luar negeri hanya mengajari yang bersangkutan untuk tinggi hati (baca:sombong) tanpa diikuti dengan harga diri yang meninggi. Semakin pintar menuntut, tapi semakin kikir untuk memberi.

Inilah ciri2x manusia yang berilmu tapi tidak berkah : bertambahnya ilmu tidak mengakibatkan kebaikan pada dirinya dan masyarakat.

Read Full Post »

Berikut tilawah surah Al-Ahzaab dari Syaikh Muhammad Ayyoub

Read Full Post »

P=NP Problem? Siapa takut!

Mari masyarakat Indonesia gempur masalah ini beramai2x!!!!

http://en.wikipedia.org/wiki/Computational_complexity_theory

The P versus NP problem and other open questions
[edit] P = NP
Main article: P versus NP problem
See also: Oracle machine

The complexity class P is often seen as a mathematical abstraction modeling those computational tasks that admit an efficient algorithm. The complexity class NP is the set of decision problems that can be solved by a non-deterministic Turing machine in polynomial time. This class contains many problems that people would like to solve efficiently, including the Boolean satisfiability problem, the Hamiltonian path problem and the vertex cover problem. All the problems in this class have the property that their solutions can be checked efficiently.[3]

Since deterministic Turing machines are special nondeterministic Turing machines, it is easily observed that each problem in P is also member of the class NP. The question of whether P = NP (can problems that can be solved in non-deterministic polynomial time also always be solved in deterministic polynomial time?) is one of the most important open questions in theoretical computer science because of the wide implications of a solution.[3] If the answer is yes, many important problems can be shown to have more efficient solutions that are now used with reluctance because of unknown edge cases. These include various types of integer programming in operations research, many problems in logistics, protein structure prediction in biology, and the ability to find formal proofs of pure mathematics theorems.[4][5]

The P = NP problem is one of the Millennium Prize Problems proposed by the Clay Mathematics Institute the solution of which is a US$1,000,000 prize for the first person to provide a solution.[6]

Questions like this motivate the concepts of hard and complete, explained below.

Picture 1

Berikut abstract pendekatan quantum computation untuk memecahkan permasalah ini:

Picture 2

Read Full Post »

Di Google Scholar

Insya Allah daftarnya bertambah secara eksponensial di tahun depan …

Picture 2

Read Full Post »

Terimakasih Pak JK!

Saya detik ini sedang mengikuti wawancara dengan Pak Jusuf Kalla di Metro TV.

Kesan saya, Pak JK ini memang sosok yang luar biasa.

Selama menjabat sebagai wapres beliau tidak segan-segan berbeda pendapat dengan SBY; pendapat dan kebijakan beliau relatif pro-rakyat dibanding dengan kelompok2x neolib. Seperti pada kasus Bank Century, untung saja beliau memerintahkan penangkapan Robert Tantular dkk.

Selain itu, beliau memang negarawan yang tulus. Terlihat tidak ada kekecewaan jika beliau pernah dikhianati atau terlihat ada tanda-tanda post power syndrome.

Di era SBY-JK, secara tidak sadar, kita melalui era emas : terlalu banyak prestasi yang ditorehkan oleh pasangan ini.

Semoga Pak JK tetap berpengaruh di bangsa ini, sekalipun beliau tidak lagi menjabat sebagai wapres. Beliau sangat layak dinisbatkan sebagai guru bangsa yang sesungguhnya.

Sekali lagi … terimaksih Pak Jusuf Kalla … semoga Allah SWT membalas kebaikan anda baik di dunia maupun akhirat kelak … Amiiin !!!

Picture 2

Read Full Post »

http://www.washingtonpost.com/wp-dyn/content/article/2009/10/12/AR2009101203142.html

Picture 3

Perdamaian

[Original by Drs. H. Abu Ali Haidar]

Perdamaian, Perdamaian [4x]
Perdamaian, Perdamaian [4x]
Banyak Yang Cinta Damai Tapi Perang Semakin Ramai [2x]
Bingung Bingung Ku Memikirnya [4x]
Perdamaian, Perdamaian [4x]
Banyak Yang Cinta Damai Tapi Perang Semakin Ramai [2x]
Wahai Kau Anak Manusia Ingin Aman Dan Sentosa [2x]
Tapi Kau Buat Senjata Biaya Berjuta Juta
Tapi Kau Buat Senjata Biaya Berjuta Juta
Banyak Gedung Kau Dirikan Kemudian Kau Hancurkan
Banyak Gedung Kau Dirikan Kemudian Kau Hancurkan
Bingung Bingung Ku Memikirnya [4x]
Perdamaian, Perdamaian [2x]
Banyak Yang Cinta Damai Tapi Perang Semakin Ramai
Bingung Bingung Ku Memikirnya [4x]

Read Full Post »

Older Posts »