Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Uncategorized’ Category

Alhamdulillah, hari ini saya menjalankan salah satu sunnah Nabi Muhammad SAW, yaitu bersilaturahmi dengan kerabat orang tua.

Kerabat tersebut adalah Pak Anwar Pulokadang ketika beliau berbicara di Todai.

(Saya sampai tidak begitu sadar bahwa 99 % pemirsa di acara tersebut adalah orang todai …)

Ternyata almarhum ayah saya, Sutomo Susito, meninggalkan kesan yang mendalam bagi yang bersangkutan; ketika mereka masih sekolah dulu, mereka pernah satu asrama, dan sering berkunjung satu sama lain.

Ketika datang ke Indonesia pun, adalah almarhum ayah dan almarhum kakek yang menjemput beliau di bandara (saya langsung teringat senyum ayah dan kakek ketika itu juga).

Memang begitulah seharusnya dua orang sahabat berteman; umur dan waktu tak pernah memisahkan mereka. Mereka dapat saja berpisah secara fisik, namun tak pernah pisah di hati.

Semoga Allah SWT merahmati mereka semua … Amiin.

Note:

Dilain waktu sebetulnya saya ingin Pak Anwar berbicara lebih spesifik mengenai kontribusi yang sangat besar para alumni PERSADA di Indonesia.

Secara spesifik, saya ingin agar bangsa ini tahu betapa sangat besarnya kontribusi ayah saya (Sutomo Susito) dalam industri otomotif di Indonesia!!

Read Full Post »

http://money.cnn.com/2007/11/02/news/companies/bank_writedowns/index.htm?cnn=yes

Read Full Post »

Rekan-Rekan yth.,

Menurut saya, pasangan Bang Iwan Fals – Ust. Hidayat Nur Wahid adalah pasangan yang memiliki kans sangat bagus, jika disandingkan menuju istana negara.

Pada tahun 2009, memang kita rasakan akan terjadi krisis kepemimpinan. Berikut peta singkat beberapa kandidat presiden 2009:

1. SBY. Jenderal kita yang satu ini sebetulnya cukup bagus ketika menjadi presiden 2004-2009; tapi popularitas beliau selalu menurun dari bulan ke bulan. Tidak ada yang salah dengan Presiden SBY; hanya saja karena masalah yang sangat berat menghadang beliau, maka ekspetasi masyarakat ke beliau juga sangat tinggi. Karena selalu tidak sesuai dengan ekspektasi, SBY akan menjadi kandidat yang tidak populer lagi.

1a>. Yusuf Kalla. Modal Yusuf Kalla hanyalah Golkar dan uang. Kelihatannya dua faktor tersebut tidak banyak membantu beliau dalam menuju istana.

2. Sutiyoso. Mantan Gubernur DKI kita yang satu ini sebetulnya punya modal bagus untuk jadi Presiden 2009; beliau Jenderal dari ABRI dan Jawa pula. Tapi kelihatannya terlalu banyak faktor penghambatnya; misalnya di dalam negeri beliau terlibat kasus 27 Juli dan di luar negeri belum pula selesai masalah dengan Australia. Kelihatannya, faktor di dalam negeri dan di luar negeri menjadi penghambat besar bagi kesuksesan beliau.

3. Tokoh-tokoh lawas seperti Amien Rais, Gus Dur, Mega, Wiranto dsb akan sangat mustahil untuk kembali ke panggung politik; mereka tokoh-tokoh yang bagus, tapi kelihatannya masa mereka sudah selesai.

4. Diantara tokoh-tokoh muda yang mungkin jadi kandidat adalah:

4a> Yusril Ihza Mahendra : terjerat kasus poligami dan dugaan korupsi

4b> Akbar Tanjung: terjerat kasus korupsi

dsb.

Tokoh-tokoh di atas tidak akan menandingi popularitas Bang Iwan dan Pak Hidayat di mata masyarakat.

Bang Iwan memiliki massa fanatik yang menyukai lirik-lirik kritik sosialnya; kalau dilihat dari puluhan ribu massa yang selalu hadir di setiap konsernya dan juga rating di televisi yang selalu tinggi untuk setiap acaranya, maka massa bang Iwan bisa diperkirakan sangat-sangat tinggi.

