Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Uncategorized’ Category

Malam yang sangat berkesan

Rekan-Rekan yth.,

Bagi saya malam ini penuh arti sekali.

Ketika kami shalat maghrib, kami mendapati seorang kawan dari Malaysia yang tengah sakit cukup parah.

Ketika itu tidak ada yang ada kecuali Mas Ario, Arya dan saya. Akhirnya, kami bertiga menemani Halim, kawan Malaysia tersebut, ke rumah sakit yang cukup besar di daerah sini (Motosumiyoshi).(Tidak ada batas antara Indonesia dan Malaysia disini …)

Selama perjalanan naik taksi, kami dibuat kagum atas profesionalitas supir taksi tersebut. Supir tersebut yang sudah cukup sepuh, sangat profesional; bahkan tidak ingin mengangkat telpon sebanyak dua kali yang datang ke HP-nya.

Sangat luar biasa; profesionalitas yang kudu dicontoh oleh kita semua.

Setelah kami menemani kawan dari Malaysia tersebut selama 2 jam, kami kembali ke kampus kami.

Apesnya, ID card, kunci apato dsb yang saya miliki hilang entah kemana.

Yang luar biasa lagi, SATPAM di Keio turut membantu saya dengan sabar mencari semua hal tersebut hingga ketemu.

Bagi saya ini malam yang luar biasa …

Terimakasih kepada mereka yang memudahkan urusan saya; semoga Allah SWT akan membalas kebaikan saudara-saudar semua … Amiin …

Read Full Post »

Serasa Pasir di Pantai …

Begitulah perasaan saya menghadapi dahsyatnya perkembangan QC (Quantum Computing) akhir-akhir ini.

Memahami QC itu sendiri dibutuhkan loncatan pemikiran yang tidak gampang; karena setidaknya kita harus paham dulu dasar-dasar ilmu komputer klasik dan mekanika kuantum.

Namun, ternyata sangat disayangkan, perkembangan QC teramat sangat cepat.

Diawali pada tahun 1990-an, ketika Shor menggagas Algorithm, Error Correction Code dan Fault-Tolerant, dilanjutkan oleh Alexei Kitaev dengan ide Topological Quantum Computation, dan kini yang cukup hangat dibicarakan adalah ide dari Robert Raussendorf mengenai Cluster States.

(Terimakasih berat kepada Rod-san yang mengajarkan idenya Raussendorf)

Bulum lagi kalau kita bicara ide-ide besar tapi yang belum dilirik orang; seperti ide field computernya Michael Freedman dsb.

Berhadapan dengan raksasa-raksasa itu, rasanya kerdil sekali pemikiran kita ini … ibarat Pasir di Pantai …

Read Full Post »

Rekan2x,

Ada artikel bagus dari rekan keio.

Silakan menyimak:

————————————-

Assalamualaikum Wr.Wb.

dari milis tetangga
Mungkin bakal jadi tugas kita ke depan

regards
salim

Born to be a Genius but Conditioned to be an Idiot
——————————

—————————-

All children are born geniuses ; 9.999 out of every
10.000 are swiftly, inadvertaently degeniusized by
grownups.
Buckminster Fuller

Minggu lalu saya memberikan pelatihan motivasi dan
pengembangan diri di suatu perusahaan blue chip. Saat
sesi tanya jawab, ada seorang peserta yang bertanya,
“Pak, apa yang menjadi kunci sukses untuk bisa
berhasil dalam penjualan/selling?”

“Mengapa bapak mengajukan pertanyaan ini?” saya balik
bertanya.

“Saya telah mengikuti sangat banyak pelatihan. Namun,
saya merasakan ada sesuatu, di dalam diri saya, yang
terus menghambat diri saya. Saya tidak bisa bekerja
secara maksimal,” jawab peserta ini.

Saya lalu menjelaskan mengenai Konsep Diri. Bagaimana
pengaruh Konsep Diri terhadap kinerja kita. Bila
Konsep Diri kita positip maka akan sangat mudah bagi
kita untuk meraih keberhasilan. Sebaliknya, bila
Konsep Diri buruk maka kita akan sangat sulit
berhasil, di bidang apa saja yang kita lakukan.
Prestasi hidup kita berbanding lurus dengan Konsep
Diri kita. Konsep Diri sebenarnya adalah operating
system yang menjalankan komputer mental kita.

