Feeds:
Pos
Komentar

Archive for September 26th, 2007

Sistem Politik Berbasis Duit

(Tulisan ini adalah salah satu rangkaian diskusi dalam sebuah milis. Silakan lihat di kolom “komentar” (comment))

Coba pikirkan, berapa banyakkah guru dan dosen yang dapat bersuara di DPR?

Setahu saya sih gak ada karena memang gak mungkin.

Untuk menjadi wakil rakyat di dari PKS, yang dikenal partai yang relatif bersih, itu mesti menyediakan dana sekitar 10 jutaan. Uang itu dimaksudkan sebagai uang kampanye, membantu kampanye yang dilakukan partai.

(Bagi guru yang jujur, 10 juta mending untuk beli motor!)

Kalo di GOLKAR, harus sedia di atas 50 juta; untuk setori ke DPD, DPP dsb, plus uang kampanye.

(Maka dari itu Bupati Majalengka yang sekarang pernah pinjam 3,5 miliar untuk hal-hal ini)

Partai lain yang GOLKAR-like, seperti PDIP, Demokrat, dsb, ya … bermodus seperti GOLKAR bahkan lebih parah.

Jadi, ya, … tidak mungkinlah Guru atau Dosen jadi anggota DPRD, DPR dsb.

Selain kagak punya duit, saya yakin masih banyak Guru dan Dosen yang masih punya hati nurani, sehingga gak bersedia bersedia ikut-ikutan sistem begituan.

Itulah sebabnya gak ada Guru dan Dosen (yang jujur) yang bisa menembus DPR dan MPR.

Nah … hadirin silakan memilih deh, apakah sistem politik kita akan kita biarkan berjalan seperti sekarang ini, yaitu sistem politik tanpa melibatkan hati nurani yaitu cuma berbasis duit semata, atau kita memperjuangkan sistem politik baru yang lebih menyuarakan hati nurani.

Wass.,

Agung

Read Full Post »

Syair untuk Revolusi

Kata-kata berikut dari  seorang  bijak yang  bermukim  di  daerah  Jawa Barat.

 

Bagus direnungi bagi yang merindukan perubahan di Indonesia …

 
Idealisme Kami :
 

Betapa inginnya kami agar bangsa ini mengetahui bahwa

Mereka lebih kami cintai dari pada diri kami sendiri.

 

Kami berbangga ketika jiwa-jiwa kami gugur

Sebagai penebus bagi kehormatan mereka,

Jika memang tebusan itu yang diperlukan.

 

Atau menjadi harga bagi tegaknya kejayaan,

Kemuliaan, dan terwujudnya cita-cita mereka,

Jika memang itu harga yang harus dibayar.

 

Tiada sesuatu yang membuat kami bersikap seperti ini

Selaian rasa cinta yang telah mengharu-biru hati kami,

Menguasai perasaaan kami,

Memeras habis air mata kami, dan

Mencabut rasa ingin tidur dari pelupuk mata kami.

 

Betapa berat rasa di hati kami menyaksikan bencana

Yang mencabik-cabik bangsa ini,

Sementara kita hanya menyerah pada kehinaan

Dan pasrah oleh keputusasaan.

 

Kami ingin agar bangsa ini mengetahui bahwa

Kami membawa misi yang bersih dan suci;

Bersih dari ambisi pribadi, bersih dari kepentingan dunia,

Dan bersih dari hawa nafsu.

 

Kami tidak mengharapkan sesuatupun dari manusia;

Tidak mengharapkan harta benda atau imbalan lainnya,

Tidak juga popularitas, apalagi sekedar ucapan terima kasih.

 

Yang kami harap adalah…..

Terbentuknya Bangsa, beserta pemimpin dan masyarakatnya,
yang lebih baik dan bermartabat,

Terbangun Integritas atas Taufik-Nya dan

Terwujud  Solidaritas berkat Ridlo-Nya,

Sebagai wujud kebaikan dari Allah-Pencipta Alam Semesta…Amien.

 

Read Full Post »