Silakan bayangkan, jika Bang Iwan diadu dengan SBY; kira-kira siapa yang lebih populer di mata rakyat? Saya sangat ragu SBY bisa menandingi popularitas Bang Iwan.

Kemudian, massa Pak Hidayat juga sangat besar. PKS adalah partai anak muda yang sangat cepat pertumbuhannya; prediksi 20 % suara pada 2009 bukanlah hal yang mustahil, jika melihat perkembangan yang sangat luar biasa dari partai ini.

Sehingga, kolaborasi Bang Iwan dan Pak Hidayat akan menjadi pasangan yang sangat serasi dilihat dari sudut manapun; dari segi politik, Bang Iwan – Pak Hidayat mendapat legitimasi suara yang luarbiasa. Pendukung Bang Iwan adalah lintas partai, plus dukungan dari PKS akan menjadi legitimasi pasangan ini di Senayan.

Selain itu, Bang Iwan – Pak Hidayat ibarat pasangan Bung Karno – Bung Hatta ketika tahun 1945.

Bang Iwan ibarat Bung Karno merepresentasikan suara Nasionalis, sedangkan Pak Hidayat layaknya Bung Hatta yang merupakan wakil kaum agamis.

Bang Iwan ibarat Bung Karno yang dapat menyihir masyarakat lewat pidato-pidatonya. Bedanya, Bung Iwan lewat lirik-lirik lagunya. Sedangkan Pak Hidayat ibarat Bung Hatta, yang cenderung kepada ketenangan, intelektualitas dan kedalaman pemikiran.

Persamaan diantar keduanya adalah mereka berdua merepresentasikan gerakan kaum muda di Indonesia; mereka berdua tidak dilahirkan dari politik masa lalu. Mereka berdua adalah KAUM REFORMIS.

Perbedaan antara Bung Iwan dan Bung Hidayat akan menjadi harmoni yang luarbiasa indahnya jika benar-benar terjadi di 2009. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Indonesia, kita akan memiliki Presiden dari kalangan artis, yang merupakan legenda musik Indonesia. Di sisi lain, Pak Hidayat akan membuktikan kepada dunia, bahwa kalangan pesantren pun dapat menjadi politisi yang bersih dan profesional ketika diberikan amanat memimpin.

Naiknya pasangan Bung Iwan dan Bung Hidayat, otomatis akan membawa arah baru dalam perpolitikan Indonesia; dominasi GOLKAR dan NEO-GOLKAR (PDIP dsb) akan semakin melemah, dan akan digantikan dengan dominasi kekuatan-kekuatan reformis.

Mereka akan menjadi kekuatan moral yang luar biasa di Indonesia.

Semoga pasangan ini akan benar-benar akan menduduki Istana.

Wass.,

Agung

“Saatnya daun jatuh ke bumi, tunas muda bersemi …”

Satu Satu

Satu-satu daun berguguran
Jatuh ke bumi dimakan usia
Tak terdengar tangis tak terdengar tawa
Redalah reda …

Satu-satu tunas muda bersemi
Mengisi hidup gantikan yang tua
Tak terdengar tangis tak terdengar tawa
Redalah reda …

Waktu terus bergulir
Semuanya mesti terjadi
Daun-daun berguguran
Tunas-tunas muda bersemi

Satu-satu daun jatuh ke bumi
Satu-satu tunas muda bersemi
Tak guna tertawa
Redalah reda …

Waktu terus bergulir
Kita kan pergi dan tinggal pergi
Ke dalam tangis ke dalam tawa
Tunas-tunas muda bersemi

https://trisetyarso.wordpress.com/2007/11/02/pahlawan-di-sekitar-kita-si-budi/
https://trisetyarso.wordpress.com/2007/11/01/ujung-jalan-balubur/
https://trisetyarso.wordpress.com/2007/10/11/kesaksian/

Read Full Post »

Pahlawan disekitar kita adalah si “Budi”,

baik yang masih muda ataupun sudah tua.