“Kalau memang Konsep Diri itu sedemikian penting, lalu
mengapa kebanyakan orang Konsep Dirinya kurang baik?
Hal ini tercermin dari prestasi hidup mereka yang
biasa-biasa. Bisa Bapak jelaskan asal muasal
terbentuknya Konsep Diri?” kejarnya lagi.

Nah, pertanyaan saya pada anda, pembaca, “Sejak
kapankah Konsep Diri ini mulai terbentuk? Faktor apa
saja yang mempengaruhi pembentukan Konsep Diri?”

Apa yang saya uraikan di bawah ini adalah jawaban saya
kepada peserta seminar itu.

Proses pembentukan Konsep Diri dimulai sejak kita
dilahirkan. Ada dua masa kritis yang perlu kita,
sebagai orangtua dan pendidik, cermati. Periode
pertama adalah pada usia 0 – 6 tahun. Periode ini
sebenarnya terbagi dua, yaitu usia 0 – 3 thn dan 3 – 6
thn. Apa yang terbentuk pada tiga tahun pertama dalam
hidup seorang anak merupakan fondasi yang akan
digunakan sebagai landasan untuk mengkonstruksi
dirinya pada tiga tahun ke dua. Selanjutnya apa yang
telah terbentuk pada 6 tahun pertama hidup anak, akan
digunakan sebagai fondasi untuk mengembangkan diri
lebih lanjut.

Masa kritis selanjutnya adalah saat anak masuk SD.
Lima tahun pertama hidup anak di SD merupakan masa
kritis yang jarang atau bahkan tidak pernah
diperhatikan orangtua dan pendidik. Mengapa lima tahun
di SD ini sangat penting?

Semua ini berhubungan dengan sistem pendidikan yang
diterapkan di sekolah. Di Indonesia, anak SD kelas 1
sudah dibebani dengan minimal 9 (sembilan) mata
pelajaran. Hebatnya lagi, anak-anak kita “harus” bisa
mencapai nilai yang bagus. Kalau tidak baik nilainya
maka akan dicap anak bodoh, bloon, tolol, goblok,
telmi, otak udang, idiot,dan masih banyak istilah
“keren” lainnya (maaf bila saya menggunakan kata-kata
yang kurang santun).

Dari semua bidang studi, ada dua bidang studi yang
menjadi kunci pembentukan Konsep Diri anak. Hal ini
sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan di
Spanyol.

Kedua bidang studi itu adalah matematika dan bahasa.
Mengapa matematika dan bahasa? Di seluruh dunia, saat
anak masih di SD, yang diutamakan adalah 3R yaitu
Reading, Writing, and Arithmetic. Atau kalau dalam
bahasa Indonesia adalah 3M yaitu Membaca, Menulis, dan
Menghitung.

Saya setuju dengan pentingnya anak menguasi 3M dengan
alasan berikut. Pertama, bahasa adalah kunci untuk
memahami bahan ajar. Anak yang lemah kemampuan
bahasanya akan sangat sulit untuk bisa mempelajari
bahan ajar yang disampaikan guru. Mengapa ? Karena
semua bahan ajar disampaikan dengan menggunakan bahasa
sebagai media atau pengantar. Kedua, matematika sangat
penting untuk mengembangkan logika berpikir dan sangat
dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari.

Saya teringat saat dua tahun lalu saya dan istri ke
Singapore untuk mencari buku Sains kelas 1 SD. Kami
berencana menggunakan buku Sains ini di sekolah kami,
Anugerah Pekerti. Oleh staff di toko buku itu kami
diberi tahu bahwa di Singapore, selama 2 tahun pertama
anak di SD, mereka hanya diajarkan 3 bidang studi,
yaitu bahasa Inggris, Matematika, dan bahasa Ibu
(misalnya Mandarin, Melayu, India). Bidang studi
lainnya baru diajarkan mulai kelas 3 SD.

Saya mendapat penjelasan bahwa hal ini disengaja agar
saat anak mempelajari suatu materi, saat mereka kelas
3 SD, mereka telah mempunyai fondasi yang kuat yaitu
kemampuan baca, tulis, dan hitung yang baik.
Bandingkan dengan apa yang harus dijalani anak-anak
kita di Indonesia. Saat kemampuan berbahasa mereka
masih belum bagus anak, di Indonesia, telah dituntut
untuk mempelajari sangat banyak materi. Ditambah lagi,
pada umumnya anak didik kita lemah di Matematika.

Anda mungkin bertanya, ”Mengapa kemampuan bahasa dan
matematika yang kurang baik dapat berpengaruh negatip
terhadap Konsep Diri seorang anak?”

Sebelum saya menjawab pertanyaan di atas, saya ingin
menyampaikan hasil penelitian yang dilakukan di
propinsi Almeria di Spanyol, dengan menggunakan SDQ
Questionnaire. Penelitian ini dilakukan terhadap 245
murid SD. Hasil dari penelitian itu menyebutkan bahwa
bidang studi yang mempunyai pengaruh paling besar
terhadap Konsep Diri anak adalah bahasa dan
matematika.

Intisari dari penelitian itu adalah sebagai berikut:

1. Prestasi akademik menentukan konsep diri
Pengalaman akademik, baik keberhasilan maupun
kegagalan, lebih mempengaruhi konsep diri anak,
daripada sebaliknya.

2. Level konsep diri mempengaruhi level keberhasilan
akademik

3. Konsep diri dan prestasi akademik saling
mempengaruhi dan saling menentukan

4. Terdapat variabel lain yang dapat mempengaruhi
konsep diri dan prestasi akademik

Sekarang coba kita cermati apa yang terjadi di
sekolah? Anak, sejak SD kelas 1, telah dijejali dengan
begitu banyak materi yang harus dipelajari. Pada saat
itu, misalnya, kemampuan bahasanya masih kurang bagus.
Lalu apa akibatnya? Nilai yang dicapai anak kurang
maksimal karena faktor bahasa yang menjadi penghambat.
Karena sering mendapat nilai buruk, guru dan orangtua
mulai memberi label ”bodoh” pada anak ini. Yang
terjadi selanjutnya adalah proses pemrogramam atau
lebih tepatnya ”pembodohan” anak karena Konsep Diri
anak buruk.

Lalu bagaimana dengan matematika. Ini setali tiga
uang. Proses pembelajaran matematika di SD sangat
tidak manusiawi, bertentangan dengan cara belajar
anak, dan sama sekali tidak fun. Di mana saja, bila
saya memberikan seminar pendidikan, saya selalu
bertanya pada orangtua maupun guru, ”Apa mata
pelajaran yang paling dibenci atau ditakuti anak
didik?” Jawabannya selalu sama, ”Matematika”. Mengapa
anak sampai takut atau benci matematika?

Cara mengajar matematika di sekolah pada umumnya
bersifat abstrak. Apa maksudnya? Jika kita mengacu
pada Piaget (teori perkembangan kognitif) dan
Montessori (proses konstruksi diri anak) maka pada
usia SD anak harus belajar dengan cara konkrit.
Konkrit maksudnya adalah ada benda yang bisa dilihat
dan dipegang anak saat anak belajar simbol matematika.
Angka ”1”, ”2”, ”3”, dan seterusnya, ini adalah simbol
dan bersifat abstrak. Untuk bisa benar-benar memahami
konsep matematika, urutan pembelajaran yang benar
adalah dari konkrit, semi abstak, dan abstrak. Selain
itu, hal yang perlu diperhatikan adalah gaya belajar
dan kepribadian anak. Setiap gaya belajar membutuhkan
strategi yang berbeda.

Saat ini banyak orangtua, khususnya para ibu, yang
bangga karena anaknya, yang masih SD kelas 1 atau 2,
dapat dengan cepat menghitung perkalian 3 digit x 3
digit, karena ikut kursus menghitung cepat. Hal yang
sering mereka abaikan adalah mereka tidak tahu apakah
anak menguasai konsep dengan benar atau tidak. Saya
pernah bertanya pada seorang ibu yang sedemikian
bangga dengan anaknya yang bisa menghitung cepat, ”Bu,
3 x 1 itu artinya apa?”

”Lha, 3 x 1 sama dengan 3,” jawabnya cepat.

”Benar. Saya tahu bahwa 3 x 1 itu sama dengan 3. Dan 1
x 3 juga sama dengan 3. Tapi, secara konsep ini
berbeda. 3 x 1 itu apakah 1-nya 3 kali (1+1+1) atau
3-nya satu kali (3),” tanya saya lagi.

Setelah berpikir sejenak dan mungkin agak kaget karena
mendapat pertanyaan yang sangat ”remeh” ini akhirnya
ia menjawab, ”Lha, 3 x 1 itu berarti 3-nya satu kali.”

”Ibu yakin dengan jawaban ini,” tanya saya lagi.

”Yakin Pak,” jawabnya.

Saya tahu kalau ia tidak yakin dengan membaca bahasa
tubuhnya.

”Bu, kalau di resep dokter tertulis 3×1, ini apakah
ibu akan memberi anak ibu 3 kapsul sekali minum atau
satu kapsul sebanyak 3 x. Satu di pagi hari, satu di
siang hari, dan satu di malam hari?” tanya saya lagi.

Mendengar pertanyaan ini wajahnya langsung merah dan
ia tersenyum kecut sambil berkata, ”Ya sudah tentu
satu kapsul satu kali minum. Lha kalo tiga kapsul
sekali minum anak saya bisa overdosis. Bapak ini nggak
tahu atau pura-pura nggak ngerti?” jawabnya sambil
cepat berlalu.

Hal yang tampak remeh ini akan berakibat sangat fatal
terutama saat anak duduk di SD kelas 4 dan seterusnya.
Saat ini, bila dasar matematika dan bahasanya tidak
kuat, maka prestasi akademiknya akan jelek. Prestasi
akademik yang buruk, sekali lagi, sangat berpengaruh
terhadap Konsep Diri anak. Persis sama seperti hasil
penelitian di Spanyol. Konsep Diri yang buruk akan
terbawa hingga dewasa dan mengakibatkan anak tidak
bisa berprestasi maksimal dalam hidupnya.

Saat anak tidak menguasai konsep yang benar, ditambah
lagi kemampuan bahasanya masih minim, lalu anak diberi
soal cerita, apa yang terjadi? Habislah anak kita.
Nilainya pasti jeblok. Hal ini, kalau terjadi berulang
kali (repetisi), ditambah lagi orangtua atau guru
mengatakan dirinya bodoh (informasi dari figur yang
dipandang memiliki otoritas), ditambah lagi emosi yang
intens yang terjadi dalam diri seorang anak, maka
langsung menghasilkan pemrograman pikiran bawah sadar
yang sangat powerful. Celakanya lagi, ini program
negatip, dalam bentuk Konsep Diri yang buruk.

Lalu apa ciri-ciri anak dengan Konsep Diri yang buruk?
Pertama, anak tidak atau kurang percaya diri. Kedua,
anak takut berbuat salah. Ketiga, anak tidak berani
mencoba hal-hal baru. Keempat, anak takut penolakan.
Dan yang kelima, anak tidak suka belajar dan benci
sekolah.

Ada satu buku bagus yang ditulis kawan karib saya,
Ariesandi Setyono, yang berjudul ”Mathemagics – Cara
Jenius Belajar Matematika”, yang perlu anda baca. Buku
ini menjelaskan secara detil proses pembelajaran
matematika yang benar. Aries, dengan cara yang sangat
luar biasa , mampu membuat anak didiknya, dengan hati
gembira, mengerjakan soal latihan matematika sebanyak
26 (dua puluh enam) halaman non stop. Baru-baru ini
Aries kembali mampu membuat anak didiknya, murid SD
kelas 1 dan 2, mengerjakan soal-soal latihan
matematika selama 120 (seratus dua puluh) menit non
stop. Saat diminta berhenti, muridnya malah ngomel dan
minta terus. Murid mengerjakan soal dengan hati riang,
sama sekali tanpa ada tekanan atau stress. Untuk soal
ujian akhir semester, Aries memberikan 200 (dua ratus)
soal yang harus dikerjakan muridnya, bukan pilihan
ganda. Semua anak mampu mengerjakan hanya dalam waktu
rata-rata 45 menit dengan nilai rata-rata kelas 85.

Konsep Diri yang positip sangat penting bagi seorang
anak dan juga untuk orang dewasa. Fondasi yang rapuh
(Konsep Diri jelek) tidak memungkinkan kita untuk bisa
membangun gedung bertingkat (sukses) di atasnya.

Anak dilahirkan dengan potensi menjadi seorang jenius
namun proses ”pendidikan” yang salah telah membuat
anak tidak mampu mengembangkan potensinya secara
optimal. Saya menamakan kondisi ini sebagai ”idiot”.
Kita tidak menyadari potensi diri yang sesungguhnya.
Kalaupun kita tahu dan sadar akan potensi ini kita
merasa tidak mampu untuk mengembangkannya secara
optimal.

* Adi W. Gunawan, lebih dikenal sebagai Re-Educator
and Mind Navigator, adalah pembicara publik dan
trainer yang telah berbicara di berbagai kota besar di
dalam dan luar negeri. Ia telah menulis best seller
Born to be a Genius, Genius Learning Strategy, Manage
Your Mind for Success, Apakah IQ Anak Bisa
Ditingkatkan , dan Hypnosis: The Art of Subconscious
Communication. Adi dapat dihubungi melalui email
adi@adiwgunawan.com

Read Full Post »

Ulasan lengkap lihat di sini.

Babak I

Urawa Red emang ebat.

Gempuran demi gempuran Milan bisa diredam.

Pirlo tembakan bebasnya dapat ditepis kiper Urawa, sehingga menghasilkan tendangan sudut. Tendangan sudut Pirlo disambar sundulan Ambrossini; sayang masih melebar tipis di atas gawang Urawa. Gilardino juga dapat umpan dari sisi kanan (sapa tuh namanya dari kanan… lupa!), masih bisa ditangkap kiper Urawa …

Yang paling impresif adalah manuver Kaka yang melewati tiga orang Urawa … kemudian diumpan ke Seedorf … sayang tembakan Seedorf tertangkap kiper Urawa …

Kalo ane gak salah, Ancelotti masang cuma Gilardino di depan; ditopang kekuatan lapangan tengah yang diisi oleh Kaka, Seedorf, Pirlo dkk …

Wah … udah mau mulai lagi …

=> Babak II <=

Milan terus menggempur, Urawa terus meredam …

Urawa sesekali menyerang secara sporadis; seperti tembakan Washington yang sempat membuat Dida panik …

Akhirnya … Kaka menunjukkan kelasnya; melewati dua pemain, kemudian mengirim umpan tarik ke kotak penalti, yang disambar oleh Seedorf… GOAL !!!

1-0 untuk Milan … !!!

—–

Urawa Red perlu diacungi Jempol; tak kenal menyerah sampai detik terakhir.

Pendukung Urawa juga layak dapat apresiasi; mereka tak mencemooh timnya yang kalah … jadi yang sportif tidak hanya Urawa tapi juga penontonnya … Salut!

Read Full Post »

Andy Noya vs. Aa Gym

Rekanz,

Berikut saya kumpulkan dialog antara Bung Andy Noya dan Aa Gym.

Bagi yang rindu Aa Gym.

Read Full Post »

Oleh-Oleh dari KBRI Tokyo

Rekanz,

Hari ini saya beruntung karena dapat ikut mendengarkan wejangan dari Pak Yusuf Anwar.

Beliau memang orang yang hebat sekali … tawadhu, jenius, dan humoris …

Saya bangga menjadi bangsa ini ketika Pak Anwar memberikan wejangannya …

Berikut sedikit gaya-gaya ketika di rumah kedubes … ]

=> KLIK 1 <=

=> KLIK 2 <=

Read Full Post »

Foto-Foto

Rekanz,

Silakan klik sedikit oleh-oleh dari sini. Klik.


Read Full Post »

 

Melanjutkan diskusi tentang teori konspirasi di 9/11 … artikel dibawah ini menunjukkan misteri orang-orang yang diklaim sebagai penumpang pesawat yang menubruk WTC dsb.

 

Selamat menikmati …

The 9-11 Passenger List Oddity

Filed under: 911 – Flight 175 Oddities, 911 General Articles, Citizen Intelligence Agency C.I.A., Flight 11, Flight 175, World News, World Trade Center Demoliton — Phil Jayhan @ 2:49 am

Posted by Phil Jayhan, September 23rd, 2007

The 9-11 Passenger List Oddity

by Vincent Sammartino
http://www.thetruthseeker.co.uk/article.asp?ID=7199

As everyone who is involved in exposing the 9-11 cover-up knows, nothing concerning 9-11 is as it seems. Whether it’s the magic jet that our government told us crashed into the Pentagon, the obvious missing jet at Shanksville (Flight 93), the three perfect demolitions of the World Trade Center towers, or the fact that Arab hijackers are still alive and their supposed ring leader Osama bin Laden has the ability to change his facial features at will. Nothing, I repeat, nothing about the government/controlled media version of 9-11 makes any sense.

So, let’s get one thing straight and out of the way right now. There are no such things as physical inconsistencies in the world we live in. We can always depend on the laws of physics to be consistent and unchanging. Coincidence is a self-contained human concept; and the real world – the atoms, molecules and planets that whiz around – don’t care if you understand them. Likewise, they aren’t concerned if their movement happens to favor you or not. I say this because, as Victor Thorn and Lisa Guliani know (WING TV), this is the key to understanding what is real and what is contrived.

With that said, let me go back to sometime in February, 2004. At that time I had pretty much figured out that what had happened at the Pentagon and the WTC was a lie. I was still toying with the idea, though, that maybe (just maybe) our government had shot down Flight 93 in Shanksville in order to protect us from the real terrorists.

Then a few websites started to pop-up showing videos of what appeared to be a “pod” under Flight 175, along with an unexplained flash that happened just before the jet hit the South Tower. To me, this was just as damning as the Pentagon and the WTC collapses. There is no good reason for us to be seeing what we saw if the official government story was true. Think about this point for a minute. If what we saw was just an anomaly, then there must be millions of photos/videos of 757s taking off and landing at airports all over the world that look JUST LIKE THAT! If anybody has any jet photo anomalies they would like to share with us, please send them to Victor and Lisa at WING TV so we can clear this stuff up.

Which brings me to Ellen Mariani: she’s the woman who lost her husband Louis on Flight 175 that crashed into the South Tower on 9-11. With the help of a lawyer named Phil Berg, she filed a lawsuit against President Bush and company under the RICO act. Also, she refused to take the hush money that was offered to her under the 9-11 Victims Compensation fund.

In addition, I had just discovered Black Op Radio earlier in the year and found an interesting show in their archives (# 156) on which Ellen and Mr. Berg appeared as guests. This may be the single biggest point concerning 9-11, and hopefully the last nail in the coffin of our government’s lies. During this broadcast, Mrs. Mariani said that she was the only relative of all the passengers that died on Flight 175 that crashed into the South Tower. Her lawyer, Phil Berg, repeated this statement.

I listened to this show over and over again and couldn’t believe what she had just said. Everything came together at this point. That’s when it dawned on me that not only had our government lied about the physics of 9-11; they may very well have taken it one step farther by faking the number of people that died that day. I believed what she and Mr. Berg had just said. Nothing about 9-11 made any sense. Why should it start now?

Not knowing then what I know now, Ellen and Phil believed that for some reason the government was holding back the names of the people that had died on Flight 175. She had tried to get in touch with the relatives of other family members, but to no avail. You see, she and her lawyer believed, just like most other people believe, that four jets had been hijacked by Arab terrorists and crashed into buildings and into the ground at Shanksville. I, on the other hand, had already swept those lies aside.

Their statement also gave credence to the Fox News reporter who said that the jet which crashed into the South Tower had no windows. Hey, this jet appeared to have a “pod” under it anyway. The pieces of the puzzle were starting to fit.

Now, we come to most interesting stuff – the Social Security Death Index, and thanks to Victor Thorn’s idea, the September 11th Victim’s Compensation Fund. After all, it’s one thing to say that the flight lists are not on the up and up, but it’s another thing to prove it.

The Social Security Death Index (SSDI) (Social Security Death Index) is a privately-owned website that is not affiliated with Social Security. It boasts an accuracy rate of about 83% (e-mail them any questions you may have). Anyway, to check its reliability, I inputted the names of people I knew that had died in my family, along with friends and neighbors. Being a true skeptic, I had no way of knowing whether they were telling the truth or not. With the exception of a cousin, I found everyone I was looking for. (Be sure you have the person’s true first name – they may not be listed by the state they last lived in, but can be found in the state where their social security number was issued.) By all means try it yourself.

