Feeds:
Pos
Komentar

Mari masyarakat Indonesia gempur masalah ini beramai2x!!!!

http://en.wikipedia.org/wiki/Computational_complexity_theory

The P versus NP problem and other open questions
[edit] P = NP
Main article: P versus NP problem
See also: Oracle machine

The complexity class P is often seen as a mathematical abstraction modeling those computational tasks that admit an efficient algorithm. The complexity class NP is the set of decision problems that can be solved by a non-deterministic Turing machine in polynomial time. This class contains many problems that people would like to solve efficiently, including the Boolean satisfiability problem, the Hamiltonian path problem and the vertex cover problem. All the problems in this class have the property that their solutions can be checked efficiently.[3]

Since deterministic Turing machines are special nondeterministic Turing machines, it is easily observed that each problem in P is also member of the class NP. The question of whether P = NP (can problems that can be solved in non-deterministic polynomial time also always be solved in deterministic polynomial time?) is one of the most important open questions in theoretical computer science because of the wide implications of a solution.[3] If the answer is yes, many important problems can be shown to have more efficient solutions that are now used with reluctance because of unknown edge cases. These include various types of integer programming in operations research, many problems in logistics, protein structure prediction in biology, and the ability to find formal proofs of pure mathematics theorems.[4][5]

The P = NP problem is one of the Millennium Prize Problems proposed by the Clay Mathematics Institute the solution of which is a US$1,000,000 prize for the first person to provide a solution.[6]

Questions like this motivate the concepts of hard and complete, explained below.

Picture 1

Berikut abstract pendekatan quantum computation untuk memecahkan permasalah ini:

Picture 2

Di Google Scholar

Insya Allah daftarnya bertambah secara eksponensial di tahun depan …

Picture 2

Terimakasih Pak JK!

Saya detik ini sedang mengikuti wawancara dengan Pak Jusuf Kalla di Metro TV.

Kesan saya, Pak JK ini memang sosok yang luar biasa.

Selama menjabat sebagai wapres beliau tidak segan-segan berbeda pendapat dengan SBY; pendapat dan kebijakan beliau relatif pro-rakyat dibanding dengan kelompok2x neolib. Seperti pada kasus Bank Century, untung saja beliau memerintahkan penangkapan Robert Tantular dkk.

Selain itu, beliau memang negarawan yang tulus. Terlihat tidak ada kekecewaan jika beliau pernah dikhianati atau terlihat ada tanda-tanda post power syndrome.

Di era SBY-JK, secara tidak sadar, kita melalui era emas : terlalu banyak prestasi yang ditorehkan oleh pasangan ini.

Semoga Pak JK tetap berpengaruh di bangsa ini, sekalipun beliau tidak lagi menjabat sebagai wapres. Beliau sangat layak dinisbatkan sebagai guru bangsa yang sesungguhnya.

Sekali lagi … terimaksih Pak Jusuf Kalla … semoga Allah SWT membalas kebaikan anda baik di dunia maupun akhirat kelak … Amiiin !!!

Picture 2

http://www.washingtonpost.com/wp-dyn/content/article/2009/10/12/AR2009101203142.html

Picture 3

Perdamaian

[Original by Drs. H. Abu Ali Haidar]

Perdamaian, Perdamaian [4x]
Perdamaian, Perdamaian [4x]
Banyak Yang Cinta Damai Tapi Perang Semakin Ramai [2x]
Bingung Bingung Ku Memikirnya [4x]
Perdamaian, Perdamaian [4x]
Banyak Yang Cinta Damai Tapi Perang Semakin Ramai [2x]
Wahai Kau Anak Manusia Ingin Aman Dan Sentosa [2x]
Tapi Kau Buat Senjata Biaya Berjuta Juta
Tapi Kau Buat Senjata Biaya Berjuta Juta
Banyak Gedung Kau Dirikan Kemudian Kau Hancurkan
Banyak Gedung Kau Dirikan Kemudian Kau Hancurkan
Bingung Bingung Ku Memikirnya [4x]
Perdamaian, Perdamaian [2x]
Banyak Yang Cinta Damai Tapi Perang Semakin Ramai
Bingung Bingung Ku Memikirnya [4x]

Pada tahun 1990-an, sebuah negeri digdaya bernama Uni Sovyet secara mendadak membubarkan diri. Ketika itu, Soviet bubar karena bangkrut membiayai perang Afghanistan, dan juga tidak sanggup menghadapi gempuran kapitalisme yang ketika itu semakin booming.

Pada awal 2000-an, terutama ketika United States semakin kewalahan membiayai perang Irak dan digempur oleh krisis keuangan pada 2007, ada yang berpendapat US tidak akan berumur lama lagi. Ironis, karena kebijakan bailout Pemerintah US, seolah membawa negeri tersebut ke arah fasisme, atau mirip-mirip komunis. Dengan kata lain, akhir kapitalisme adalah komunisme.

Bailout yang diterapkan oleh pemerintah US hanya menyebabkan hyperinflation, karena bailout dilakukan dengan mencetak uang sebanyak-banyaknya. Hyperinflation akan menyebabkan jatuhnya nilai US Dollar (currency collapse). Negara2x yang memiliki devisa dalam US Dollar pada akhirnya akan mengkonversi kepada mata uang lain, karena tidak ingin devisanya jatuh; padahal US Dollar kini satu2xnya komoditas eksport andalan US, mengingat produksi barang kini di outsource ke negara2x lain.

[Silahkan pelajari disini: http://www.youtube.com/watch?v=wSLGWCsveSE]

Sehingga terbuka kemungkinan, US akan kembali melakukan invasi kepada negara2x yang mencoba mengganti cadangan devisanya ke selain US Dollar. Contoh negara yang tengah mengkonversi devisanya ke selain US Dollar adalah Irak, maka dari itu Irak menjadi korban invasi US.

[Silahkan lihat disini : http://www.youtube.com/watch?v=-zy9W9kB-mg]

Salah satu kemiripan nasib United States dan Uni Soviet adalah, Gorbachev menerima Nobel perdamaian, setahun sebelum bubarnya UniSoviet. Sekarang ini, Obama pun menerima Nobel … mengindikasikan 1-2 tahun lagi US akan bubar (!)

Wallahu`alam!

8 Most Outrageous Attacks On Obama’s Nobel Peace Prize

Posted using ShareThisPicture 5

Mengenal “Dunia”

Jika kulalui pagi hari, ‘ku tak tahu kemana ‘kan melangkah sore hari. Jika kulalui sore hari, ‘ku tak tahu kemana ‘kan kulewati pagi hari. Wahai dunia! Kemana kau mempermainkanku?. Wahai dunia! Sampai kapan kau membuatku lelah?. Menjauhlah dariku! Menjauhlah dariku! Kau bukan milikku dan aku bukan milikmu. Sungguh benar apa yang dikatakan oleh seseorang, “Dunia ini musibah yang besar dan obatnya ada di dalamnya. Sungguh banyak orang yang memperingatkan (akan bahaya dunia), sedangkan harapan ada padanya.” Seorang melantunkan suatu syair, “Itulah dunia selalu berputar sebagaimana yang engkau saksikan. Barangsiapa yang disenangkan oleh satu masa, maka masa-masa lainnya akan menyusahkannya.” Berkata Al-Habib Abdullah bin Alwi Alhaddad, “Itulah dunia yang bernilai rendah. Tipu muslihatnya banyak. Waktunya sebentar. Dan kehidupan di dalamnya yang hina.”

Picture 4

Jihad dan izin orang tua

Dari Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu ‘anhu, Ia berkata : Datang seorang laki-laki kpd Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta izin untuk berjihad, maka beliau bersabda :

“Arti : Apakah kedua orangtuamu masih hidup ? Ia berkata : Ya, Nabi bersabda : “(berbakti) kpd kedua nerupakan jihad” Hadits ini disepakati keshahihannya. Pada riwayat yg lain beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ‘Kembalilah kpd kedua lalu minta izinlah, jika mereka mengizinkan maka berjihadlah, jika tdk maka berbaktilah kpd keduanya” [Diriwayatkan oleh Abu Daud]

Tanpa ijin orang tua, beginilah nasib jihad seseorang:

http://www.detiknews.com/read/2009/10/10/144746/1219097/10/syaifudin-zuhri-tewas-ayah-dani-puas?991101605

Picture 2

Beliau malah mengutuk tindakan yang dilakukan oleh SZ, karena telah menjerumuskan anaknya kepada jalan yang tak benar:

Picture 3

Semoga apa yang terjadi kepada almarhum Dani, tidak terulang lagi.

Amiiin …

Kontribusi saya

Insya Allah ini baru permulaan, bukan akhir !

Picture 2

Berdiri dihadapan Rabb

Picture 1

” … Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya …” (Al-Baqarah : 45-46)

Saudara-saudara dan rekan-rekanku,

Di dalam keyakinan kita, setiap dari kita kelak akan mempertanggungjawabkan apa yang kita perbuat dihadapan Tuhan. Setiap ruh akan datang bershaf-shaf kepada Tuhan dan satu persatu mempresentasikan apa yang telah kita perbuat selama hidup.

“Pada hari, ketika ruh dan para malaikat berdiri bershaf-shaf, mereka tidak berkata-kata kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pemurah; dan ia mengucapkan kata yang benar.” (An-Naba : 38)

“Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing). Dan terang benderanglah bumi (padang mahsyar) dengan cahaya (keadilan) Tuhannya; dan diberikanlah buku (perhitungan perbuatan masing-masing) dan didatangkanlah para nabi dan saksi-saksi dan diberi keputusan di antara mereka dengan adil, sedang mereka tidak dirugikan.” (Az-Zumar : 68-69)

Pada hari tersebut, tangan dan kaki bahkan akan bersaksi akan amal-amal yang telah kita perbuat,

” … Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan …” (Yasin : 65)

Dapat dibayangkan, betapa lamanya kita berdiri dihadapan Allah SWT; kalau kita diberi umur 60-an tahun, maka bisa jadi selama itu pula kita berdiri dihadapan Allah SWT. Karena jika setiap amal butuh alasan, bisa jadi kita akan berdiri dihadapan Allah SWT lebih lama dari 60 tahun (jika umur di dunianya 60 tahun).