Mereka mengais rezeki halal, rela menempuh kesulitan seberat apapun

Demi masa depan diri, masyarakat dan keluarga …

Inilah gambaran kehidupan si “Budi” … hargailah mereka dimana pun engkau jumpai

Sore Tugu Pancoran
Karya : Iwan Fals ( Album Sore Tugu Pancoran 1985 )

Si Budi kecil kuyup menggigil
Menahan dingin tanpa jas hujan
Di simpang jalan tugu pancoran
Tunggu pembeli jajakan koran

Menjelang maghrib hujan tak reda
Si Budi murung menghitung laba
Surat kabar sore dijual malam
Selepas isya melangkah pulang

Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu
Demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu
Anak sekecil itu sempat nikmati waktu
Dipaksa pecahkan karang lemah jarimu terkepang

Cepat langkah waktu pagi menunggu
Si Budi sibuk siapkan buku
Tugas dari sekolah selesai setengah
Sanggupkah si Budi diam di dua sisi

Read Full Post »

Meeting with Rod-San

Quantum Information Symposium
(Collaboration between Stanford University, Keio University, NII and NTT)

Read Full Post »

Rekan-Rekan yth.,

Saya cuma berfikir, apakah tahun depan akan ada momen besar pergeseran kekuatan dunia?

Amerika sekarang sedang melemah dan akan semakin melemah di tahun depan.

http://tech.groups.yahoo.com/group/Interdisiplin/message/2890

http://news.yahoo.com/s/ap/20071101/ap_on_bi_ge/chrysler_job_cuts

 http://news.yahoo.com/s/ap/20071101/ap_on_bi_st_ma_re/wall_street

http://news.yahoo.com/s/ap/20071101/ap_on_go_pr_wh/bush

Read Full Post »

“Ujung Jalan Balubur”

Rekan-Rekan yth.,

Dalam sebuah milis, ada seorang alumni ITB yang sangat terkejut dengan perkembangan yang terjadi di daerah Balubur dan sekitarnya.

Beliau, yang angkatan 80-an tersebut, sangat terkejut dengan perubahan drastis yang terjadi dengan daerah yang dulu cukup berkesan tersebut; kemudian saya jadi berpikir kembali, apakah pembangunan selalu seperti yang dikatakan Iwan Fals dalam “Ujung Jalan Pondok Gede”, yaitu selalu tidak beradab?

Ternyata tidak selalu begitu.

Saya diceritakan oleh Mas Achmad Husni Thamrin, yang merupakan “sesepuh” kami di Keio, dulu ketika kampus SFC dibangun, ada sekeluarga elang yang memiliki sarang di sebuah lokasi yang merupakan bagian dari rencana pembangunan tersebut. Hebatnya perasaan para kontraktor di Keio adalah elang yang berkeluarga tersebut tidak diusir, melainkan diberikan tempat dan waktu yang lama untuk mencari tempat baru. Keluarga elang tersebut diberi waktu untuk berkeluarga, membesarkan anak dengan nyaman dst., sampai akhirnya elang tersebut benar-benar pindah.

Begitu juga kalau kita lihat dengan pembangunan di Keio dsb; pembangunan tersebut tidak melanggar estetika dan juga etika yang ada, sehingga pembangunan dalam skala besar dan kecil dapat dilakukan dengan beradab; yaitu tidak mengganggu masyarakat sekitar.

Memang ironi sekali, kalau kita lihat di bangsa kita yang konon kabarnya, bersilakan “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab” dsb., dan konon kabarnya pada beriman.

Pembangunan seringkali dilakukan tanpa mengindahkan etika dan estetika yang ada; misal pembangunan jalan layang di balubur benar-benar meluluhlantakkan romantisme suasana balubur, persis seperti yang pernah dikatakan Iwan Fals dalam syairnya:

Ujung Aspal Pondok Gede
Karya : Iwan Fals ( Album Sore Tugu Pancoran 1985 )

Di kamar ini aku dilahirkan
Di balai bambu buah tangan bapakku
Di rumah ini aku dibesarkan
Dibelai mesra lentik jari ibu

Nama dusunku ujung aspal pondok gede
Rimbun dan anggun ramah senyum penghuni dusun

Kambing sembilan motor tiga bapak punya
Ladang yang luas habis sudah sebagai gantinya

Sampai saat tanah moyangku
Tersentuh sebuah rencana dari serakahnya kota
Terlihat murung wajah pribumi
Terdengar langkah hewan bernyanyi

Di depan masjid samping rumah wakil pak lurah
Tempat dulu kami bermain mengisi cerahnya hari
Namun sebentar lagi angkuh tembok pabrik berdiri
Satu persatu sahabat pergi dan tak akan pernah kembali”

Thx to http://iwanfalsmania.blogspot.com/2006/04/ujung-aspal-pondok-gede.html

Read Full Post »

Assww.,

Sudah kedua kalinya ITB tidak masuk 100 besar universitas di Asia versi webometrics.

http://www.webometrics.info/top100_continent.asp?cont=asia

AADI (Ada Apa Dengan ITB?)

Wassww.,

Agung

Read Full Post »

Indonesia & Negeri Mati yang dibangkitkan Tuhan

 

 

Indonesia sekarang, adalah negeri tanpa harapan. Di negeri ini, terlalu banyak kata untuk menggambarkan kerusakan, kebejatan, kebodohan dan kekotorannya. Sebaliknya, terlalu sedikit kata untuk dapat menggambarkan prestasi, kebaikan dan keberhasilannya. Negeri ini telah mati.

 

Nyaris setiap penduduk di negeri ini sudah merasa tidak punya harapan, sehingga setiap dari mereka merasa perlu untuk keluar dari negeri ini selama memungkinkan.

 

Adakah harapan ? Jawabannya tidak ada, bagi mereka yang tidak percaya Tuhan. Bagi Anda yang percaya Tuhan … jawabannya Ada !!

 

Tuhan berfirman di Surat Al-Baqarah ayat 259 :

 

“…apakah (kamu tidak memperhatikan) orang yang melalui suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya. Dia (orang itu) berkata : “Bagaimana Allah akan menghidupkan kembali negeri ini setelah kehancurannya ? “ Maka Allah mematikan orang itu selama seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali. Allah bertanya:”Berapa lama kamu tinggal di sini ? “ Ia (orang tsb) menjawab:”Saya tinggal di sini sehari atau setengah hari.” Allah berfirman:”Sebenarnya kamu tinggal di sini seratus tahun lamanya; lihatlah kepada makanan dan minumanmu yang belum lagi berubah; dan lihatlah kepada keledaimu (yang telah menjadi tulang belulang); Kami akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi umat manusia; dan lihatlah kepada tulang belulang keledai itu,  kemudian Kami akan menyusunnya kembali, kemudian Kami akan membalutnya dengan daging”. Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati) dia pun berkata : “Saya yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

 

Sebagaimana kisah Nabi Ismail yang ditaruh di tengah padang pasir yang sangat tandus. Secara perhitungan akal sehat, Nabi Ismail tidak akan bisa hidup di tengah-tengah padang pasir yang sangat tandus … tetapi apa yang kemudian terjadi ? Justru dari peristiwa itulah awal mulanya kota Mekah berdiri.

 

Sejarah mencatat, prestasi yang besar seringkali diawali oleh keputusasaan. Apa yang kelihatan sebagai akhir, seringkali merupakan awal yang sesungguhnya. Malam yang semakin pekat, merupakan ciri munculnya mentari di pagi hari.

 

Insya Allah, Indonesia oleh Tuhan sedang dijadikan tanda kekuasaanNya, dengan cara menjalani proses yang sedang lihat sekarang ini.

 

Kita tidak tahu sampai kapan proses ini akan berlangsung, itu bukan urusan kita. Yang perlu kita lakukan adalah bekerja, bersabar dan berdoa.    


Read Full Post »

Sebuah Saran kepada Para Calon Pembunuh Diri Sendiri

[Surat ini ditujukan kepada para Bapak, Ibu, dan para hadirin yang sedang mempertimbangkan membunuh sanak keluarga dan dirinya sendiri, dikarenakan sangat sayangnya terhadap mereka; seperti yang terjadi pada seorang Ibu di Malang atau seorang Ibu di Bandung yang terjadi tahun lalu]

Assalamu’alaykum wr. wb.,

Bapak, Ibu, dan hadirin yang saya hormati,

Pertama-tama perkenankan saya memperkenalkan diri.

Nama saya adalah Agung Trisetyarso.

Saya adalah marbot [yunior] di masjid Darul Istiqomah, kelurahan Tanah Baru, kecamatan Beji, Depok.

Menurut seorang marbot senior di masjid kami, pekerjaan mabot didefinisikan sebagai:

“Pekerjaan memakmurkan masjid yang jam kerjanya dimulai sebelum subuh dan diakhiri sesudah isya. Diantara luang lingkup pekerjaannya adalah:

1. Membersihkan masjid [menyapu dsb]
2. Mengajak masyarakat untuk shalat berjamaah [termasuk membangunkan masyarakat]
3. Menjadi Muazin
4. Menjadi Imam Masjid
5. Menjadi penceramah/pengganti penceramah
6. Menjaga masjid”

Pengkelasan Marbot [Marbot Senior dan Marbot Yunior] adalah berdasarkan kuantitas dan kualitas dari tugas-tugas tersebut. Misal, seorang Marbot Senior harus datang ke Masjid beberapa jam sebelum shalat shubuh dimulai. Di tempat kami, biasanya seorang Marbot Senior sudah datang pada jam 3 pagi. Sedangkan yang yunior baru datang beberapa menit sebelum azan shubuh.

Gaji Marbot dalam bentuk uang mungkin sangat jauh sekali dibawah UMR; seperti yang saya terima sebagai marbot junior di masjid ini hanyalah 20 ribu rupiah per bulan [Marbot Senior bisa mencapai 300 ribu rupiah per bulan]

Sebelum menjadi Marbot Masjid Darul Istiqomah, saya telah berpengalaman menjadi marbot di Masjid As-Saakinah [Tanah Kusir, Jakarta] dan Masjid Al-Lathief [Dago Kanayakan, Bandung].

Pada surat ini saya, yang mencoba mewakili profesi marbot masjid dan mushalla, mengimbau para hadirin untuk berfikir kembali jika terlintas difikiran untuk menghabisi diri sendiri dan sanak keluarga, karena dirasakan tidak mampu menghadapi masa depan.

Penyebab utama dari penyakit sosial yang satu ini adalah selama ini kita salah dalam mengambil panutan; selebriti lebih kita jadikan panutan daripada para ustadz, marbot masjid dan rohaniawan. Sehingga ukuran utama hidup kita sekarang ini adalah materi dan popularitas. Keberhasilan hidup selalu diukur dalam kedua kerangka tersebut.

Kalau ingin bertanya masalah hidup, termasuk permasalahan ekonomi dan keluarga, cobalah kita belajar ke para marbot senior, janganlah kita bertanya ke para selebriti atau para tokoh kapitalis yang lainnya.

Marbot Senior adalah para pekerja yang dianggap sepele di mata makhluq, tapi sangat besar di mata Khaliq
Mereka bekerja di kegelapan malam dunia, tapi di gemerlapnya cahaya akhirat
Mereka tidak terkenal di mata makhluq, tapi sangat terkenal di kalangan malaikat
Ucapan mereka adalah Dzikir, tidak mengguncang dunia, tapi mengguncang Arasy Allah SWT
Mereka berpenghasilan kecil, tapi berbahagia dunia akhirat, lahir dan bathin

Sebaliknya, para selebriti adalah para pekerja yang dianggap besar di mata makhluq, tapi sangat kecil di mata Khaliq
Mereka bekerja di gemerlapnya cahaya dunia, tapi di dalam kegelapan akhirat
Mereka terkenal di mata makhluq, tapi [karena kemaksiatan yang mereka lakukan] tidak terkenal di kalangan malaikat
Ucapan mereka adalah kelalaian, mengguncang dunia, tapi tidak mengguncang Arasy Allah SWT
Mereka berpenghasilan sangat besar, tapi sengsara dunia akhirat, lahir dan bathin

Maka dari itu profesi Marbot lebih mulia dan utama di mata Allah SWT; jika para marbot di seluruh dunia menghentikan pekerjaannya dalam beberapa hari, maka seluruh alam semesta ini akan berhenti beraktifitas, yang berujung pada terjadinya kiamat.

Kiamat tidak akan berdiri sehingga di bumi tidak pernah disebut lagi nama ‘Allah’, ‘Allah'”[Hadist riwayat Muslim dari Anas]

Sebaliknya, apakah itu akan berlaku pada profesi selebriti?

