Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Uncategorized’ Category

Alhamdulillah, saya akan mempresentasikan poster di http://newton.kias.re.kr/aqis08/

Read Full Post »

Syaikh As-Sudais

Pertama kali mengenal tilawah Syaikh As-Sudais adalah ketika saya masih kelas 2 SMA. Ketika itu Ustadz Ali Rasyidin meminjamkan beberapa kaset Syaikh. Terutama, yang sangat berkesan adalah bacaan Surah Al-Jinn.

Ketika Syaikh datang beberapa waktu lalu ke Jakarta, yaitu ke Masjid Al-Azhar, saya menghadiri Shalat Jumat yang dikhutbahi dan diimami pula oleh beliau.

Berikut bacaan dan juga video beliau untuk Surah Luqman:

http://agung-trisetyarso.blogspot.com/2008/07/surah-luqman-syaikh-as-sudais.html

Read Full Post »

Sebagai seorang muslim, kita tak terlalu dituntut hasil di dunia ini; kehidupan di dunia hanya sebatas “jangan dilupakan”, sedangkan hasil di akhirat adalah tujuan utamanya.

Hasil2x di dunia adalah bersifat materialistik dan terlihat oleh makhluk; sedangkan tujuan akhirat lebih bersifat non-materialistik, lebih esensial, tak terlihat oleh makhluk melainkan hanya oleh Khaliq.

Oleh karenanya, beramal untuk dilihat manusia adalah riya; yaitu sebuah syirik pada level terendah. Rasulullah SAW bersabda, bahwa riya itu ibarat melihat semut hitam di atas batu hitam di malam hari. Artinya memang sangat sulit meraba ke-riya-an yang dilakukan oleh kita.

Sehingga, hendaknya setiap amal kita haruslah diperuntukkan bagi Allah SWT semata. Ketika kita beramal, kita tak peduli dengan perkataan dan anggapan makhluk dan hanya mementingkan pandangan Khaliq semata.

Mengikuti anggapan makhluk adalah sumber petaka; karena makhluk adalah sumber salah dan dosa, sehingga mengikuti makhluk, selama tak sejalan dengan Khaliq, adalah sesat.

Oleh karenanya, seorang `abid hendaknya selalu mementingkan pandangan Khaliq di atas segala pandangan makhluq. Oleh karenanya pula, seorang `abid harus terbiasa bekerja dalam kesendirian, jauh dari popularitas.

Read Full Post »

Rekan-Rekan yth.,

Kini media diramaikan oleh pemberitaan kasus korupsi Al Amin Nasution
dan Yusuf Erwin Faishal.

Ternyata, kedua kasus itu bersumber dari pengembalian gratifikasi ke
KPK para anggota dewan sebuah partai tertentu.

Sebuah langkah bagus untuk pemberantasan korupsi di negeri kita.

Berikut berita2xnya:

1. Koran Tempo, Jumat 18 Juli 2008 Hal A7
———————————

==============================

Empat Anggota DPR dari PKS Terima Duit
KASUS ALIH FUNGSI HUTAN Wakil Ketua Komisi mengaku menerima dari Yusuf
Faishal.
JAKARTA
==============================

— Empat anggota Komisi Pertanian Dewan Perwakilan Rakyat dari Partai
Keadilan Sejahtera menerima duit dalam kasus alih fungsi hutan lindung
Tanjung Api-api, Banyuasin, Sumatera Selatan. Menurut Wakil Ketua
Komisi Kehutanan dan Pertanian DPR Suswono, dirinya menerima duit Rp
300 juta.

Namun, ia mengaku tak mengetahui besarnya duit yang diterima tiga
anggota Fraksi PKS lainnya. “Mungkin jumlahnya berbeda,” kata Suswono
ketika dihubungi kemarin. Suswono juga menyebutkan ketiga nama anggota
Fraksi PKS tersebut, satu di antaranya Tamsil Linrung.

Suswono menjelaskan, duit Rp 300 juta itu telah dikembalikan ke Komisi
Pemberantasan Korupsi pada sekitar November 2006. Pengembalian dana
dilakukan dua kali. Dalam wawancara via telepon pada 1 Mei lalu,
Suswono me nyebutkan dana diterima dalam bentuk traveler’s cheque dari
Yusuf Erwin Faishal (bukan Yusuf Emir Faisal seperti yang ditulis
koran ini dalam edisi sebelumnya), yang kini sudah ditetapkan sebagai
tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi.

Adapun Tamsil mengaku lupa jumlah duit yang diterima dalam kasus itu.
“Bentuknya uang dolar Singapura dan rupiah,” kata dia. Ia
mengembalikan duit itu pada 26 Oktober 2006 ke Fraksi PKS.

Penasihat hukum Yusuf Erwin Faishal, Sheila Salomo, membantah kabar
kliennya membagikan uang ke anggota Komisi Kehutanan DPR. “Tolong
diingat, dari awal klien saya bilang bukan dia yang membagikan, tapi
memang ada yang mengatur pembagiannya,” kata Sheila ketika dihubungi
tadi malam. Sheila enggan menyebutkan nama pengatur pembagian itu.

Kasus ini terbongkar setelah anggota Fraksi Partai Persatuan
Pembangunan, AlAmin Nur Nasution, tertangkap tangan di Hotel Ritz
Carlton, Jakarta. Kasus ini menyeret Sarjan Taher dari Partai Demokrat
sebagai tersangka sejak 27 Februari lalu.

Belakangan muncul nama tersangka lain dari Fraksi Partai Kebangkitan
Bangsa, Yusuf Erwin Faishal. Yusuf pada Selasa lalu datang bersama
istrinya ke KPK. Ia mengaku menyerahkan duit Rp 800 juta, tapi KPK
langsung menahannya. Ia diduga menerima sejumlah uang dari perusahaan
rekanan alih fungsi hutan PT Chandra Tex.

Atas kasus ini, anggota Fraksi PKB, Imam Anshori Shaleh, mengatakan
PKB akan menggelar audit internal guna mengusut aliran dana dari
Yusuf. “Kami akan cek, PKB akan mengaudit ke dalam, apa betul menerima
dan siapa saja yang menerima,” kata Imam Anshori di Mahkamah
Konstitusi, Jakarta. Tadi malam PKB membentuk tim pengusut aliran dana
dari Yusuf. Dewan Pimpinan Pusat, kata dia, akan memeriksa Bendahara
PKB Aris Junaedi dan Amir Muin Syam.
============================================

2.

a) http://www.media-indonesia.com/berita.asp?Id=167718

b)http://www.detiknews.com/read/2008/04/11/165106/922123/10/anggota-fpks-dapat-a\
mplop-rp-30-juta-dari-pemda-bintan

Anggota FPKS Dapat ‘Amplop’ Rp 30 Juta dari Pemda Bintan

Muhammad Nur Hayid – detikcom

Jakarta – Gratifikasi (hadiah pada penyelenggara negara) sebesar Rp 30
juta
pernah diterima anggota FPKS DPR yang duduk di Komisi IV Jalaluddin
Satibi.
Si pemberi adalah Pemda Bintan, Kepri.

“Pada kunjungan kerja (kunker) anggota kami ke Bintan, dia dapat
gratifikasi
sebesar Rp 30 juta. Tapi uang itu sudah diberikan ke KPK pada Januari
setelah kunker,” kata Ketua FPKS Mahfudz Siddiq di Gedung DPR, Senayan,
Jakarta, Jumat (11/4/2008).

Mahfudz tidak tahu apakah pemberian tersebut ada kaitannya dengan kasus
dugaan suap alih fungsi hutan lindung untuk ibukota kabupaten yang menimpa
Al Amin Nasution atau tidak. Yang pasti, PKS telah membuat mekanisme
internal, siapa pun yang menerima gratifikasi harus mengembalikannya
ke KPK.

“Saya tidak tahu apakah ada kaitannya atau tidak. Saya hanya menyampaikan
bahwa anggota kami telah mengembalikan,” sambung Mahfudz.

Dia menegaskan, seluruh penyerahan gratifikasi yang dilakukan anggota FPKS
ada tanda terimanya. Karena itu apabila diperlukan, PKS siap memberi
keterangan.

“Semua ada tanda terimanya. Ada tanda buktinya,” tandas Mahfudz. ( nvt
/ nrl

Read Full Post »

Bangsa Indonesia perlu bersyukur bahwa pernah memiliki seorang Rahmat Abdullah. Alhamdulillah saya pernah bertemu beberapa kali dengan yang bersangkutan di Jakarta tahun 1990-an dan di Bandung sekitar tahun 2002 di TK Fursan, Dago, Bandung.

Berikut beberapa dokumentasi beliau:

http://agung-trisetyarso.blogspot.com/2008/07/almarhum-ust-rahmat-abdullah.html

Read Full Post »

Kejeniusan dan Lelucon

Seminggu ini saya semakin yakin, bahwa kejeniusan berbanding lurus dengan lelucon. Setidaknya itu saya lihat pada sosok Prof. Seth Lloyd dan Pak Armein (walaupun yang bersangkutan mungkin pasti menolak dikatakan sejenius Prof. Lloyd)

Definisi lelucon disini bukanlah seperti perilaku sebagian pelawak yang melawak secara kasar; melainkan lelucon2x dengan kata-kata dan pemikiran2x yang membuat kita menertawakan diri sendiri dan keadaan.

Ketika saya masih di ITB, saya sangat menikmati kuliah dengan Pak Pantur Silaban; beliau dikenal dengan lelucon2x politik dan sosial yang benar2x nyelekit; terkadang tak sedikit yang akan marah dengan perkataannya. Tapi, kalau dipahami dalam2x, ternyata perkataan2x tersebut tak ubahnya cara kita menertawakan diri sendiri dan keadaan yang kita hadapi.

Ketika Prof. Lloyd memberikan kuliah dan berdiskusi dengan saya, kenangan bersama Pak Silaban benar2x terbuka kembali.