Sebagaimana presentasi di dunia yang akan gagal karena tidak dipersiapkan, begitu juga kelak akan ada presentasi di akhirat yang gagal, disebabkan yang bersangkutan tidak mempersiapkan presentasinya dengan baik.

” … Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata: “Wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini), dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku, Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu. Hartaku sekali-kali tidak memberi manfa’at kepadaku. Telah hilang kekuasaanku dariku … ” (Al : Haaqah : 25-29)

Ini berbeda dengan mereka yang telah mempersiapkan presentasi dihadapan Rabb-nya jauh-jauh hari; mereka akan mengalami hisab yang mudah.

” … Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira. ” (Al-Insyiqaq : 7-9)

” … Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia berkata: “Ambillah, bacalah kitabku (ini)”. Sesungguhnya aku yakin, bahwa sesungguhnya aku akan menemui hisab terhadap diriku. Maka orang itu berada dalam kehidupan yang diridhai, dalam surga yang tinggi. Buah-buahannya dekat, (kepada mereka dikatakan): “Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari- hari yang telah lalu”. (Al-Haaqah : 19-24)

Latihan ini dilakukan dengan cara shalat.

Shalat pada hakikatnya adalah latihan untuk mempertanggungjawabkan apa yang telah kita perbuat dihadapan Allah SWT; maka dari itu ciri kekhusyukan dalam shalat adalah kita dapat merasakan sedang berada di depan Tuhan, atau setidaknya sedang berada dalam pengawasan-Nya, dan meyakini bahwa pasti akan bertemu dan kembali kepada-Nya.

” … Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya …” (Al-Baqarah : 45-46)

Rasulullah SAW bersabda, “Ihsan adalah hendaknya engkau menyembah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, jika tidak melihat-Nya engkau senantiasa dilihat oleh-Nya.”

Semakin sadarnya kita akan saat-saat yang mengerikan, mendebarkan, dan menentukan ketika hari hisab, hari perhitungan, maka semakin pula kita akan sadar untuk meningkatkan kekhusyukan dalam shalat.

Oleh karenanya, mari kita bayangkan Hari Perhitungan tersebut dalam setiap shalat kita; bahwa setiap bacaan adalah presentasi, pertanggungjawaban dihadapan Rabb, Tuhan semesta alam. Kalau pun kini kita hanya butuh 5-10 menit ketika berdiri dalam shalat, itu masih tidak ada apa-apanya dibandingkan kelak kita harus berdiri selama puluhan, bahkan ratusan, ribuan tahun, tanpa istirahat di padang mahsyar nanti.

Picture 7

“Bersikap adil-lah, karena ia mendekatkan kepada ketakwaan”(Al-Maidah:8)

Seringkali perkataan tersebut digunakan dalam konteks poligami, yaitu bahwa bersikap adil kepada beberapa istri itu sangat sulit.

Hari ini, saya baru paham bahwa bersikap adil itu memang sangat sulit; bukan dalam konteks poligami, tapi dalam konteks bersikap adil terhadap diri sendiri.

Dalam suatu kesempatan, KH. Zainuddin MZ pernah mengingatkan, bahwa waktu yang diberikan oleh Allah SWT, hendaknya dibagi kepada tiga:

1. Waktu untuk beribadah kepada Allah SWT.
2. Waktu untuk keluarga.
3. Waktu untuk diri sendiri.

Adil dalam konteks ini yaitu dapat adil dalam membagi waktu yang ada dalam tiga bagian tersebut; Allah SWT, keluarga, dan kita sendiri punya hak atas waktu kita.

Ketika ada seorang anak adam gagal bersikap adil terhadap waktu2x-nya, maka besar kemungkinan ia akan tergelincir kepada kerugian. Semisal, ia sangat egois sehingga mendahulukan diri sendiri di atas keluarga bahkan Tuhannya, sangat mungkin keluarganya hancur dan bahkan terjerembab di jurang kesesatan.

Manusia di zaman seperti ini, sangat dituntut oleh pekerjaan. Pekerjaan menguras otak dan fikiran, hingga seringkali sangat sulit untuk bersikap adil terhadap Tuhan dan keluarga. Kalau tidak salah, di Jepang ini tingkat kelahiran sangat rendah, yang merupakan indikasi bahwa kepentingan keluarga sudah sangat dikesampingkan.

Begitu juga, tidak ada alokasi waktu yang memadai untuk berhubungan dengan Sang Khaliq, hingga banyak manusia yang frustasi dan tidak sedikit yang berujung bunuh diri. Di hari ini banyak manusia yang gagal menemukan kenikmatan beribadah; hidupnya kering ruhani. Pencapaian materi memang tinggi, tapi kosong dari makna.

Mari kita memohon kepada Allah SWT, agar kita diberikan kemampuan untuk bersikap adil terhadap diri kita.