Which brings us to the 9-11 Victims Compensation Fund (also known as the Shut Up and Take the Money Fund), which most of you have heard about.

9-11 Victims Compensation Fund

This is where our government opened up the Treasury and gave family members of those who lost their lives that day lots of money. In return, these families were basically told to shut up about anything else concerning 9-11. (Considering all the lies surrounding this horrific event, you can see why.)

At this point there is one thing we should never forget, and that is how powerful the notion of human greed is. Remember this concept as you read the number of victims whose family members sought compensation.

The names of the victims can be found on the CNN website.

Here are the results:

Flight 11: of the 92 people who are listed as dying on this flight, only 20 are listed in the SSDI (22%)

Of these 20 people, only three are on the 9-11 Compensation Fund list:

Judy Larocque
Laurie Neira
Candace Lee Williams

=======================================

Flight 77: of the 64 people who are listed as dying on this flight, only 14 are listed in the SSDI (22%)

Of these 64 people, only five on the 9-11 Compensation Fund list:

William Caswell
Eddie Dillard
Ian Gray
John Sammartino
Leonard Taylor

=======================================

Flight 175: of the 65 people who are listed as dying on this flight, only 18 are listed in the SSDI (28%)

Of these 65 people, only three are on the 9-11 Compensation Fund list:

Michael C. Tarrou
Gloria Debarrera
Timothy Ward

=======================================

Flight 93: of the 45 people who are listed as dying on this flight, only 6 are listed in the SSDI (13%)

Of these 45 people, none are on the 9-11 Compensation Fund list:

No one

=======================================

Have you noticed anything strange yet? Of the passengers and crew of Flight 11, 77, 175 & 93, only 22%, 22%, 28%, 13% respectively are in the SSDI.

Remember human greed? Of the 266 people that we were told died on these jets, only 11 relatives applied for compensation. Can you believe that not a single relative from Flight 93 applied for compensation? I can’t. Were all the relatives of the victims so rich that they weren’t eligible to receive compensation? No, that’s not it. (The minimum federal award was $250,000, and the average pay-out was about $1.8 million. The recipients only had to make agreement: they couldn’t sue the airlines.)

You should also know that most lawyers told their clients to take the money and run (which is what most lawyers would do – take the sure money). Ellen Mariani clearly elaborated on this point during her appearance on the radio show mentioned above.

Finally, during the past week, thanks to Lisa Guliani’s insatiable quest for the truth, the 9-11 Victims Compensation Final Report has come to light.

9-11 Victims Compensation Final Report

Oddly, but consistent with everything concerning 9-11, the actual complete list of the people who benefited has been omitted from this report. Even without this, it does contain an interesting fact. According to the report, 98% of all the people who suffered a loss on 9-11 took the fund money. The average payment was $1.8 million.

But here’s where it gets strange. According to the government, here are the number of people who accepted the compensation fund:

Out of a total of 92 people on Flight 11, only 65 accepted the 9-11 fund (71%)
Out of a total of 65 people on Flight 175, only 46 accepted the 9-11 fund (71%)
Out of a total of 64 people on Flight 77, only 33 accepted the 9-11 fund (52%)
Out of a total of 45 people on Flight 93, only 25 accepted the 9-11 fund (56%)

Does any of this seem a little odd to you? Or is it possible that not only were the jets on 9-11 magical, but their passengers as well?

So there you have it; yet another glaring 9-11 inconsistency – just maybe the biggest of them all?

Read Full Post »

Ada kawan yang bilang, seharusnya saya menuliskan apa yang saya kerjakan detik ini.

Ok deh.

Ini sedikit informasi ajah; saya lagi menurunkan seluruh rumus di paper-papernya Peter Shor, Andrew Steane dan Raussendorf. Dalam beberapa bulan ke depan saya insya Allah akan publish terkait hal-hal tersebut.

Detailnya masih rahasia …

Read Full Post »

Workshop TQC 2008 di Tokyo

http://www.brl.ntt.co.jp/tqc/2008/index.html

Salah satu workshop yang cukup bergengsi akan digelar di Tokyo.

Prof. Rod diberi kesempatan bicara dua kali:

http://www.brl.ntt.co.jp/tqc/2008/en/accepted_paper.html 

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »