Feeds:
Pos
Komentar

Mohon bantuan

Bagi rekan2x yang mampu memecahkan masalah ini, mohon bagi2x ilmu, ya …

Bang Fauzi

bangoji

Quantum vs. Classical

Dimanakah menariknya fisika kuantum?

Ini salah satu topik yang lagi hot : Rabi Oscillation.

Rabi Oscillation adalah salah satu parameter untuk mengkuantifikasikan spin coherent.

Jika medan foton diasumsikan bersifat klasik, maka osilasinya akan berbentuk seperti berikut:

roc

Sedangkan, jika dimasukkan unsur kuantumnya, akan seperti berikut:

roq

Dengan formulasi yang sama, dapat dihasilkan gambar2x berikut:

roqd2

roqd1

roqd7

Menanti Keadilan

Seperti juga Bang Buyung, saya masih agak terganggu tidurnya mikirin kesaksian Wiliardi Wizar beberapa waktu lalu. Betapa dahsyatnya konspirasi besar dalam menghancurkan KPK yang terjadi akhir2x ini sehingga perlu dibuat sebuah cerita yang menghadirkan Rhani Juliani, Anggodo dkk.

Terutama dalam kasus Antasari, mari kita pikirkan konsekuensi2x dari kasus ini.

Kalau diperhatikan, seluruh eksekutor memiliki kesamaan : jiwa patriotisme dan nasionalisme-nya sangat tinggi. Mulai dari WW sampai dengan para eksekutor yang ecek2x memiliki prestasi dalam membela negara dalam levelnya masing2x. Jenderal WW memiliki karir yang sangat cemerlang di kepolisian, sedangkan para eksekutor ada yang pernah mendapatkan penghargaan dari Polda/Polri dst.

Begitulah akhir tragis para manusia2x berprestasi tersebut : akan menjadi pecundang sebagai dan dicap sebagai pembunuh bayaran oleh Pengadilan, terlepas siapakah intellectual dader-nya. Apakah kelak yang terbukti adalah Antasari ataukah orang di Polri yang menjadi dalang semua ini, hukuman agaknya sulit lari dari para eksekutor. Sungguh tragis, niat hati menjadi pembela negara, berakhir menjadi penjahat masyarakat!

Begitu juga mari kita bayangkan bagaimana nasib para keluarga yang akan divonis. Pak Wiliardi sendiri kemarin mengatakan, bahwa Bapaknya langsung sakit, anaknya berhenti sekolah, karena dia masuk Televisi sebagai pembunuh. Kita sendiri dapat melihat dengan jelas bagaimana keadaan Istri Pak Wiliardi yang terlihat sangat depresi karena Suaminya terseret dalam kasus ini.

Itu level Kombes Polisi; kita tidak tahu bagaimana nasib keluarga para eksekutor. Agaknya nasib mereka pastilah lebih buruk dari Kombes Wiliardi.

Yang lebih mengerikan, kalau kelak kasus ini menghukum manusia yang tidak bersalah sama sekali. Bagaimana jika Antasari ternyata benar2x tidak bersalah tapi kelak dihukum pengadilan karena kekuatan konspirasi jahat benar2x tak terkalahkan? Bagaimana jika ternyata Polri akhirnya terbuka mengakui konspirasi ini tapi kembali *akan mengkorbankan* oknumnya yang tidak bersalah, sebagaimana mereka mengkorbankan Kombes Wiliardi?! Seperti M Iriawan, benarkah memang dia yang bersalah? Tidakkah dia juga hanya seorang prajurit Polri yang juga loyal kepada institusi dan atasan yang terseret-seret dalam kasus ini? Lantas, kalau kelak terlanjur dihakimi, pernahkah kita berpikir mengenai nasib keluarganya?

Allahu Akbar … agaknya kita akan melihat akhir yang benar2x tragis dari kisah ini semua …

Semoga kelak Allah SWT akan memberikan keadilan sejati kepada mereka yang dizhalimi di akhirat kelak, setelah mereka gagal menemukan keadilan di dunia yang fana ini.

Hanya kepada-Nya segala urusan dikembalikan …

Di hari Pahlawan kemarin, kita semua dicengangkan oleh keberanian seorang Williardi Wizar yang berani *berkata jujur*, mengungkap konspirasi yang terjadi dalam kasus pembunuhan Nasrudin.

Beliau mengatakan bahwa setidaknya dua petinggi polisi terlibat dalam skenario jahat untuk menghancurkan Antasari : Irjen Pol Hadiatmoko dan Brigjen Pol M Iriawan Dahlan.

(Referensi, sebagai contoh : http://berita.liputan6.com/hukrim/200911/250584/Wiliardi.Penahanan.Antasari.Dikondisikan.Petinggi.Polri)

Ternyata, sebagaimana eksekutor2x lainnya, Sdr. Wizar dibohongi oleh para petinggi polri tersebut, bahwa apa yang dilakukannya adalah tugas negara.

Sangat tidak mudah mengatakan kebenaran dalam situasi seperti itu.

Dapat dibayangkan, konsekuensi2x apa yang akan dialami oleh Sdr. Wizar dan keluarga akibat dari kejujurannya tersebut. Benarlah Sunnatullah yang berlaku sejak era para Nabi bahwa kejujuran dan mengungkap kebenaran selalu ada harganya; dan tidak sedikit dari kalangan para pahlawan tersebut yang diuji oleh ketakutan (karena ancaman) , kelaparan (karena kesulitan ekonomi), bahkan sampai kehilangan harta dan jiwa, sebagai bayaran dari idealisme dan keyakinan mereka.

Setelah Pak Bibit, ternyata kita menyaksikan bahwa masih ada juga Pahlawan dari kalangan kepolisian, yang selama ini stigmanya sudah buruk.

Semoga Allah SWT melindungi Bapak Wizar dan sekeluarga. Amin ya rabbal `alamiin …

Air mata sang Buaya

susno001

Pemelihara para Truno

anggodo.001

PrintedPresentationOct2009.001

Handoutnya ada disini : https://trisetyarso.com/wp-content/uploads/2009/10/handoutoct2009.pdf

[Updated]

Alhamdulillah sudah diupload di youtube:

Asing

Dahulu kala, 20-30 tahun yang lalu, bangsa kita masih melihat bangsa asing sebagai sesuatu yang tinggi. Lulusan universitas asing dianggap/menganggap dirinya manusia setengah dewa. Perusahaan-perusahaan asing dianggap lambang kemakmuran dan kesejahteraan.

Kini bisa jadi anggapan tersebut tidak terlalu berlaku lagi.

Superioritas kemakmuran?

Kini kemakmuran tidak identik dengan perusahaan asing/ lulusan universitas asing. Terlalu banyak contoh di negeri kita, manusia yang tidak lulusan universitas asing, bahkan banyak juga yang tidak menempuh pendidikan formal, dapat lebih makmur daripada yang lulusan universitas asing dan pekerja di perusahaan asing.

Yang terkenal contohnya : Aa Gym, KH. Zainuddin MZ., Yusuf Mansyur, Arifin Ilham, … dst … anggota DPR, anggota DPRD, … dst, … pengusaha2x otodidak yang sulit disebutkan satu persatu nama2x mereka.

Saya punya seorang paman; yang “cuma” lulusan STM. Tapi, kekayaan hartanya tidak kalah dengan seorang direktur perusahaan asing. (alhamdulillah beliau juga kaya hati)

Setiap ada acara keluarga, beliau selalu berpesan:

” … Gung, yang paling penting itu adalah `ilmu hidup`; ilmu kamu di kuliah itu paling cuma 5 persen berpengaruh di hidup kamu …”

Nasihatnya yang lain, disampaikan ketika kami olahraga pagi:

” … prinsip saya adalah membantu orang lain; kalau tidak bisa dengan uang, dengan tenaga. Kalau tidak bisa tenaga, dengan doa … ”

Sulit mengatakan beliau sedang asal bunyi, mengingat beliau memang seorang yang sudah sangat berhasil dalam hal harta. (dan alhamdulillah juga kaya hati.)

Dan kita bersyukur, beberapa dekade terakhir ini manusia2x mulia seperti itu semakin banyak saja di negeri kita.

Superioritas keilmuan?

Selain masalah kemakmuran, lulusan universitas asing/ orang asing seolah juga identik dengan superioritas keilmuan. Sekali lagi, 20-30 tahun lalu, jika ada Ph.D dari universitas asing, identik dengan seseorang yang memiliki superioritas dibidang keilmuan.

Kini terlihat, hal itu sama sekali tidak menjamin.

Mari kita coba mulai dari kasus para sarjana yang dikirim ke universitas-universitas ternama dalam hal agama.

(Sebetulnya ini paradoks tersendiri : seseorang belajar agama kepada bukan ahli agama)

Ada seseorang (inisial : NM) belajar sampai Ph.D pemikiran Ibnu Taimiyyah, tapi dalam realitanya ia adalah penentang pemikiran Ibnu Taimiyyah. Begitu juga ada yang mempelajari Ikhwanul Muslimin (inisial : AR), tapi nilai2x Ikhwanul Muslimin gagal mengkristal dalam dirinya. Adapula yang belajar sejarah Indonesia untuk menjadi ahli sejarah Indonesia, tapi justru ketika pulang menjadi seseorang yang kelak mendistorsi sejarah Indonesia itu sendiri.

Justru, begitu banyak manusia2x mulia di negeri kita yang belajar Islam dan ilmu-ilmu sosial lain secara otodidak, akan tetapi menjadi ahli-ahli fiqh, politik islam, dan ahli sosial yang lebih fasih daripada mereka yang lama di luar negeri tapi pulang tidak lebih sebatas penyambung lidah para pemberi beasiswa.

Dalam hal sains juga serupa. Seorang Ph.D dalam hal fisika tidak menjamin ia memahami fisika. Ini dapat terlihat ketika begitu banyak Ph.D yang terkelabui dan bungkam seribu bahasa pada peristiwa runtuhnya 3 gedung WTC yang ditubruk oleh 2 pesawat di 11 September 2001.

Sementara para Ph.D bungkam seribu bahasa, begitu banyak mereka yang belajar fisika secara otodidak tetapi dapat memahami Hukum Fisika dibalik peristiwa 11 September 2001 tersebut.

————

Ironis memang, tidak sedikit para lulusan asing, tidak sedikit pula yang berasal dari universitas2x terbaik di dunia, yang justru tidak hanya membebani negara, tapi juga membebani keluarga. Pendidikan di luar negeri hanya mengajari yang bersangkutan untuk tinggi hati (baca:sombong) tanpa diikuti dengan harga diri yang meninggi. Semakin pintar menuntut, tapi semakin kikir untuk memberi.

Inilah ciri2x manusia yang berilmu tapi tidak berkah : bertambahnya ilmu tidak mengakibatkan kebaikan pada dirinya dan masyarakat.

Berikut tilawah surah Al-Ahzaab dari Syaikh Muhammad Ayyoub