Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Uncategorized’ Category

2011 in review

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2011 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

The concert hall at the Syndey Opera House holds 2,700 people. This blog was viewed about 44,000 times in 2011. If it were a concert at Sydney Opera House, it would take about 16 sold-out performances for that many people to see it.

Click here to see the complete report.

Read Full Post »

Tertangkap kamera di kebun

Rambutan

daun basah

daun basah

daun basah

daun basah

daun basah

daun basah

daun basah

daun basah

Read Full Post »

Alhamdulillah, kuliah umum tentang quantum computing di IT TELKOM telah sukses diselenggarakan dan diberitakan di link berikut:

http://www.ittelkom.ac.id/index.php?categoryid=22&p2_articleid=230

 

 

ittlkom

Read Full Post »

http://www.cs.ui.ac.id/lang/id/seminar-reboan-2-november-2011-pembicara-agung-trisetyarso-ph-d/

https://bitmagz.cs.ui.ac.id/index.php/2011/12/menyambut-revolusi-komputer-kuantum/

Seminar_Reboan

Read Full Post »

Hak Ibu Ruyati

Dalam memandang kasus Ibu Ruyati, terdapat dua kemungkinan:

1. Ibu Ruyati adalah seorang TKW bodoh & tolol, tidak mampu berbahasa Arab, berbahasa Inggris juga tidak bisa, tidak memiliki kemampuan mengoperasikan mesin otomatis, sehingga layak mendapatkan penyiksaan dari Sang Majikan yang hidup di tanah Arab dimana Rasulullah SAW dilahirkan. Hukum pancung yang diterapkan pun sudah sesuai dengan syariat Islam, yaitu qishash atas yang bersangkutan karena telah membunuh Sang Majikan dengan kejam.

2. Sebaliknya dari asumsi pertama, berdasarkan sumber berikut:

http://id.berita.yahoo.com/ruyati-bisa-beli-mobil-dan-sekolahkan-anak-134922960.html

Ibu Ruyati adalah seorang TKW yang sangat berpengalaman. Beliau memiliki pengalaman sepuluh tahun sebagai TKW, 5 tahun di Madinah, 1.8 tahun di Mekkah, dan 4.5 tahun di Ab`ha. Oleh karenanya, selain sebagai muslimah yang baik, beliau fasih berbahasa Arab dan juga bahasa Inggris dan memiliki kemampuan yang mumpuni mengoperasikan mesin otomatis dst. Yang bersangkutan juga tahu adab dan etika bangsa Arab dengan baik. Konsekuensinya, kebalikan dari kemungkinan pertama, Ibu Ruyati adalah korban dari kasus ini: beliau membunuh majikan untuk membela diri ketika hak-haknya sebagai pekerja dirampas. Dikabarkan, selain tidak digaji, Ibu Ruyati kerap mendapat siksaan secara fisik.


http://jabar.tribunnews.com/read/artikel/54772/Anak-Ruyati-Ibu-Saya-Sering-Disiksa

Ada kemungkinan Ibu Ruyati difitnah oleh pihak keluarga sehingga hukum pancung dan qishash, diimplementasikan secara tidak tepat kepada Ibu Ruyati.

Manakah yang benar? Wallahu`alam …

Tapi, setelah melihat latar belakang keluarga Ibu Ruyati, secara pribadi penulis cenderung kepada kemungkinan kedua. Sehingga, kini Ibu Ruyati tidak saja kehilangan hak-hak sebagai pekerja dan orang normal semasa hidupnya, tetapi kini setelah wafat, Ibu Ruyati juga dirampas hak-haknya ketika masyarakat termakan oleh fitnah pihak keluarga majikan yang mengatakan Ibu Ruyati membunuh dengan kejam.

Jika benar kemungkinan kedua yang terjadi, betapa memalukannya kita sebagai bangsa. Masyarakat disibukkan pro-kontra oleh manusia-manusia tak jelas seperti Nazaruddin, Nunun, Baasyir dst., sedangkan Ibu Ruyati ketika itu harus kalah berhadapan dengan fitnah pihak keluarga majikan dan sistem Saudi yang zhalim.

Dapat dibayangkan, bagaimana saat-saat terakhir kesendirian Ibu Ruyati yang tidak dipedulikan oleh bangsanya sendiri, ketika akan dipancung oleh algojo …

Read Full Post »

ruyati

Read Full Post »

Video berikut dari Tony Hey sekitar kontribusi Richard P. Feynman di bidang ilmu komputer. Di video ini ditampilkan ceramah Feynman di Bell Labs yang pernah mengatakan:

I don’t believe in computer science

 

 

Read Full Post »

Video berikut adalah pengantar yang menarik mengenai Quantum Computer oleh Charles Marcus dari Universitas Harvard. Pada sekitar menit ke 10, Prof. Charles Marcus menampilkan paper ArXiv dari Prof. Rod Van Meter dari Universitas Keio, untuk menunjukkan kekuatan komputer kuantum dibandingkan komputer konvensional.

