Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Oktober 3rd, 2007

Revolusi Para Marbot

Hadirin yang semoga dirahmati Allah SWT.,

Jika kita search di google kata berikut “Revolusi Marbot”, maka akan munculah blog ini pada ranking pertama.

Mimpi orang model seperti saya memang revolusi yang dibuat oleh para marbot. Agaknya di zaman seperti sekarang ini, hanya para marbotlah yang masih dapat didengarkan hati nuraninya. Para Kiai seringkali telah terjatuh kedalam jurang dunia, meskipun dengan ilmu yang setinggi langit.

Jika masih mendengar kejujuran, maka dengarkanlah para marbot. Marbot terbiasa bekerja dalam keadaan gelap dan sunyi, sehingga para marbot dekat dengan Allah SWT. Ini kontras dengan para kiai selebriti, yang terbiasa bekerja dalam terangnya media massa dan gegap gempitanya dunia.

Allah SWT telah menetapkan, para marbotlah penjaga alam semesta ini hingga hari akhir; alam semesta akan berakhir ketika tiada lagi marbot di muka bumi ini. Alam semesta tidak akan hancur sekalipun para kiai absen dari panggung media massa maupun panggung politik.

Akhirul kalam, semoga para marbot di Indonesia dapat menggebrak dunia, sebagaimana para biksu di Myanmar yang mulai bersuara melawan kedzhaliman.

Amiin.

Read Full Post »

(Ditulis sebagai tanggapan http://kramput.blogspot.com/2007/08/kepada-ibu-ivonne.html . )

Rekan-Rekan yth.,

Kalimat di atas bukanlah kalimat bersayap atau mengada-ada; tapi itu adalah kalimat yang menunjukkan perasaan saya sesungguhnya hari ini. Rasanya jarang kita dapat merasakan hal serupa di negeri sendiri.

Hari ini saya dihukum oleh Ibu Misaki-Sensei, karena mendapatkan Quiz I pada kelas bahasa Jepang dengan angka dibawah 10 pada skala 100. Yang bernasib serupa dengan saya adalah Rahman, teman seangkatan saya yang berasal dari India. Maklum, kami masuk ke Universitas Keio melalui program IGP (International Graduate Program), yang tidak terlalu mensyaratkan bahasa Jepang. Selain itu, ada beberapa hal yang harus kami urus di beberapa hari ini.

Kembali ke topik: hari ini saya bahagia banget dihukum Misaki-Sensei.

Misaki-Sensei mengatakan bahwa setelah kelas selesai, dua anak yang mendapatkan nilai terendah harus tetap di kelas. Karena beliau guru yang kawakan, yaitu sangat berpengalaman mendidik dalam arti sesungguhnya, maka hukuman tersebut dapat kami terima dengan senang hati. Tidak ada suasana stres dan menegangkan di dalam kelas; semuanya berlangsung relax. Banyak ketawanya.

Hukuman pun dibuat dengan sangat cerdas oleh Misaki-Sensei; tujuan dari hukuman perlu disadari adalah hanyalah salah satu bagian kecil dari tujuan global pendidikan itu sendiri, yaitu agar murid mengerti dengan baik mata pelajaran yang diajarkan. Sehingga hukuman dibuat tidak untuk melampiaskan nafsu guru yang membuat murid menjadi frustasi; sebagaimana sering kita temui di dalam negeri.

Hukuman yang kami terima adalah kami mengerjakan Quiz yang serupa, dengan melihat buku (Opened Book); dari 12 soal, kami diminta mengerjakan 5 soal secara opened book. Kemudian buku ditutup, dan kami diminta mengerjakan soal secara closed book. Begitu seterusnya, hingga kami mengerti sehingga kami dapat mengerti dengan baik setiap jawaban pada Quiz tersebut.

Kelas pun juga berakhir dengan berbahagia.

Kemarin pun saya melihat pemandangan yang juga menakjubkan.

Grup Prof. Kohei M. Itoh kemarin berkumpul dan mencoba mempresentasikan riset-riset apa saja yang telah dilakukan selama ini didepan salah seorang Professor dari Prancis (Professor J.M.Gillet dari Ecole Centrale, Paris).

Yang presentasi di depan Prof. Gillet bukanlah Professor peraih hadiah Nobel atau Prof sekaliber Prof. Itoh, melainkan mahasiswa-mahasiswa S1-nya.

Jangan pula dibayangkan bahwa bahasa inggris mereka luar biasa; bahasa inggrisnya sangat acak-acakan daripada bahasa inggrisnya mahasiswa kita.

Tapi, hebatnya grup ini adalah pada *bimbingan yang luarbiasa* dari Prof. Itoh ke murid-muridnya. Murid2x tersebut dituntun dengan sabar, tanpa ada cacian, sehingga mahasiswa2x mereka tidak menjadi frustasi. Presentasi pun berjalan dengan lancar, banyak ketawanya, tanpa menghilangkan makna presentasi tersebut.

Memang sangat sulit bagi saya menceritakan keindahan seluruhnya proses pendidikan disini; ada baiknya memang dosen-dosen dan guru-guru di Indonesia mengundang langsung mereka ke indonesia, untuk merasakan secara langsung.

Yang saya ingin tunjukkan adalah ternyata belajar dapat tidak identik dengan frustasi. Belajar di kelas dapat menjadi sangat menyenangkan, asalkan sistem pendidikan di institut tersebut berjalan dengan baik.

Ini yang rasanya perlu diselesaikan di indonesia; lingkaran frustasi di negeri kita agaknya mesti diputus.

Guru frustasi karena sedikitnya penghargaan dan gaji.

Kemudian, hal ini dilampiaskan kepada murid; pelampiasan ini berupa memberi hukuman yang membuat murid frustasi.

Murid yang frustasi melampiaskan hal ini kepada yuniornya atau kepada masyarakat (termasuk kepada guru).

Maka terjadilah lingkaran frustasi yang tiada berujung.

Dapatkah lingkaran frustasi ini dihentikan? Saya yakin dapat. Itoh-Sensei, Misaki-Sensei dkk dapat membuktikan hal tersebut.

Salam dari Hiyoshi,

Agung Trisetyarso

Read Full Post »