Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Uncategorized’ Category

Rekan2x yth.,

Rasanya saya perlu menulis lagi mengenai etika dalam aktifitas blog.

Saya menulis ini dalam rangka menanggapi kecurangan yang dilalukan pemilik blog berikut:

http://ratuadilsatriapinandhita.wordpress.com/2007/10/04/islam-violence/

Dia dengan licik dan picik, mengedit tanggapan saya demi membenarkan sendiri  pendapat rasisnya mengenai agama Islam. Sungguh disayangkan memang, masih ada orang yang berpikiran yang sedemikian tidak warasnya.

Bagi saya, moderasi dalam blog atau milis, dilakukan untuk menyehatkan milis atau blog yang bersangkutan; bukannya untuk menyebarkan fitnah terhadap orang tertentu.

Sehingga jelas bagi kita, mengapa masyarakat kita terpuruk seperti sekarang; bahkan dalam berinternet pun, yang notabene dilakukan oleh segelintir masyarakat Indonesia, masih tidak beretika.

Sebagaimana yang dilakukan oleh sdr “ratuadilsatriapinandhita”.

Salam,

Agung

Read Full Post »

Alhamdulillah, hari ini saya resmi bergabung dengan komunitas “Qulink”( www.qis.ex.nii.ac.jp/qulink )

Read Full Post »

Curhat 6 Oktober

http://www.agungtrisetyarso.com/blog/wp-content/uploads/2007/10/curhat_6_okt.MP3

http://www.agungtrisetyarso.com/blog/?p=8

Rekan-Rekan yang semoga dirahmati Allah SWT.,

Curhat saya hari ini mengenai “pemandangan pulang dari TK di Jepang”.

Pemandangan yang menurut saya dapat menjadi pelajaran bagi masyarakat kita.

Terimakasih atas waktunya.

Read Full Post »

Unlimited Access

Rekan2x yth.,

Salah satu kenikmatan fasilitas di Keio adalah fasilitas teknologi informasi yang menurut saya sangat luar biasa. Koneksi internet disini sangat cepat, baik wireless maupun yang bukan.

Dan satu lagi, setiap kita ingin mengakses ke jurnal-jurnal internasional, kita mendapatkan unlimited access, selama kita memiliki account keio.

Di setiap kita mendowload Physical Review Letter, misalnya terdapat tulisan “Your access to PROLA is provided through the subscription of Keio Univ”

Bgmana dengan di ITB? Bgmana dengan Universitas2x lain?

Read Full Post »

Revolusi Para Marbot

Hadirin yang semoga dirahmati Allah SWT.,

Jika kita search di google kata berikut “Revolusi Marbot”, maka akan munculah blog ini pada ranking pertama.

Mimpi orang model seperti saya memang revolusi yang dibuat oleh para marbot. Agaknya di zaman seperti sekarang ini, hanya para marbotlah yang masih dapat didengarkan hati nuraninya. Para Kiai seringkali telah terjatuh kedalam jurang dunia, meskipun dengan ilmu yang setinggi langit.

Jika masih mendengar kejujuran, maka dengarkanlah para marbot. Marbot terbiasa bekerja dalam keadaan gelap dan sunyi, sehingga para marbot dekat dengan Allah SWT. Ini kontras dengan para kiai selebriti, yang terbiasa bekerja dalam terangnya media massa dan gegap gempitanya dunia.

Allah SWT telah menetapkan, para marbotlah penjaga alam semesta ini hingga hari akhir; alam semesta akan berakhir ketika tiada lagi marbot di muka bumi ini. Alam semesta tidak akan hancur sekalipun para kiai absen dari panggung media massa maupun panggung politik.

Akhirul kalam, semoga para marbot di Indonesia dapat menggebrak dunia, sebagaimana para biksu di Myanmar yang mulai bersuara melawan kedzhaliman.

Amiin.

Read Full Post »

(Ditulis sebagai tanggapan http://kramput.blogspot.com/2007/08/kepada-ibu-ivonne.html . )

Rekan-Rekan yth.,

Kalimat di atas bukanlah kalimat bersayap atau mengada-ada; tapi itu adalah kalimat yang menunjukkan perasaan saya sesungguhnya hari ini. Rasanya jarang kita dapat merasakan hal serupa di negeri sendiri.

Hari ini saya dihukum oleh Ibu Misaki-Sensei, karena mendapatkan Quiz I pada kelas bahasa Jepang dengan angka dibawah 10 pada skala 100. Yang bernasib serupa dengan saya adalah Rahman, teman seangkatan saya yang berasal dari India. Maklum, kami masuk ke Universitas Keio melalui program IGP (International Graduate Program), yang tidak terlalu mensyaratkan bahasa Jepang. Selain itu, ada beberapa hal yang harus kami urus di beberapa hari ini.

Kembali ke topik: hari ini saya bahagia banget dihukum Misaki-Sensei.

Misaki-Sensei mengatakan bahwa setelah kelas selesai, dua anak yang mendapatkan nilai terendah harus tetap di kelas. Karena beliau guru yang kawakan, yaitu sangat berpengalaman mendidik dalam arti sesungguhnya, maka hukuman tersebut dapat kami terima dengan senang hati. Tidak ada suasana stres dan menegangkan di dalam kelas; semuanya berlangsung relax. Banyak ketawanya.

Hukuman pun dibuat dengan sangat cerdas oleh Misaki-Sensei; tujuan dari hukuman perlu disadari adalah hanyalah salah satu bagian kecil dari tujuan global pendidikan itu sendiri, yaitu agar murid mengerti dengan baik mata pelajaran yang diajarkan. Sehingga hukuman dibuat tidak untuk melampiaskan nafsu guru yang membuat murid menjadi frustasi; sebagaimana sering kita temui di dalam negeri.

Hukuman yang kami terima adalah kami mengerjakan Quiz yang serupa, dengan melihat buku (Opened Book); dari 12 soal, kami diminta mengerjakan 5 soal secara opened book. Kemudian buku ditutup, dan kami diminta mengerjakan soal secara closed book. Begitu seterusnya, hingga kami mengerti sehingga kami dapat mengerti dengan baik setiap jawaban pada Quiz tersebut.

Kelas pun juga berakhir dengan berbahagia.

Kemarin pun saya melihat pemandangan yang juga menakjubkan.

Grup Prof. Kohei M. Itoh kemarin berkumpul dan mencoba mempresentasikan riset-riset apa saja yang telah dilakukan selama ini didepan salah seorang Professor dari Prancis (Professor J.M.Gillet dari Ecole Centrale, Paris).

Yang presentasi di depan Prof. Gillet bukanlah Professor peraih hadiah Nobel atau Prof sekaliber Prof. Itoh, melainkan mahasiswa-mahasiswa S1-nya.

Jangan pula dibayangkan bahwa bahasa inggris mereka luar biasa; bahasa inggrisnya sangat acak-acakan daripada bahasa inggrisnya mahasiswa kita.

Tapi, hebatnya grup ini adalah pada *bimbingan yang luarbiasa* dari Prof. Itoh ke murid-muridnya. Murid2x tersebut dituntun dengan sabar, tanpa ada cacian, sehingga mahasiswa2x mereka tidak menjadi frustasi. Presentasi pun berjalan dengan lancar, banyak ketawanya, tanpa menghilangkan makna presentasi tersebut.

Memang sangat sulit bagi saya menceritakan keindahan seluruhnya proses pendidikan disini; ada baiknya memang dosen-dosen dan guru-guru di Indonesia mengundang langsung mereka ke indonesia, untuk merasakan secara langsung.

Yang saya ingin tunjukkan adalah ternyata belajar dapat tidak identik dengan frustasi. Belajar di kelas dapat menjadi sangat menyenangkan, asalkan sistem pendidikan di institut tersebut berjalan dengan baik.

Ini yang rasanya perlu diselesaikan di indonesia; lingkaran frustasi di negeri kita agaknya mesti diputus.

Guru frustasi karena sedikitnya penghargaan dan gaji.

Kemudian, hal ini dilampiaskan kepada murid; pelampiasan ini berupa memberi hukuman yang membuat murid frustasi.

Murid yang frustasi melampiaskan hal ini kepada yuniornya atau kepada masyarakat (termasuk kepada guru).

Maka terjadilah lingkaran frustasi yang tiada berujung.

Dapatkah lingkaran frustasi ini dihentikan? Saya yakin dapat. Itoh-Sensei, Misaki-Sensei dkk dapat membuktikan hal tersebut.

Salam dari Hiyoshi,

Agung Trisetyarso

Read Full Post »

Rekan2x,

Hari ini saya agak dikejutkan oleh adanya pembajak nama saya di beberapa blog, contohnya di http://www.merlyna.org/blog/index.php/2007/a-new-course-globalization-and-livable-cities/

Well, seperti kata Aa Gym, mungkin kita perlu berterimakasih kepada yang bersangkutan, karena sudah meluangkan waktu untuk mengetik dan memperhatikan diri kita, padahal yang bersangkutan tidak dibayar.

Jadi ingat kisah masuk islamnya Abu Dzar Al-Ghifari.

Beliau masuk islam, setelah mendengar adanya orang gila bernama Muhammad dari orang-orang Quraisy ketika itu.

Abu Dzar adalah seorang yang skeptis; beliau tidak mau percaya begitu saja isu tersebut. Maka dari itu dikunjungilah `orang gila` tersebut.

Setelah bertemu, nyatalah bagi Abu Dzar bahwa orang yang bernama Muhammad tidak seburuk yang dikatakan orang. Jangankan berucap, melihat wajah Muhammad saja sudah membawa kesejukan tersendiri. Pada saat itulah Abu Dzar menyatakan keislamannya.

Belajar dari kasus Abu Dzar, ternyata kita perlu bersyukur ketika Allah mentakdirkan kita telah dimusuhi orang; bisa jadi musuh kita tersebut adalah agen marketing yang tidak perlu kita bayar.

Jadi, nikmatilah cacian atau ejekan orang.

Nikmatilah hidup.

Read Full Post »

Seorang Profesor yang sudah dinyatakan akan meninggal dalam beberapa bulan, memberikan kuliah terakhirnya …

Speechless …

(Thanks to Roby Muhammad)

http://video.google.com/videoplay?docid=362421849901825950&hl=en

Read Full Post »

Kebangkitan sains Iran?

http://www.sciencemag.org/cgi/content/full/309/5731/36a

http://www.boston.com/news/world/middleeast/articles/2006/08/22/iran_looks_to_science_as_source_of_pride/

Thanks to Roby Muhammad

Read Full Post »

Sistem Politik Berbasis Duit

(Tulisan ini adalah salah satu rangkaian diskusi dalam sebuah milis. Silakan lihat di kolom “komentar” (comment))

Coba pikirkan, berapa banyakkah guru dan dosen yang dapat bersuara di DPR?

Setahu saya sih gak ada karena memang gak mungkin.

Untuk menjadi wakil rakyat di dari PKS, yang dikenal partai yang relatif bersih, itu mesti menyediakan dana sekitar 10 jutaan. Uang itu dimaksudkan sebagai uang kampanye, membantu kampanye yang dilakukan partai.

(Bagi guru yang jujur, 10 juta mending untuk beli motor!)

Kalo di GOLKAR, harus sedia di atas 50 juta; untuk setori ke DPD, DPP dsb, plus uang kampanye.

(Maka dari itu Bupati Majalengka yang sekarang pernah pinjam 3,5 miliar untuk hal-hal ini)

Partai lain yang GOLKAR-like, seperti PDIP, Demokrat, dsb, ya … bermodus seperti GOLKAR bahkan lebih parah.

Jadi, ya, … tidak mungkinlah Guru atau Dosen jadi anggota DPRD, DPR dsb.

Selain kagak punya duit, saya yakin masih banyak Guru dan Dosen yang masih punya hati nurani, sehingga gak bersedia bersedia ikut-ikutan sistem begituan.

Itulah sebabnya gak ada Guru dan Dosen (yang jujur) yang bisa menembus DPR dan MPR.

Nah … hadirin silakan memilih deh, apakah sistem politik kita akan kita biarkan berjalan seperti sekarang ini, yaitu sistem politik tanpa melibatkan hati nurani yaitu cuma berbasis duit semata, atau kita memperjuangkan sistem politik baru yang lebih menyuarakan hati nurani.

Wass.,

Agung

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »