Feeds:
Pos
Komentar

Saya bukan penggemar fanatik Antasari Azhar, bisa jadi yang bersangkutan punya
hobi main golf, main kartu (judi kecil2x-an?) dsb.

Tapi memang saya setuju ada keanehan di kasus ini.

Kalau merujuk ke kalimat ini LEBIH ANEH LAGI:

“Antasari justru menyatakan, dirinya malah melindungi Nasruddin karena dia
menjadi saksi dalam kasus korupsi yang membelit PT Rajawali Nusantara Indonesia.
“Karena dia juga beberapa kali melaporkan korupsi,” kata Antasari di
kediamannya, tadi malam.”

http://korupsi.vivanews.com/news/read/54037-antasari_azhar_dicekal

Yang lebih aneh lagi, kepolisian lebih senang dengan sinetron picisan yang
mengatakan bahwa pembunuhan itu didasarkan kepada rebutan cewek yang tak terlalu
cantik.

Saya curiga, ada yang sedang memberikan pesan yang kuat kepada bangsa Indonesia,
agar jangan terlalu serius membersihkan korupsi. Dan yang memberikan pesan itu
adalah mereka yang mampu menaklukan Kepolisian, setidaknya Polda Metro Jaya.

Bicara tentang Polda Metro Jaya, siapa pun tahu ini sarangnya penyamun.
Disinilah sarangnya mafia yang menyebabkan perdagangan shabu-shabu dan ganja
masih cukup marak di Jakarta.

Untuk membunuh jutaan rakyat Jakarta dengan shabu2x dan ganja saja mereka (oknum
Polda Metro) sangat tega; sehingga agaknya membunuh seorang Nasruddin dan
memenjarakan seorang Antasari Azhar bukanlah perkara yang cukup berat.

Salam,

Agung

Rekan2x yth.,

Sekarang mari kita bahas, apakah Tuhan tunduk kepada logika yang berdiri di atas
NAND, AND, NOT, OR, dan XOR.

Seperti sudah dibahas sebelumnya, bahwa kalimat berikut:

2.”Tuhan Maha Kuasa, dapatkah Tuhan membuat batu yang ia tak sendiri mampu
mengangkatnya?”

Adalah GERBANG NOT.

Jika inputnya adalah “Tuhan mampu mengangkatnya”, maka outputnya adalah “Tuhan
tidak maha kuasa”.

Jika inputnya adalah “Tuhan Maha Kuasa”, maka outputnya adalah “Tuhan tidak
mampu mengangkatnya”

Kesalahan mendasar dari paradoks ini adalah menganggap Tuhan adalah sesuatu yang
terbatas.

Sekarang mari kita menganggap Tuhan adalah sesuatu yang tak terbatas, atau
“Infinity”.

Seperti kita tahu dari pelajaran SMA tahun 1990-an,

“Infinity” x bilangan = “Infinity”
“Infinity” + bilangan = “Infinity”

Apa representasi “Infinity” dalam bilangan biner? JAWAB = “Infinity”

Seperti kita tahu GERBANG NOT = f(a) = 1 + a

Sehingga,

f(0) = 1 + 0 = 1
f(1) = 1 + 1 = 0

Maka jika inputnya adalah “Infinity”

f(“infinity”) = 1 + “infinity” = “infinity”

Artinya, infinity tidak tunduk kepada GERBANG NOT.

Kalau dikembalikan ke kalimat di atas, kalimat tersebut gagal mengukur Tuhan.

Salam,

Agung

Kalimat berikut:

1. “Jangan percaya orang Bandung, karena semua orang Bandung adalah pembohong;
dan saya adalah orang Bandung”

paradoks, jika menggunakan logika klasik, yaitu sikap kita hanya “percaya” atau
“tidak percaya”.

