Clinton ngantuk ketika denger ceramah …
Rekan-Rekan yth.,
Diantara berita sedih dari bursa, dari RSPP dsb … ternyata ada juga berita gembira …
Ditulis dalam Uncategorized | 1 Comment »
Rekan-Rekan yth.,
Saya bukan sarjana politik, engineering pertanian dsb … tapi agak prihatin dengan perkembangan kasus kedele.
Menurut saya, kesalahan terbesar adalah pada kebijakan impor kedele yang dibuat oleh IMF pada tahun 1998, sehingga menyebabkan petani-petani kedele lokal tersingkir dari tanah air kita sendiri.
Terdapat 4 importir besar yang memainkan harga: yaitu Cargill Indonesia, Teluk Intan, Gunung Sewu, dan Liong Seng.
Sejak Indonesia sudah menjadi net importir dalam masalah kedele, maka keempat kelompok inilah yang bermain-main dengan harga kedele; sehingga produksi petani lokal menjadi sia-sia belaka mengingat tak adanya proteksi.
Berikut berita terkait:
Edisi. 47/XXXVI/21 – 27 Januari 2008
Ekonomi dan Bisnis
Ada Kartel di Kedelai? Harga kedelai naik lebih dari 100 persen. Importir besar
diduga turut bermain di balik kelangkaan kedelai ini.
Sepanjang Desember menjadi hari-hari yang mencekam bagi Handoko. Jantung
produsen kecil tahu di Kalideres, Jakarta Barat, ini berdetak kencang setiap
kali ia datang ke pedagang kedelai. Hampir setiap hari, harga kedelai makin
mahal, dan terakhir sempat menyentuh Rp 8.000 per kilogram. Selama 2007,
harganya telah naik lebih dari 100 persen.
Handoko tentu saja gerah. Untungnya, pengurus Primer Koperasi Produsen Tahu
Tempe Indonesia (Primkopti) itu tak sendiri. Ribuan rekan sesama profesi,
pengusaha tempe dan tahu, merasakan kegetiran serupa. Serentak, mereka lantas
bergerak. Para pengurus cabang saling kontak. Pertemuan beberapa kali digelar.
Agenda aksi disusun.
Hasilnya, Senin pekan lalu, mereka mengguncang Istana Negara, Jakarta. Lima
ribuan produsen berunjuk rasa. Mereka mogok berproduksi. Tahu tempe, makanan
yang digandrungi jutaan warga negeri ini, tiba-tiba menghilang. Luar biasa,
untuk pertama kalinya dalam sejarah Indonesia, tahu tempe lenyap dari Ibu Kota
dan sekitarnya.
Tak pelak, upaya mereka rupanya jitu membetot perhatian. Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono turun gunung. Esoknya, rapat kabinet terbatas mendadak sontak digelar
di Departemen Pertanian, Jakarta. Hasilnya, sejumlah solusi jangka pendek
ditetapkan: bea masuk diturunkan dari 10 persen menjadi nol persen, negara
tempat impor kedelai diperluas, dan importir diperbanyak, termasuk mengerahkan
Bulog.
Gonjang-ganjing kelangkaan kedelai sesungguhnya sudah lama diprediksi. Bahkan
empat tahun lalu, Jim Rogers, pialang legendaris di bursa Wall Street, New York,
sudah meramalkannya. Dalam bukunya berjudul Hot Commodities, pendiri Quantum
Fund itu meyakini pasar komoditas akan memanas. Barang komoditas bakal diburu,
tak terkecuali kedelai.
Ramalan itu tak meleset. Sejak pertengahan tahun lalu, harga kedelai di pasar
internasional merangkak naik. Di bursa komoditas Chicago, Amerika Serikat, harga
kedelai mencapai rekor tertinggi dalam tiga dekade pada 11 Januari lalu. Saat
itu, harga kedelai sempat mencapai US$ 13,1 per gantang atau US$ 481,3 per ton.
Tahun lalu, bursa komoditas kedelai juga mengantongi gain 78 persen.
Tentu saja ada alasan di balik kelangkaan kedelai. Merosotnya pasokan kedelai
0,6 persen menjadi 220 juta ton pada tahun lalu dituding sebagai biang lonjakan
harga. Apalagi tahun ini pasokan akan anjlok lagi 6,5 persen. Penyebabnya,
petani di Amerika berbondong-bondong meninggalkan kedelai dan beralih ke jagung
karena menganggapnya lebih menguntungkan. Ini menyusul kebijakan AS akan
menggalakkan produksi etanol dari jagung.
Sebaliknya, permintaan kedelai terus meningkat karena makin jadi rebutan. Tidak
hanya untuk pangan manusia, tapi juga buat pakan ternak dan sumber energi
seperti bahan baku biodiesel. Tengok saja Uni Eropa yang getol menggeber
penggunaan biodiesel hingga 5,75 persen pada 2010. Di Cina, makin makmurnya
penduduk lebih menyukai minyak goreng kedelai. Konsumsi daging di sana juga
melonjak sehingga kebutuhan bahan baku pakan ternak pun meningkat.
Nah, gonjang-ganjing kedelai itu sampai juga ke Tanah Air. Indonesia, yang
menggantungkan 60 persen permintaannya pada kedelai impor, pun belingsatan.
Produsen dan pedagang tahu tempe, pejabat pemerintah, serta masyarakat tiba-tiba
dikejutkan oleh harga kedelai yang naik seolah tanpa kendali. ”Pemerintah tak
punya kemampuan mengendalikan harganya,” ujar ekonom Didik J. Rachbini.
Ketidakberdayaan pemerintah menjaga harga kedelai sesungguhnya tidak lepas dari
sejarah. Dulu, pada 1990-an, menurut Direktur Jenderal Tanaman Pangan Departemen
Pertanian Sutarto, Indonesia bisa memproduksi kedelai hingga 1,2-1,8 juta ton.
Bulog, yang berperan mengendalikan harga pangan, hanya sedikit mengimpor. ”Saat
itu, petani untung menanam kedelai.”
Namun situasi berubah setelah krisis ekonomi dan Dana Moneter Internasional
(IMF) datang ke Indonesia pada 1998. Ketika itu, pemerintah menetapkan bea masuk
impor kedelai nol persen. Kedelai impor yang murah membanjiri pasar Indonesia.
Setiap tahun, lebih dari 1,2 juta ton diimpor dari total kebutuhan 2 juta ton
per tahun.
Sedangkan kedelai lokal makin jauh terpinggirkan. Mereka kalah bersaing lantaran
harganya lebih mahal ketimbang barang impor. Tak pelak, produksi kedelai
domestik terus merosot sejak 1998. Sepuluh tahun silam, petani masih bisa panen
1,3 juta ton. Tapi, tahun lalu, produksinya tinggal 750 ribu ton. ”Ini dampak
dari liberalisasi produk pertanian,” kata Sekretaris Jenderal Himpunan Kerukunan
Tani Indonesia Rachmat Pambudy.
Sejak itu, Indonesia bergantung pada kedelai impor. Lebih dari separuhnya malah
diimpor dari Amerika Serikat, produsen kedelai terbesar dunia. Dominasi AS ini
tak lepas dari sokongan mereka kepada para importir di Indonesia. Selain harga
murah, importir mendapatkan kredit ekspor GSM-102 yang memberikan keleluasaan
pembayaran hingga dua-tiga tahun.
Selama bertahun-tahun, empat importir besar kedelai menjadi pemain penentu di
Indonesia. Mereka adalah Cargill Indonesia, Teluk Intan, Gunung Sewu, dan Liong
Seng. Cargill sudah jelas produsen top produk pertanian asal Amerika Serikat.
Sedangkan Gunung Sewu kepunyaan keluarga Angkosubroto, pemilik Chase Plaza,
Jakarta.
Persoalannya, dominasi importir itu menimbulkan spekulasi bahwa mereka diduga
turut berperan di balik melejitnya harga kedelai. Bahkan sejumlah kalangan
mensinyalir ada kartel atau penentuan harga secara bersama-sama oleh pemasok.
Indikasinya, menurut Didik, saat harga naik, pemerintah tak bisa mengendalikan.
Sejumlah pengusaha tahu tempe tak kalah curiga. Mereka malah membeberkan
sejumlah fakta. Dengar saja pengakuan Handoko. Ia heran dengan kenaikan harga
setiap hari di Indonesia, meski di luar negeri berfluktuasi. Bahkan, ketika ia
mengecek ke rekan-rekan sesama pengusaha tahu tempe di daerah lain, harganya
juga sama.
Anehnya lagi, pedagang tetap menaikkan harga meski stok di gudang-gudang mereka
cukup melimpah. Di Banyuwangi malah ada penggerebekan gudang kedelai oleh
polisi. Mestinya, Handoko beralasan, jika stok cukup banyak, harga kedelai tak
perlu naik sedemikian besar. Apalagi Departemen Pertanian menyebutkan importir
masih menyimpan 250-300 ribu ton. Itu cukup untuk dua bulan.
Yang lebih mengejutkan adalah kejadian menjelang aksi unjuk rasa ribuan
pengusaha tahu tempe pada 14 Januari. Pada 5-14 Januari, harga kedelai mendadak
stabil. Sama sekali tak ada kenaikan, meski harga di luar negeri bergejolak.
”Bukankah ini seolah ada yang mengendalikan,” kata aktivis Kopti tersebut.
Pemerintah kabarnya sedang menyelidiki dugaan adanya permainan harga oleh para
importir besar. Ketua Komisi Perdagangan DPR Didik Rachbini malah mendesak
Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) ikut terjun mengusut sinyalemen ini.
”Kami sedang mengumpulkan informasi,” kata Ketua KPPU M. Iqbal.
Namun, dugaan itu dibantah oleh importir besar. Juru bicara Cargill Indonesia,
Susi Hutapea, meyakinkan bahwa institusinya bukan menjadi penentu harga kedelai
di pasar. ”Tudingan itu tidak benar,” katanya akhir pekan lalu.
Belum jelas memang siapa yang benar. Yang pasti, harga kedelai kini memasuki
keseimbangan baru. Produsen tahu tempe sudah berproduksi lagi meski harus
mendongkrak harga atau menyusutkan ukuran. Konsumen sepertinya tak lagi mengeluh
setelah tahu tempe mudah didapat. Giliran petani yang perlu menanam kedelai
kembali karena harganya sudah tinggi. ”Kelak, jika harga impor turun lagi, tugas
pemerintah menaikkan lagi bea masuk,” kata Didik.
Heri Susanto, Bloomberg
Ditulis dalam Uncategorized | 1 Comment »
<mode on: becanda>
Hore !! Akhirnya kita tak lagi disebut bangsa tempe !!
Setelah berpuluh-puluh tahun bangsaku diejek-ejek sebagai bangsa tempe, akhirnya label itu lepas juga; kini profesi terhormat di bangsaku adalah kerjaan berdasi, terutama menjual produk-produk luar negeri.
Bahkan untuk urusan tempe, bangsaku sudah mengalami kemajuan; kata temanku di “persatuan pelajar indonesia-jepang”, 76 % stok kedele di Indonesia diimpor dari Amerika Serikat.
Kini, para pembuat tempe dan tahu sudah mulai gulung tikar; wah … bangga deh … lama-lama kelak kita semua tidak disebut lagi bangsa tempe …
….. Banggakah ?! Atau Malukah ?!
Berikut beritanya:
<mode on: serius>
Kita harus membuat revolusi besar-besaran sehingga untuk urusan tempe aja tak bergantung ke luar negeri; apalagi beli tempe ke pembantunya zionis … idih … harom …
Ditulis dalam Uncategorized | 3 Comments »
Ditulis dalam Uncategorized | 1 Comment »
Salut untuk video ini:
Maju Terus !!
NB: Silakan kunjungi: http://www.youtube.com/profile?user=Muradaldin
Ditulis dalam Uncategorized | 1 Comment »
Semoga dugaan saya benar, yaitu Pak Harto sudah wafat sejak hari Jumat; sedangkan yang terjadi sekarang adalah pemasangan alat-alat bantu saja untuk memperpanjang umur, untuk mempersiapkan perasaan bangsa dan keluarga agar tak terlalu shock dengan kepergiannya.
Semoga dugaan saya yang ini salah: yaitu Pak Harto sulit meninggal karena masih begitu banyak orang yang belum rela akan kepergiannya yaitu korban-korban HAM, dan para manusia yang dirampok olehnya baik secara sadar, tak sadar, direncanakan atau tak terencana.
Kalau ini yang terjadi, maka alangkah menyesalnya seorang Soeharto: seumur hidupnya tak mampu mengantarkan akhir yang baik alias husnul khatimah. Seluruh pangkat, harta dan popularitas tak mampu membayar kenikmatan yang satu ini: HUSNUL KHATIMAH …
Di Al-Quran disebutkan bahwa orang kafir ingin sekiranya GUNUNG EMAS ditukar dengan satu kenikmatan: TAK TERSENTUH API NERAKA …
إِنَّ ٱلَّذِينَ ڪَفَرُواْ لَوۡ أَنَّ لَهُم مَّا فِى ٱلۡأَرۡضِ جَمِيعً۬ا وَمِثۡلَهُ ۥ مَعَهُ ۥ لِيَفۡتَدُواْ بِهِۦ مِنۡ عَذَابِ يَوۡمِ ٱلۡقِيَـٰمَةِ مَا تُقُبِّلَ مِنۡهُمۡۖ وَلَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ۬ (٣٦)
Sesungguhnya orang-orang yang kafir sekiranya mereka mempunyai apa yang di bumi ini seluruhnya dan mempunyai yang sebanyak itu [pula] untuk menebus diri mereka dengan itu dari azab hari kiamat, niscaya [tebusan itu] tidak akan diterima dari mereka, dan mereka beroleh azab yang pedih. (Al-Maaidah:36)
Saya jadi teringat dengan tetangga di Depok yang bernama Haji Muhammad bin Sisan.
Mungkin nama beliau tak sepopuler Pak Harto di dunia ini; bahkan mungkin Pak Haji Muhammad bin Sisan tidak lebih populer dari Pak Fauzi Akbar, yaitu kepala RT.03/RW 06 Kelurahan Tanah Baru, Kecamatan Beji, Depok, Jawa Barat. Begitu juga mungkin kekayaannya tak selevel dengan Pak Harto, bahkan mungkin tak setara dengan kekayaan Haji Toyib yang tanahnya beberapa hektar di Depok.
Tapi, Haji Muhammad bin Sisan memiliki satu keunggulan dibanding Pak Harto: HUSNUL KHATIMAH !
Beliau meninggal sehabis shalat maghrib berjamaah di Masjid Darul Istiqomah.
Saya ingat sekali, ketika itu kami habis shalat Maghrib, dan kami rebahan di masjid sambil menunggu Isya.
Ketika itu beliau berkata, “Ah … capek nih … rebahan dulu … ” setelah itu terdengar suara “ngorok”, dan langsung … tak sadar.
Setelah itu … langsung meninggal dengan muka yang tenang … di HARI JUMAT !
يَـٰٓأَيَّتُہَا ٱلنَّفۡسُ ٱلۡمُطۡمَٮِٕنَّةُ (٢٧) ٱرۡجِعِىٓ إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً۬ مَّرۡضِيَّةً۬ (٢٨) فَٱدۡخُلِى فِى عِبَـٰدِى (٢٩) وَٱدۡخُلِى جَنَّتِى (٣٠)
Hai jiwa yang tenang. (27) Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. (28) Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, (29) dan masuklah ke dalam surga-Ku. (30)
Sehingga … jika disuruh memilih ingin seperti apa nasib diri saya, apakah seperti Pak Haji Muhammad Soeharto atau Pak Haji Muhammad bin Sisan; maka tanpa ragu saya jawab:
“SAYA INGIN MENGIKUTI LANGKAH HAJI MUHAMMAD BIN SISAN”
Hidup ibarat musafir .. berbekalah secukupnya … untuk mengarungi kehidupan yang sesungguhnya …
NB:
1. Muhammad Soeharto : Presiden Republik Indonesia
2. Muhammad bin Sisan : Imam Para Marbot Masjid Darul Istiqomah, Depok.
Ditulis dalam Uncategorized | 27 Comments »
Setelah mengganyang “orba”, seperti yang saya katakan dalam posting sebelumnya, maka langkah selanjutnya adalah revolusi.
Menurut saya, revolusi disini bukan berarti bakar-bakaran ala kerusuhan Mei 1998, bukanpula balas dendam ala revolusi Perancis maupun revolusi Rusia; melainkan revolusi budaya, termasuk di dalamnya revolusi etika, revolusi sains, revolusi pendidikan, revolusi teknologi dst … alias kita harus berani memulai renaissance di Indonesia.
Setiap dari kita harus berani memiliki mimpi besar mengenai bangsa ini; kira-kira perubahan apa yang dapat kita kontribusikan dan ke arah mana perubahan itu akan terjadi.
Mungkin ada yang berfikir, untuk apa ordinary people seperti kita memiliki mimpi untuk menciptakan renaissance di Indonesia?
Jawabnya adalah begini:
Tuhan (Allah SWT) menilai usaha kita bukan hasil.
Termasuk yang dikatakan usaha dalam hal ini adalah cita-cita, mimpi dan kristalisasi kringat (istilah Kiai Tukul Arwana); ini yang akan ditimbang kelak di Hari Pembalasan.
Jika cita-cita kita buruk begitu juga kerja kita tak menghasilkan kristalisasi kringat, maka buruk pula penilaian Allah kelak kepada kita. Sebaliknya, Insya Allah jika cita-cita kita mulia disertai dengan kristalisasi kringat, maka alam semesta ini akan bersaksi akan semua yang kita cita-citakan dan kerjakan.
ٱلۡيَوۡمَ نَخۡتِمُ عَلَىٰٓ أَفۡوَٲهِهِمۡ وَتُكَلِّمُنَآ أَيۡدِيہِمۡ وَتَشۡہَدُ أَرۡجُلُهُم بِمَا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ (٦٥
Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.
Sehingga, singkat cerita, hendaknya kita semua bercita-cita untuk berkontribusi dalam revolusi bangsa ini, sehingga keadaan bangsa kita menjadi lebih baik …
Justru ordinary people kayak kita harus punya mimpi seperti ini; karena hanya dengan mimpi seperti yang dapat kita berikan ke keturunan kita …
(Bersambung)
Ditulis dalam Uncategorized | 1 Comment »
Rekan-Rekan yth.,
Siapakah yang kita sebut dengan “Orde Baru”?
Sebelum “solve the problem”, mari kita maen tunjuk-tunjukan …
1. Soeharto dan keluarga cendana (termasuk Prabowo) adalah orba.
2. Golkar adalah orba.
3. Neo-Golkar adalah orba. Yang dimaksud dengan neo-Golkar adalah orang seperti Arifin Panigoro, Alm. Sumitro Djojohadikusumo dsb … sehingga …
4. PDIP, Astra (Toyota Astra dsb), Pegawai Negeri, Alumni ITB, Iluni UI, Partai Demokrat dsb … termasuk mengandung unsur “Orba”. Neo-Orba adalah segerombolan manusia yang masih mengidap penyakit Orba; semisal, Astra adalah himpunan manusia yang berbisnis ala Orba (lihat disini)
Nah, jadi … jika anda berminat memberantas “orba”, begini solusi saya:
“MULAILAH DARI DIRI SENDIRI”
Dengan cara:
1. Tidak mencoblos Golkar dan PDIP bahkan Partai Demokrat ketika 2009.
Perlu dicatat, GOLKAR, PDIP dan Partai Demokrat akan kembali mendominasi di pemilu 2009 (lihat survey LSI). Sedangkan, masih menurut LSI, partai reformasi seperti PRD, PKS dan PAN akan menjadi partai pariah di 2009.
2. Tidak menjadi PNS. Sehebat apapun reformasi yang dibuat oleh SBY, budaya selama 32 tahun masih belum sembuh. Artinya korupsi masih terjadi dimana-mana. Itu sebabnya, saya menyarankan, untuk tak mengambil kesempatan menjadi PNS.
3. Tidak kerja di perusahaan-perusahaan Neo-Orba, seperti Astra, Medco dsb
4. Menjauhi keluarga-keluarga “orba”, seperti keluarga Soeharto, Wiranto, s/d keluarga para dirjen “orba”. Jangan cuba-cuba mencari calon mertua dari mereka …
Jadilah “Pemuda Kahfi” … yang berani menentang arus …
http://www.quran.mangga.com/hudhaifi/s018_al-kahf.zip
http://iluvislam.imeem.com/music/5xYRB-iS/izzatul_islam_pemuda_kahfi/
Terasing demi kebenaran hakiki
Dimana jiwa pasukan Badar berani
Menoreh nama mulia perkasa abadiUmat melolong di gelap kelam
Tiada pelita penyinar terang
Penunjuk jalan kini membungkam
Lalu kapankah fajar kan datangMengapa kau patahkan pedangmu
hingga musuh mamapu membobol betengmu
Menjarah menindas dan menyiksa
Dan kita hanya diam sekedar terpanaBangkitkan negri lahirkan generasi
Pemuda harapan tumbangkan kedzalimanWajah duia Islam kini memburam
Cerahkan dengan darahmu
Panji Islam telah lama terkuali
Menanti bangkit kepalmu
Itulah yang saya coba praktikan selama ini.