Read Full Post »

K ehebatan “detik.com” adalah mereka membuat “self-correction” seenaknya.

Kalau dalam dunia publikasi ilmiah, jika ada error dalam sebuah jurnal, maka ada “errata” yg berfungsi memberikan informasi yang menunjukkan error dalam jurnal yang telah dipublish. Namun, error itu sendiri tetap tidak dihapus, agar audiens tetap dapat melihatnya.

Yang dilakukan oleh “detik.com” adalah, mereka tidak membuat “errata”, tapi mengedit situs itu sendiri, sehingga yang terjadi adalah isu tetap berkembang liar di masyarakat, sedangkan mereka yang jeli merasa tertipu, karena kita
menyaksikan versi beritanya berubah SECARA DIAM-DIAM, tanpa ada notifikasi!

Jadi, yang mereka lakukan adalah dosa double:

1. Memberikan berita yang tidak akurat.
2. Melakukan penipuan jurnalistik.

Berikut contohnya:

1. Pemberitaan sekitar Reaktor di Fukushima. Berita ala detik.com adalah seperti berikut:

http://us.detiknews.com/read/2011/03/16/181028/1593547/10/kebocoran-radiasi-nuklir-jepang-luar-biasa-besar?9911022

Berdasarkan data yang direlease oleh MEXT sebagaimana berikut:


http://eq.wide.ad.jp/files_en/110315fukushima_2030rev2_en.pdf

Rasanya terlalu gegabah “detik.com” menuliskan kalimat:

1. “Kebocoran Radiasi Nuklir Jepang Luar Biasa Besar”

2. “Rusaknya reaktor nuklir di Fukushima Jepang pasca gempa dan tsunami, sudah sangat mengkhawatirkan. Ancaman radiasi sudah dalam tingkat yang sangat berbahaya, apalagi jika reaktor meledak.”

3. “Dia mengatakan equivalen panas yang dihasilkan sangat tergantung dengan sisa bahan bakar yang masih ada di reaktor. Kondisi paparan radiasi di Tokyo telah mencapai 0,46 mili sieverts. Sementara dalam keadaan normal hanya sekitar 0,16 mili sieverts.”

Tidak sulit membaca data MEXT tersebut untuk memahami bahwa radiasi nuklir tidak se-ekstrim yang mereka gambarkan. Memang pernah terjadi lonjakan sedikit radiasi, yang tidak berbahaya bagi kehidupan, tapi sekarang ini radiasi di Tokyo sudah kembali ke kisaran normal.

Yang perlu kita sedihkan adalah kelas detik.com, metrotv , tvone dst yg. agaknya belum naik kelas sejak jaman reformasi 1998, yaitu media2x yg mengedepankan sensasi, mengumbar agitasi dan provokasi, untuk mengejar oplah; seolah mereka telah berajojing ria di atas kegelisahan dan keresahan para pekerja dan pelajar di Jepang.

Coba bandingkan dengan New York Times atau Nature, sebagaimana terdapat di link berikut:

http://www.nytimes.com/interactive/2011/03/12/world/asia/the-explosion-at-the-japanese-reactor.html?ref=asia


http://blogs.nature.com/cgi-bin/mt/mt-search.cgi?Template=nautilus&IncludeBlogs=32&search=fukushima

2. Pemberitaan sekitar “mati listrik” di Jepang. Saya hanya meng-copy-paste paragraf awal disini:


http://us.detiknews.com/read/2011/03/17/083122/1593828/10/jepang-berusaha-hidupkan-kembali-listrik-pltn-fukushima?9911012

“Pasca gempa dan tsunami, listrik di Jepang mati akibat sejumlah pembangkit nuklir rusak. Saat ini sejumlah pekerja diturunkan untuk mengembalikan pasokan listrik.”

Silahkan rekan2x nilai sendiri kualitas jurnalistik “detik.com” secara khusus dan media di Indonesia secara umum. Yang jelas saya menyaksikan sendiri, orang di Tokyo masih sempat ngopi dengan santai di kafe2x; sekalipun memang dibatasi. Foto ini diambil di Starbucks, Jiyugaoka sesaat berita itu muncul:

Kebetulan saya termasuk yang beruntung karena memiliki akses internet yg mudah dan karib kerabat yang cukup banyak di Jepang; yang tersiksa adalah rekan2x dan saudara2x kita yg kesulitan memiliki akses komunikasi kepada karib-kerabat di Indonesia.

Kalau modus ini dilakukan kepada berita sekelas video porno “pria berkumis tidak
mirip anis matta
“, atau gosip “pria menawan bernama Raul Lemos di mata KD“, itu tidak masalah … tapi ini menyangkut nyawa orang di Jepang dan keresahan para karib-kerabat mereka di Indonesia!

Read Full Post »

Sebuah presentasi menarik dari Scott Aaronson

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »