Feeds:
Pos
Komentar

Saatnya reformasi di PSSI

Sebagaimana kita saksikan akhir-akhir ini, Alhamdulillah, ternyata Allah SWT masih mengijinkan timnas Indonesia untuk bangkit.

Timnas Indonesia tidak selayaknya terpuruk; kita punya pendukung yang sangat fanatik, memiliki budaya main sepakbola yang sangat mengakar, dan punya segudang pemain yang memiliki talenta yang tinggi. Belum lagi kita punya semangat nasionalisme yang siap dikobarkan kapan pun.

Kemudian, dimana permasalahan sepakbola Indonesia?

Jawabannya mudah, yaitu di PSSI.

Sejak awal 1980-an, agaknya PSSI terjerembab dalam dunia korupsi, koneksi, dan nepotisme. Para raja-raja lokal ini, seperti Nugraha Besoes yang menduduki Sekum selama 27 tahun, atau para ketua PSSI yang menduduki pos tersebut selama lebih dari 5 tahun, sejatinya adalah penghalang bagi PSSI untuk berprestasi. Mengenai hal ini, secara singkat diilustrasikan dalam gambar berikut:

Semoga kini adalah saat yang tepat bagi PSSI mereformasi diri … Aamiin!!!

Terkait:

http://olahraga.kompasiana.com/bola/2010/08/27/nugraha-besoes-sekjen-pssi-sejak-1983/

https://bolaindo.wordpress.com/

http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=152553

11 tahun lalu, ketika mengerjakan tugas akhir S1, saya mensimulasi Persamaan Schroedinger Nonlinear dengan menggunakan Pentium 1. Kalau tidak salah butuh satu hari untuk mensimulasi sebuah gambar.

Kini, untuk sebuah gambar, dengan menggunakan iMac dengan memori 4 GB dan Intel core 2 Duo, butuh 5 hari untuk menghasilkan sebuah gambar, simulasi dari Rabi oscillations, untuk 6000 number points dan 1000 foton dalam cavity QED.

Berikut simulasi Maple-nya:

Dan inilah Rabi oscillations, setelah ditransformasi sebagaimana dijelaskan di paper saya di Journal of Mathematical Physics, yg dihasilkan:

Dalam paper tersebut, jumlah number of points-nya sangat rendah, sehingga hasilnya kurang optimal/bagus. Pada Ph.D thesis, yg akan diupload di arxiv, disajikan simulasi yang lebih halus.

Nurdin Khalid dan Laser

INDONESIA!

Belajar Bikin Perusahaan

http://cache.armorgames.com/files/games/corporation-inc-7348.swf

Leopard di Chrome

Siapakah yg membunuh JFK?

Siapakah yg membunuh JFK? Wallahu`alam.

Tapi video berikut dapat membantu membuka misteri tersebut.

Di keheningan, aku mencoba meraba,

Meraba penderitaan para pengungsi Merapi

Pengungsi merapi, bukanlah selebriti atau politisi

yg selalu tamak akan popularitas, kekuasaan, harta, dan jabatan

Pengungsi merapi hanyalah rakyat jelata, yang jujur dalam mencari harta

Mereka rela hidup di kaki gunung yg penuh resiko,

yg terpenting rejeki mereka adalah rejeki halal

Di keheningan, aku mencoba meraba,

Meraba pengorbanan para relawan Merapi

Relawan Merapi bukanlah mereka yg koar2x berjihad,

Mereka juga bukan selebriti dan politisi

Yang tamak akan publisitas di media

Relawan Merapi adalah pahlawan yg sesungguhnya

Dalam benak mereka, berkorban dan memberi adalah harta sesungguhnya


Ya Allah, Ya Rabbi, sungguh terdapat hikmah dalam setiap kejadian yang Engkau takdirkan …

Setidaknya Engkau ingin menunjukkan pelajaran berharga dari para pengungsi dan relawan Merapi …

Tahun 2014, mungkin kita tak punya lagi kota Jakarta.

Pada saat itu besar kemungkinan Jakarta sudah tenggelam, transportasinya sudah kolaps disebabkan kemacetan yang tak tertolong lagi, 1 dari 5 pelajarnya adalah pecandu narkoba; alias akan terjadi lost generation besar-besaran.

Tentu, ke-pesimis-an tersebut bukan tanpa dasar, melainkan dengan menimbang data-data berikut:

1. Tanah Jakarta turun sekitar 8-14 cm setiap tahunnya [1]. Pada tahun 2014, Jakarta akan turun sekitar 70 cm dibanding tahun 2010. Ini disebabkan pembangunan yang tidak kenal batas, dari kalangan mall ataupun pengembang yang serakah, sehingga menguras air tanah Jakarta. Keadaan diperparah oleh primitifnya teknologi pengairan di Jakarta; contoh yang terjelas adalah tragedi situ gintung di Cirendeu [2], salah satu situ terbesar dan terindah di Jakarta, yang kini tinggal kenangan, disebabkan kebodohan pihak-pihak terkait.

2. Kemacetan Jakarta semakin hari semakin menjadi, mengingat penjualan kendaraan bermotor tanpa kenal batas[3]. Per lima tahun jumlah kendaraan bertambah 9,5 % pertahun, tetapi jalan hanya berkembang 0,01 % per tahun. Para pakar memperkirakan tahun 2014 Jakarta akan kolaps akibat kemacetan, ironisnya MRT baru akan dibangun pada tahun 2014 [3].

3. Bisnis Narkoba agaknya sangat menjanjikan di Indonesia, khususnya di Jakarta; mungkin karena beking ke para bandar narkoba dari oknum aparat masih sangat kuat. Setiap tahun terjadi peningkatan sekitar 100 % pengguna narkoba baik dari kalangan SD, SMP, maupun SMA [4]. Tahun 2006, sekitar 6 % siswa SMP adalah pengguna narkoba [5]; entah tahun 2010. Dengan asumsi penambahan 1 % pertahun saja, sudah 10 % pelajar SMP adalah pengguna narkoba di 2014.

Inti sebab kehancuran Jakarta disebabkan ketamakan.

Pihak-pihak swasta telah mengeksploitasi Jakarta tanpa batas: para pengembang dengan tamak membangun mall, perumahan, gedung dst, menguras habis air tanah Jakarta; para pedagang mobil dan motor menjual tanpa memiliki sensitivitas kemacetan Jakarta; para penjual narkoba demi ketamakannya tidak memikirkan masa depan anak-anak bangsa.

Keadaan diperparah oleh para oknum aparat yang menjadi pelacur pihak-pihak yang tamak tersebut. Diperparah oleh rendahnya pengetahuan pada bidang-bidang terkait, yang mengakibatkan tidak ada solusi-solusi kreatif dan inovatif untuk menjawab ke-kompleksitas-an permasalahan yang dihadapi. Permasalahan Jakarta sangat kompleks, tapi solusi dari para aparat sangat-sangat primitif.

Untuk menghindari Jakarta dari tenggelam, kolaps akibat macet, maupun lost generation, selain dibutuhkan revolusi terobosan sains dan teknologi dalam bidang-bidang terkait, juga dibutuhkan keberanian dalam menghadapi mafia baik dari kalangan swasta maupun oknum aparat.

Selain itu, kehancuran Jakarta di 2014 Insya Allah benar-benar akan terjadi.

Alhamdulillah paper berikut telah dipublikasi online

A. Trisetyarso and R. Van Meter, “Circuit Design for A Measurement-Based Quantum Carry-Lookahead Adder”, arXiv:0903.0748, Int. J. Quantum Inf. 8, 843 (2010); doi:10.1142/S0219749910006496 .