Bersabarlah, kawan … insya Allah kemenangan itu akan tiba …
Jalan Juang
By: Noorahmat
Sabarlah wahai saudaraku
Tuk menggapai cita
Jalan yang kau tempuh sangat panjang
Tak sekedar bongkah batu karang
Yakinlah wahai saudaraku
Kemenangan kan menjelang
Walau tak kita hadapi masanya
Tetaplah al-Haq pasti menang
Tanam di hati benih iman sejati
Berpadu dengan jiwa Rabbani
Tempa jasadmu jadi pahlawan sejati
Tuk tegakkan kalimat Ilahi
Pancang tekadmu jangan mudah mengeluh
Pastikan azzam-mu smakin meninggi
Kejayaan Islam bukanlah sekedar mimpi
Namun janji Allah yang Haq dan pasti..!
Ditulis dalam Uncategorized | 2 Comments »
Saya harus mengakui mengatakan ini:
Pak Harto adalah Pahlawan.
(Sejenak tidak percaya menuliskan ini, jika melihat prinsip yang saya pegang 10 tahun yang lalu …)
Ketika masih mahasiswa, saya termasuk manusia yang kerjaannya mengkutuk Soeharto. Bagi saya ketika itu, Soeharto layaknya Firaun; tirani yang memelihara intelektual, pedagang dan militer demi melanggengkan kekuasaannya.
Namun, kini agaknya kita perlu memberikan apresiasi lebih kepada seorang Soeharto.
Soeharto bagaimanapun sebejadnya beliau, tetap memilih mengakhiri hidupnya di rumah sakit lokal; kalau mau, beliau dapat saja meninggal di rumah sakit paling mewah di muka bumi ini. Tapi itu tidak dilakukannya.
Hebatkah pilihannya itu?
Menurut saya hebat, bahkan “hebad”. Pilihan Soeharto itu diambil ditengah semakin pudarnya kebanggaan bangsa ini terhadap apapun yang berbau “Indonesia”, termasuk untuk urusan berobat. Bahkan untuk berobat saja, kelompok menengah atas bangsa ini lebih milih berubat ke Singapura daripada ke RSPP, sekalipun cuma untuk mengobati batuk alias bengek.
Untuk berobat saja kita sudah gak bangga, apalagi berjibaku membela bendera dan lagu kebangsaan di ajang olahraga dsb. Itu jawabannya mengapa sekarang ini Indonesia jadi pecundang selalu diberbagai ajang olahraga, mulai dari Asian Games sampai dengan SEA Games.
Inga … inga … di era Soeharto sepakbola kita cukup terhormat, lho … pernah di zaman Zulkarnaen Loebis, Herry Kiswanto dkk, bangsa ini pernah sampai ke Semifinal ASIAN GAMES !! Begitu juga SEA GAMES kita adalah langganan juara …
Jadi, Pak HARTO mengajarkan Nasionalisme yang sangat dalam …
Selain itu, Pak Harto juga taat hukum, sekalipun untuk yang satu ini, beliau, terkadang demi harus menjaga keadaan tetap stabil, harus tetap hati-hati dalam mentaati hukum agar tak terjadi kekacauan yang berlebihan.
Ketika tahun 1998, beliau rela mundur demi stabilitas.
Selanjutnya, beliau juga menyerahkan segalanya ke hukum; sehingga kita bisa saksikan anak-anaknya masuk ke persidangan … bahkan beliau sendiri juga rela menjadi tersangka …
(Terlepas dari dinamika persidangan yang masih carut-marut; tapi tetap saja beliau *TIDAK LARI* dari hukum. Pilihan beliau adalah INI NEGERIKU … aku akan tetap disini sekalipun langit ini runtuh!)
Hebat … sungguh prinsip yang perlu diapresiasi dan diteladani …
Pada pukul 17.00 hari Jumat kemarin, konon Pak Harto sudah menghembuskan napas terakhirnya, namun tetap diberikan napas buatan, untuk menjaga perasaan keluarga.
Kalau benar ini yang terjadi, maka beliau dapat dikategorikan mati syahid (saya ganti dengan husnul khatimah; mungkin lebih tepat), sebagaimana hadist Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam.*
*(rujukan yang saya rekomendasikan: http://assunnah-qatar.com/index.php?option=com_content&task=view&id=297&Itemid=145)
Selamat jalan, Pak Harto; terimakasih atas keteladanan yang ditinggalkan selama ini …
NB: Proses hukum terhadap kroni Pak Harto harus tetap berjalan. Tapi harus tetap berjalan dengan adil.
Ditulis dalam Uncategorized | 141 Comments »
