Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Juni 29th, 2007

Ibnu Sina Pemabuk dan Penyembah Berhala?

 

اسلا م عليكم و رحمة الله وبركاته

Diantara penyebab kemunduran umat Islam adalah kebencian sebagian kalangan tokoh di umat ini terhadap para pelopor di bidang filsafat dan sains, terutama terhadap Ibnu Sina. Kebencian ini menjadi legitimasi bagi pengharaman filsafat dan sains itu sendiri. Sebetulnya masalah ini sangat sepele dan kecil, yang sebetulnya tidak perlu dipermasalahkan, namun agaknya sebagian orang tetap saja dalam keadaan berburuk sangka kepada Ibnu Sina dkk., jika tidak ada yang berusaha memberitahukan yang sebenarnya.

Apa saja dalil kelompok ini?

  1. Ibnu Sina adalah pemabuk

Mereka berdalih bahwa Ibnu Sina mengakui sendiri kebiasaan mabuknya ini di dalam riwayat hidupnya. Padahal, siapapun yang membaca buku tersebut secara langsung, kita tidak akan menemui hal tersebut.

Akan saya kutipkan dari bukunya langsung (sirah assyaikh ar-rais):

فمهما غلبني النّوم أو شعرت عدلت الى شرب قدح من الشّراب لكيما تعود الى قوتي. ثم أرجع الى القراءة…

 (سيرة الشيخ الرئيس)

 Oleh William E. Gohlman, hal tersebut diterjemahkan sebagai:   

Whenever overcame me or I became conscious of weakening, I would return aside to drink a cup of wine, so that my strength would return to me. Then I would return to reading … (The Life of Ibnu Sina, Translated by William E. Gohlman)

Jelas sekali, terdapat kesalahpahaman (disengaja atau tidak ?) disini; perkataan “qadhin mina asysyarabi” diterjemahkan sebagai “segelas anggur”, padahal arti sebenarnya adalah “segelas minuman”. Segelas minuman ini berfungsi supaya beliau kembali kuat kembali untuk membaca dan menulis. Minuman ini analoginya dengan kehidupan modern adalah seperti minuman suplemen, seperti “KratingDaeng”, “Hemaviton” dst. Intinya, dengan minuman tersebut, beliau akan semakin kuat, yang sangat berbeda sekali fungsinya dengan khamr yang akan menjadikan peminumnya semakin mabuk dan lupa diri.

Prof. Mulyadhi Kertanegara, pendiri CIPSI (http://www.philosophia-cipsi.com),  mengatakan, kalaupun minuman itu adalah anggur, anggur tersebut bukanlah termasuk khamr, yang diharamkan oleh Allah SWT.

  1. Ibnu Sina adalah penyembah berhala

Mereka berdalil, bahwa melalui teori emanasi, Ibnu Sina telah menjadi penyembah berhala, dengan mendefinisikan agama baru. Pendapat ini jelas sekali keluar dari kebodohan seseorang yang tidak tahu dirinya bodoh. 

Perlu diketahui, Ibnu Sina adalah filusuf dan ilmuwan yang teramat sangat ulung. Ia dapat menyusun konsep filsafat berbasis kepada pemikiran Aristotalian dan Platolian sekaligus. Di awal hidupnya, Ibnu Sina membuat konsep eksistensi (wujud) berbasis kepada konsep Aristoteles, dan diakhir hidupnya beliau menyusun teori emanasi, yang menyatakan bahwa alam semesta memiliki ruh (‘aql), berbasis kepada pemikiran Plato. Bagi Ibnu Sina, di fasa pemikirannya yang berbasis Plato ini, alam semesta memiliki nyawa,sebagaimana manusia, hewan dan tumbuhan. Sebagai contoh, matahari; ia memiliki nyawa sehingga menjadi penyebab bagi hidupnya makhluk di muka bumi ini (atas izin Allah SWT, tentunya).

Sayyid Hossein Nasr menulis di bukunya “SAINS DAN PERADABAN DALAM ISLAM” di halaman 274 dan seterusnya:

“Ibn Sina bukan hanya seorang filosof peripatetic, yang menggabungkan doktrin Aristoteles dengan unsure-unsur tertentu dari NeoPlatonisme dan seorang saintis yang mengamati alam dalam kerangka filsafat abad pertengahan tentang alam; dia juga salah seorang perintis aliran metafisik iluminiasionis (isyraq) yang eksponen terbesarnya adalah Suhrawardhi. Dalam karya-karya akhirnya, istimewa Hikayat Penglihatan dan naskah-naskah cinta, kosmos-kosmos dari para filosof syllogistic menjelma jadi suatu dunia lambing-lambang, yang dijelajahi seorang gnostik menuju kebahagian akhirnya. Dalam “Logika” Bangsa Timur , yang merupakan bahagian karyanya yang lebih besar, yang kebanyakan telah hilang, Ibn Sina menolak karya-karya sendirinya yang terdahulu, yang pada umumnya berpaham Aristoteles, yang hanya cocok untuk rakyat biasa; sebagai gantinya ia menyuguhkan bagi kaum elite “filosofi timur”. Triloginya – Hayy Ibn Yaqzhan, Al-Thair dan Salman wa Absal, membahas siklus menyeluruh dari tamasya gnostik dari “dunia bayangan” ke Kehadiran Ilahi, Timur yang Terang. Dalam tulisan-tulisannya ini, bagan dari alam filosof dan saintis abad pertengahan tidak berubah; hanya kosmos menjadi terkurung dalam diri sang gnostik – suatu “gua” yang harus menjadi acuan orientasi seorang anggota pemula dan yang harus dilaluinya. Fakta dan fenomena alam menjadi transparan, jadi lambing-lambang yang punya makna spiritual bagi pelaku yang dalam tamasya kosmis ini berhubungan dengannya.

             Keseluruhan karya Ibnu Sina memberikan satu contoh yang jelas tentang hirarki pengetahuan dalam masyarakat Islam. Dia adalah pengamat dan peneliti geologi dan ilmu kedokteran, seorang filosof aliran peripatetic, lebih menuruti paham neoplatonis ketimbang aristoteles; dan ia seorang penulis teks gnostik yang kelak menjadi sumber banyak komentar oleh iluminasionis setelah dia. Dari tulisannya terlihat keselarasan pengetahuan yang nyata, rasional dan intelektual, yang diungkapkan seumpama bangunan megah berdasarkan hirarki sifat dan segala hal dan yang akhirnya bertumpu pada keadaan dan tingkat majemuk dari manifestasi kosmis.”

(Sayyid Hossein Nasr, “SAINS DAN PERADABAN DALAM ISLAM”, halaman 274)

Pembaca saya sarankan untuk membaca buku Nasr tersebut untuk memahami Ibnu Sina, karena dibuku tersebut juga dibahas langsung beberapa ide-ide besar Ibnu Sina. Tentu, kutipan-kutipannya diambil langsung dari karya-karya otentik Ibnu Sina.

Dua butir di atas semoga cukup membuat jera dan paham sebagian orang yang kini masih saja sibuk mengkafir-kafirkan Ibnu Sina dan untuk beralih dari kebiasaan menghujat, menjadi kebiasaan mengkaji ilmu.

Mari kita biasakan kebiasaan Ibnu Sina, yaitu membaca dan menulis dengan sangat produktif, yang diselingi dengan shalat (dan sesekali minum suplemen agar sehat dan tidak cepat mengantuk).

وسلا م عليكم و رحمة الله وبركاته

Wass.,

Agung

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Read Full Post »