Cobalah kita lihat selebriti yang kita jadikan tuntunan selama ini; mayoritas dari mereka adalah para pengkhianat terhadap diri sendiri. Bahkan mereka tidak dapat memenuhi janji terhadap mereka sendiri; mereka tidak dapat berkomitmen terhadap pernikahan, pasangan hidup, anak, dst. Para selebriti adalah golongan yang ucapannya tidak dapat dipegang [dipercaya]; sekarang berkata A, besok berkata B, besoknya lagi berkata C, dst. Sekarang berkata setia terhadap pasangannya, besok ia telah menceraikannya. Sekarang ia teguh memegang keyakinannya, besok pula ia menanggalkan keyakinan tersebut.

Sebaliknya, para marbot masjid adalah kelompok masyarakat yang istiqomah [konsisten], karena pekerjaan mereka menuntut kejujuran kepada Al-Khaaliq, baik ada makhluq maupun tidak ada makhluq.

Seorang Marbot Senior, dengan uang 200 ribu rupiah per bulan dapat menghidupi 7 orang anak. Tapi, seorang selebriti, dengan penghasilan miliaran rupiah per bulan, tak dapat menghidupi seorang anak pun, bahkan tidak cukup untuk dirinya sendiri. Marilah kita renungi kisah Michael Jackson, Mike Tyson, Elvis Presley, Marlyn Moenroe, dst.

Itu semua tidak bisa dilepaskan dari sifat industri selebriti dan kapitalis yang sebetulnya sangat kejam.

Industri kapitalis adalah industri dengan uang kiblatnya
yang mengharuskan seseorang menghalalkan segala cara

Demi kesuksesan

Begitu juga, harus saling menyikut dan mengalahkan
Demi popularitas dan kekayaan

Industri ini sangat cepat mengangkat seseorang,
begitu juga cepat menghempaskan sekeras-kerasnya ke dasar yang paling dalam

Industri ini hanya untuk orang-orang tertentu;
yaitu mereka yang bersedia berbuat kejam dengan dibungkus kemanisan

Industri kapitalis [yang berbasis kepada keyakinan bahwa uanglah segala-galanya] yang serba kejam ini, mengakibatkan para tokoh kapitalis, seperti para selebriti, banyak mengumbar senyum di depan publik, tapi sebetulnya hati nuraninya telah mati karena kemaksiatan yang mereka lakukan.

Sebaliknya, para marbot masjid dihasilkan dari ‘industri dzikir’ yang sangat mulia.

Industri dzikir adalah industri dengan Allah kiblatnya
yang mengharuskan seseorang menghalalkan yang halal
dan mengharamkan yang haram


Begitu juga, harus saling membantu

Demi ketenangan hati

Industri ini selalu terbuka bagi hamba-hamba-Nya yang ingin kembali kepada-Nya.

Industri dzikir adalah industri yang berbasis kepada dzikir; malam hari dihiasi dengan berdzikir lisan, sedangkan di siang hari dihiasi dengan dzikir hati, yang dimanifestasikan dalam bentuk pelayanan kepada para makhluq. Rasulullah SAW bersabda:”Sayangilah yang di bumi, maka engkau akan disayangi oleh yang di langit.”

Para selebriti bekerja kepada raja-raja kapitalis yang tamak dan haus akan uang, sehingga mereka tidak sadar karena pada hakikatnya mereka tengah diperah separah-parahnya, sebelum nantinya dihempaskan ke jurang yang paling dasar.

Para marbot masjid bekerja kepada Maha Raja alam semesta, sehingga tidak khawatir akan masa depan diri dan keluarganya, sekecil apapun upah dari makhluq yang mereka terima. Allah SWT sendiri yang menjamin rezeki kepada mereka.[20:132, 24:32, 65:4,7]

Maka dari itu, hendaknya marilah kita membagi masalah kita kepada para marbot masjid, jangan ke para selebriti. Acuan hidup kita menjadi rusak berantakan, karena para selebriti dengan hidup yang serba kejam yang kita jadikan panutan. Marilah kita merubah panutan hidup kita kepada para penjaga moral, yang hidup di masyarakat.

Para marbot masjid selalu memancarkan cahaya,
karena mereka selalu berinteraksi dengan Maha Cahaya [An-Nuur]

Sedangkan, para selebriti, pada hakikatnya bermuka masam,
sekalipun ditutupi bedak setebal apapun.

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah diantara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian hancur … ”

[Al-Hadiid:30]

Wassalamu’alaykum wr. wb.,

Agung Tri

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »