Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Februari 15th, 2009

Tanggapan analisa NIST

http://wtc.nist.gov/pubs/factsheets/faqs_8_2006.htm

1. If the World Trade Center (WTC) towers were designed to withstand multiple impacts by Boeing 707 aircraft, why did the impact of individual 767s cause so much damage?

Tanggapan:

Ini berbasis ke ucapannya Frank De Martini

{Beliau tewas dalam insiden 9/11}

Menurut gw, memang tidak ada kerusakan yang berarti, mengingat sesaat setelah kedua pesawat menubruk WTC 1 dan WTC 2, kedua gedung tersebut tidak runtuh.

{Ingat, WTC 1 runtuh 102 menit setelah tumbukan, sedangkan WTC 2 runtuh 56 menit setelah tumbukan}

WTC 1 ditubruk pesawat pada lantai 98; artinya masih ada 90 lantai lebih yang mampu menahan berat 20 lantai dan bangkai pesawat.

Gedung WTC 2 runtuh 2 detik lebih dari free-fall.

WTC 2 ditubruk pada lantai 82; artinya masih ada 80 lantai yang mampu menahan bangkai pesawat dan 30 lantai.

Momentum pesawat terjadi pada sumbu horizontal; dan lewat chatting kita sudah sepakat bahwa tidak akan menimbulkan masalah pada sumbu vertikal, yaitu tidak akan berdampak banyak dalam keruntuhan.

Sehingga, pernyataan NIST berikut:

“The damage from the impact of a Boeing 767 aircraft (which is about 20 percent bigger than a Boeing 707) into each tower is well documented in NCSTAR 1-2. The massive damage was caused by the large mass of the aircraft, their high speed and momentum, which severed the relatively light steel of the exterior columns on the impact floors. The results of the NIST impact analyses matched well with observations (from photos and videos and analysis of recovered WTC steel) of exterior damage and of the amount and location of debris exiting from the buildings. This agreement supports the premise that the structural damage to the towers was due to the aircraft impact and not to any alternative forces.”

Perlu dipertanyakan, karena arah pesawat adalah pada sumbu horizontal; idealnya, tidak akan ada gaya pada sumbu vertikal. Tapi anggap, ada dampak pada sumbu vertikal; apakah dapat meruntuhkan 90 lantai baja dibawahnya (untuk WTC 1) dan 82 lantai untuk WTC 2)?

Kesimpulannya, ucapan Frank De Martini itu cenderung memiliki akurasi kebenaran yang tinggi, yaitu pesawat yang menumbuk pada arah horizontal, tidak akan berarti banyak pada kerusakan WTC.

2. Why did NIST not consider a “controlled demolition” hypothesis with matching computer modeling and explanation as it did for the “pancake theory” hypothesis? A key critique of NIST’s work lies in the complete lack of analysis supporting a “progressive collapse” after the point of collapse initiation and the lack of consideration given to a controlled demolition hypothesis.

Tanggapan:

NIST telah lebih baik dari FEMA, karena NIST menolak “Pancake Theory”. “Pancake Theory” tidak bisa menjelaskan waktu keruntuhan untuk WTC 1,2 dan 7.

Oleh karena itu NIST menggagas dua argumen berikut:

“Based on this comprehensive investigation, NIST concluded that the WTC towers collapsed because: (1) the impact of the planes severed and damaged support columns, dislodged fireproofing insulation coating the steel floor trusses and steel columns, and widely dispersed jet fuel over multiple floors; and (2) the subsequent unusually large jet-fuel ignited multi-floor fires (which reached temperatures as high as 1,000 degrees Celsius) significantly weakened the floors and columns with dislodged fireproofing to the point where floors sagged and pulled inward on the perimeter columns. This led to the inward bowing of the perimeter columns and failure of the south face of WTC 1 and the east face of WTC 2, initiating the collapse of each of the towers. Both photographic and video evidence—as well as accounts from the New York Police Department aviation unit during a half-hour period prior to collapse—support this sequence for each tower.”

Argumen ini juga lemah; berikut kelemahannya:

(1) Seperti dijelaskan di atas, pesawat jet memiliki momentum pada arah horizontal, bukan vertikal, sehingga impact dalam arah vertikal yang menyebabkan keruntuhan dua gedung WTC minim sekali. Kemudian sebutlah jet ini memiliki bahan bakar yang tumpah, tapi mari kita gunakan akal waras, seluas apakah tumpahan bahan bakar ini dapat melumuri bangunan WTC 1 dan 2 ? Apakah 100 persen bangunan dilumuri? Apakah 50 persen? Apakah 30 persen? Atau mungkin <<< 10 persen, sehingga dapat membakar gedung WTC?

{Silahkan googling video, untuk melihat dampak kebakaran WTC 1 dan WTC 2.}

(2) Dengan asumsi bahan bakar jet tumpah, NIST mengatakan bahwa bahan bakar tersebut melelehkan bangunan WTC 1 dan 2 sehingga runtuh, karena temperatur mencapai 1000 derajat Celcius. Pertanyaannya, benarkah bahan bakar pesawat dapat melelehkan fondasi-fondasi dan bahan gedung WTC 1 dan 2? Apakah ada bukti-bukti ilmiah kondisi ini terjadi?

Justru bukti yang lebih kuat adalah yang mampu meruntuhkan gedung sekelas WTC 1, 2 dan 7 adalah bahan-bahan yang biasa digunakan untuk menghancurkan suatu gedung (baca: controlled demolition) seperti thermite yang diracik dengan phosphorous yang terlacak dan di publish disini:

http://www.springerlink.com/content/f67q6272583h86n4/

Read Full Post »