Jika kita “percaya” kepada si pembicara, maka kita “tidak percaya”. Maka, input
“percaya”, memiliki output “tidak percaya”

Tapi, kalau “kita tidak percaya”, maka pada hakikatnya kita “percaya”. Artinya,
input “tidak percaya” memiliki output “percaya”.

Kalau dianalogikan,

“percaya” = 1
“tidak percaya” = 0

dan f(x) adalah kalimat “Jangan percaya orang Bandung, karena semua orang
Bandung adalah pembohong; dan saya adalah orang Bandung”, maka:

f(1)=0
f(0)=1

atau dengan kata lain, kalimat tersebut adalah GERBANG NOT.

Gerbang NOT, bentuknya bisa bermacam-macam; misal Gerbang Identitas dinyatakan
dengan {{1,0},{0,1}}, maka Gerbang NOT dapat dinyatakan dengan {{0,1},{1,0}},
dengan

“1” = {1,0}
“0” = {0,1}

Kalau proses komputasi ini kita jalankan dalam bahasa matriks, maka

f(1) = 0, adalah {{0,1},{1,0}}*{1,0}= {0,1}

Begitu juga sebaliknya.

Pertanyaannya, dapatkah GERBANG NOT tidak menegasikan suatu keadaan?

Jawabnya, DAPAT!

Misal keadaan itu adalah superposisi dari “1” dan “0”, seperti berikut:

1/2*{1,0}+1/2*{0,1}

Maka dari itu: ({{0,1},{1,0}})*(1/2*{1,0}+1/2*{0,1}) = (1/2*{1,0}+1/2*{0,1})

Konsekuensinya, kalimat “Jangan percaya orang Bandung, karena semua orang
Bandung adalah pembohong; dan saya adalah orang Bandung” menjadi TIDAK PARADOKS
jika inputnya adalah 1/2 PERCAYA dan 1/2 TIDAK PERCAYA.

Salam,

Agung

Indonesia 2010

Rekan2x yth.,

Agaknya akan ada gambaran agak mengerikan pada tahun 2010:

Presiden RI adalah militer-Jawa

Anggota dewannya dipenuhi oleh para pelawak, penyanyi, dan pemain sinetron.

RSJ dipenuhi oleh caleg yang gagal. Tapi, disatu sisi, pendidikan bertambah baik mengingat gaji guru membaik. Begitu juga peneliti agaknya lumayan membaik; mungkin ketika itu Indonesia dikenal dengan citra ilmiah dan pendidikan yang cukup bagus.

Kekhawatiran kita adalah: apakah Presiden RI ini punya cukup keimanan untuk menghadapi godaan dunia di depan mata … mengingat terdapat potensi besar untuk menyetir para anggota dewan tersebut … ?

Wallahu`alam …

Salam, Agung

Assalamu`alaykum ww

Konon kabarnya Silicon-based electronic devices yang menggunakan MOSFET akan
berakhir pada 2012 (http://www.aep.cornell.edu/pdf/gox-comment.pdf). Sayangnya
Hukum Moore mengatakan, chip devices akan mengkerut ukurannya s/d tahun 2060
(http://barrett-group.mcgill.ca/teaching/nanotechnology/moore2.jpg).

Sependek pengetahuan saya, kandidat paling kuat adalah spintronics, sebagaimana
terdapat di artikel2x berikut dibawah.

{kalau berminat paper2xnya, dapat saya kasih}

Semoga revolusi teknologi yang satu ini, orang Indonesia dan umat Islam secara khusus, tidak ketinggalan. Melihat
kesungguhan Jepang, rasanya kita harus iri. Jagoan dibidang Quantum Computing
dan Spintronics, Jepang punya banyak pemain. Mereka punya banyak ahli yang
berkali-kali publish di Nature, Science, Physical Review Letter dsb.

The transmission of One of the central themes of this Special Issue is that 
engineers and scientists are now entering into a golden age of quantum
measurement theory and experiment. Today’s “informatic” technologies are
required to operate at maximum speed, and achieve maximum sensitivity, while
consuming minimal power. As the engineering community presses against the
quantum limits to speed, sensitivity, and power, they are scrutinizing the
physics literature for practical guidance on how to approach these limits. The
resulting cross-disciplinary fertilization is good for both physicists and
engineers.

{Scanning the issue special issue on spintronics
Wolf, S.A. Treger, D.M.
Strategic Analysis, Inc.;
This paper appears in: Proceedings of the IEEE
Publication Date: May 2003
Volume: 91, Issue: 5
On page(s): 647- 651
ISSN: 0018-9219
Digital Object Identifier: 10.1109/JPROC.2003.811809
Current Version Published: 2003-05-21}

“Perhaps the mechanism for driving the next new technology based
on semiconductor spintronics is already known, and among the wide
variety of interesting device physics effects produced from the past
decade of intensive research. It may now be time for circuit designers
and systems engineers to take a closer look at these demonstrated
mechanisms to see how a semiconductor spintronics architecture
should be assembled. Even if that is not yet possible, systems and
circuit engineers may greatly help the field of semiconductor
spintronics by identifying those areas that most need progress in
order to achieve a commercially viable technology.”

Nature Physics 3, 153 – 159 (2007)
doi:10.1038/nphy

Wassalamu`alaykum ww

Agung

Saya termasuk yang berpendapat David Widjaja tidak bunuh diri, melainkan dibunuh oleh seseorang (Profesornya?), sebagaimana banyak didiskusikan disini: 

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=1494815&page=115

Tidak selayaknya seorang anak terbaik bangsa ini diperlakukan seperti ini; HARUS DIBALAS !

http://arXiv.org/pdf/0903.0748v1

Ilmuwan dan Kebenaran

Di hari ini, seorang Ilmuwan identik dengan hidup yang nyaman. Apalagi kalau bidang yang digelutinya berkenaan dengan hal-hal yang bersifat basah, yang secara finansial didukung oleh pemerintah ataupun sangat ramai dipasaran.

Tapi, kalau kita mencoba melihat sejarah, ilmuwan-ilmuwan yang menjadi legenda, seringkali jauh sekali hidup nyaman seperti itu; sebutlah Galileo, Shahab_al-Din_Suhrawardi, Imam Hambali  dkk. Beliau-beliau ini contoh manusia2x yang rela membayar harga idealismenya dengan nyawa.

Ini agak mirip dengan jalan para Nabi, mulai dari Nabi Adam, Nabi Nuh, Nabi Isa s/d Nabi Muhammad SAW yang selalu penuh jalan onak dan duri; beliau2x ini adalah wakil Tuhan dimuka bumi, tapi nasib mereka ditakdirkan untuk selalu ramai dengan cacian dan cercaan, sebagaimana firman Allah SWT

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.”(QS. Al-Baqarah:214)

Disebabkan Ulama adalah pewaris para Nabi, agaknya Ulama tulen memang akan mengikuti garis nasib para Nabi untuk melalui jalan hidup yang agak tidak biasa dari manusia kebanyakan.

 Para Nabi dan Ulama memang seringkali tidak populer karena berseberangan dengan penguasa. Penguasa identik dengan kekuasaan dan kekayaan; oleh karenanya penguasa populer dikalangan masyarakat awam. Sayangnya seringkali penguasa identik dengan ketamakan, sehingga mereka dapat saja dengan seenaknya memanipulasi rakyat banyak demi kepentingan-kepentingannya.

Manipulasi dilakukan dengan uang dan kekuasaan, dengan cara menyebarkan fitnah kepada lawan-lawan politiknya. Lawan politik penguasa yang dzhalim adalah golongan Nabi dan Ulama.

Pertanyaannya … apakah ini masih berlaku di era sekarang?

Sayangnya ada asumsi demikian.

Topik yang paling panas adalah tentu penguasa dzhalim yang diperankan shadow government yang dapat menyetir Clinton, Bush dan Obama demi agenda-agenda mereka. Salah satu isunya adalah WTC 9/11: dengan dukungan dana yang unlimited, masyarakat kebanyakan dapat disihir untuk mempercayai bahwa runtuhnya 3 gedung WTC di 9/11 (yang ditabrak 2 pesawat) adalah murni disebabkan gaya gravitasi.

Dan seperti kita tahu pula, masyarakat dunia, AS secara khusus, perasaan mereka dapat dimanipulasi demi kepentingan Bush & Administration. Ingat Bush pernah didukung lebih dari 80 % rakyat AS demi suksesnya pembantaian rakyat Afghanistan dan Irak.

Kalau kita sudah menentukan penguasa dzhalimnya, yaitu Bush & Administration yang kemungkinan diteruskan oleh Obama, lalu siapakah Ulamanya?

Osama bin Laden?

Wallahu`alam …

{saya ragu beliau masih hidup atau sudah tewas sejak lama sebelum 9/11 2001.}

Kekurangan bukanlah Laknat

Ada seorang kawan saya menulis di facebook:

“Kemalasan menuliskan keluhan, adalah mereka yang tengah membangun cita-cita”

Konon kabarnya kalimat tersebut adalah sebuah pepatah dalam bahasa Jepang.

Jadi, sebuah kekurangan yang manusiawi, seperti kemalasan, dalam hal ini bukanlah sebuah cela, melainkan anugerah. Setiap keluhan yang kita tuliskan, selain akan menunjukkan betapa lemahnya kita terhadap keadaan, juga memberikan discouragement kepada para pembaca.

Saya tertarik kepada konsep ini: kekurangan bukanlah sebuah kekurangan atau laknat.

Setiap manusia pasti memiliki kelebihan atau kekurangan; ada manusia yang memiliki kelebihan harta, tapi kekurangan ilmu. Ada manusia yang memiliki kelebihan harta dan kelebihan ilmu, tapi memiliki kekurangan dalam mensyukuri nikmat yang diberikan Allah SWT. Sudah memiliki kelebihan harta, ilmu, ahli syukur, tapi ternyata tidak mampu berbahasa Jepang dan Ibrani.

Dst … hingga kalau kita lacak, kita semua ini adalah manusia yang penuh kekurangan dan serba lemah.

Di Al-Quran disebutkan bahwa manusia yang bertaqwa bukanlah manusia yang bebas dari dosa; manusia yang bertaqwa tetaplah manusia biasa yang memiliki dosa yang dapat ditolerir, tetapi jenis manusia ini mengiringi dosa kecil tersebut dengan taubat.

“Dan hanya kepunyaan Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (surga).”

“(Yaitu) orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Luas ampunan-Nya. Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (An-Najm:31-32)

Di ajaran Islam, para orang2x hebat seperti para sahabat Nabi SAW, memandang dosa mereka sebesar gunung, tapi melihat amalnya sekecil lalat. Sebaliknya, orang-orang yang tak berharga seperti kaum munafikin, memandang dosanya sekecil lalat tapi memandang jasa mereka sebesar gunung.

Sejarah menunjukkan, manusia hebat adalah manusia yang memandang dirinya nothing; Soichiro Honda pernah berkata:

“Success is 99 percent failure”

{Sependek pengetahuan saya ini harusnya perkataan Einstein}

Dengan memahami kekurangan diri kita, kita dapat belajar memperbaiki diri. Dan ini menjadi alasan juga mengapa kita tak layak sombong, karena ternyata di atas langit masih selalu ada langit.

Dan menjadi alasan juga menjadikan setiap orang guru (dan setiap jengkal tanah adalah sekolah)

Kata Mutiara Hari Ini

“hidup harus bersyukur, bersyukur masih bisa hidup…”

Iqbal Al-Fajri, Aktivis Salman ITB