Mari kita latih diri kita untuk dapat menciptakan lelucon2x yang dapat menertawakan diri sendiri dan keadaan. Mungkin dengan cara itu kita bisa menuju kejeniusan.

Read Full Post »

Pembimbing saya mengatakan, kini jurnal quantum information paling beken adalah QIC.

Silakan baca artikel dari Isaac Chuang di Nature:

http://www.nature.com/nature/journal/v420/n6911/full/420025a.html

Nature Magazine Journal Review (Nov. 7, 2002)

on Quantum Information and Computation
coordinating managing editor Hoi-Kwong Lo
Rinton Press, 7 issues/yr. $260 (institutional); $140 (individual)

Growing Up With Quantum Computing
Isaac Chuang

Physics and computer science have given birth to a new field: quantum computation and quantum information. And just as proud parents with new born children may find Parenting magazine appearing in their mailboxes, researchers in this field now have Quantum Information and Computation, a timely new journal from Rinton Press.

This journal, just over one year old, serves a nascent community that was originally founded in the mid-1980s on the principle that information and physics are fundamentally intertwined at their deepest levels. The spark that ignited worldwide interest in this insight sprang forth in 1994 with Peter Shor’s discovery of a theoretical way to use quantum-mechanical resources to unravel a mathematical problem at the heart of electronic commerce and cryptography. The heyday of quantum computing followed, with rapid invention of ways to combine the results of classic information theory such as error correction with quantum physics. Experiments also successfully realized quantum algorithms and protocols including quantum state teleportation, using techniques from optics, nuclear and atomic physics, and even exotic chemistry. Eight years on, as maturity is beginning to descend, the excitement is still palpable and the young field is starting to walk — but where will it learn to talk?

The appearance of Quantum Information and Computation fills its need in the community, establishing a middle ground between computer science, physics and the publication forums of other disciplines. Quantum-computing papers currently clamour for time and attention all the way from Science and Nature to the proceedings of the IEEE Foundations of Computer Science and the ACM Symposium on Theory of Computing. Also the field has gradually developed its own language and style, challenging the limitations of venues intended for general audience. In Quantum Information and Computation, papers have a natural home where authors will finally be free to assume a basic knowledge of concepts, such as quantum circuits and computational complexity.

Readers will also be pleased to find the journal well balanced and populated with high-quality articles of generous length. The members of the editorial board are accomplished and respected leaders in the field, representing both theoretical and experimental work, and including experts in both physics and computer science. This careful balance is reflected in the contents: the first issue is a beautiful four-part treatise on entanglement in all its theoretical aspects (providing a much-needed entree into the subject), and another early issue elegantly assembles 14 expert articles covering all the main implementation schemes for quantum computers, including an inspired piece by David DiVincenzo on “Dogma and heresy in quantum computing”. The journal publishes tutorials as well as regular articles, and features in-depth reviews of books in the field, plus a regular and lively “webcorner” that lists online links to active research groups, upcoming conferences and workshops.

Judging from the first ten issues, Quantum Information and Computation is here to stay, and will find a warm welcome in the quantum-computation and quantum-information community.

Isaac Chuang is at the Center for Bits and Atoms, Media Laboratory, MIT,  20 Ames Street, Cambridge, MA 02139, USA

Read Full Post »

Tak kan Terlupakan !!

Seth-8

Seth-5

Seth-2

Seth-4

Seth-1

Read Full Post »

Seorang pejabat BP Migas mengancam saya akan dimasukkan penjara, disebabkan rumus yang saya pakai:

Korupsi di sektor Migas = (Data ICW) * (konstanta)

Ancaman itu dilayangkan disebuah milis.

Read Full Post »

Rekan-Rekan yth.,

Kita semua baru saja menerima laporan yang sungguh membuat merinding;
bahwa penyelewengan di penerimaan minyak tahun 2000-2007 menyentuh
angka 194 triliun.

http://www.detikfinance.com/read/2008/07/09/173510/969592/4/bp-migas-berharap-ic\
w-salah-hitung-soal-penyimpangan-migas

Itu yang terdeteksi; yang tak terdeteksi pastilah lebih banyak lagi.
Anggap saja yang sesungguhnya adalah 400 triliun.(Bisa saja yang
sesungguhnya 5 kali atau 10 kali lipat s/d 1940 triliun)

Jika anggapan kita bahwa angka sesungguhnya adalah 400 triliun, maka
seharusnya kita tak butuh kenaikan BBM yang kemarin dilakukan; dengan
asumsi untuk 120 USD/barel butuh subsidi 200 triliun
(http://www.hukmas.depkeu.go.id/Ind/News/NewsFiscal.asp?link=Penjelasan_BBM_2305\
08.doc
)

Yang salah tentu bukan SBY; beliau hanya menuruti para ekonom2x
disekiliingnya.

Ada baiknya rakyat bersatu untuk menyikapi hal ini.

Salam,

Agung

Seorang warga Indonesia yang berprofesi sebagai Marbot Mushalla dan
sedang belajar menulis.

https://trisetyarso.wordpress.com/

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »